`Istriku kaya, ngapain aku capek-capek kerja segala`

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 27 Apr 2020

`Istriku kaya, ngapain aku capek-capek kerja segala`

Istri lebih kaya dari suami - Image from simponinews.com

Kenali calon suamimu sebelum menikah.

Ukuran seorang pria,itu bukanlah berapa ia punya penghasilan dan bisa mengendalikan keluarganya. Yang membuat lelaki menarik, adalah karakternya menghadapi masalah hidup. 

Jangan seperti sifat suami dalam kisah ini yang seolah menyerah dan tak mau mengembangkan diri hanya bergantung pada istri yang malah menjadi tulang punggung.

Apakah pernikahan sepahit dan sebegitu menantangnya seperti yang ada di drama-drama Korea?

Tampaknya memang demikian, setidaknya inilah yang terjadi pada kisah suami-istri yang sedang banyak diperbincangkan di media sosial ini.

Dibagikan di Twitter oleh akun @kakfarras, kisah ini mengangkat kisah klasik istri yang lebih maju dan sukses secara finansial dibandingkan suami.

Hingga Senin siang (27/4), kisah ini sudah memperoleh lebih dari 18.200 retweet dan 36.200 likes dari pengguna Twitter.

Singkatnya begini, ada seorang perempuan yang sudah hidup mandiri sejak masih muda, kemudian ia menikah. 

Namanya wanita karir pastilah ingin mengembangkan bisnis. Tapi ternyata, semangatnya untuk mengembangkan bisnis ini, membuatnya menjadi tulang punggung bagi keluarga. 

Di sisi lain, sang suami justru berhenti bekerja dan tak banyak membantu. Akhirnya seluruh kebutuhan keluarga, termasuk kebutuhan keluarga besar dari pihak suami, ditopang juga oleh sang istri. 

Kemudian seperti yang sudah bisa kita tebak, keluarga suami bukannya berterimakasih, malah menuding sang istri sebagai penyebab suami makin tak berkembang dan merasa tertekan. 

"Kadang gue menyesal kenapa secepat itu menikah," ujar perempuan tersebut dalam curhatannya.

"Gue cuma bisa bilang ke teman-teman benar-benar kenali calon pasangan sebelum menikah." lanjutnya.

Sebelum kisah ini, sempat viral juga pasangan suami-istri yang tinggal bersama ibu dari sang suami. Diceritakan istri sudah mapan sejak sebelum menikah, bahkan sudah punya rumah sendiri, yaitu rumah yang kini mereka tinggali bersama.

Akan tetapi pertengkaran kerap terjadi lantaran si mertua merasa istri malas, karena tak mau membantu pekerjaan rumah tangga sebelum dan sesudah bekerja di kantor.

Bahkan mertua menyuruh anaknya untuk tidak memberikan uang ke istri karena akan membuat dia semakin malas. Baca kisah selengkapnya disini.

Baca Juga: Aku Benci Poligami, Apakah Aku Istri yang Kafir?

Yang menyita banyak perhatian dari Twitter diatas adalah sudut pandang sang pengirim untuk suami dan istri. Buat suami, kata dia, jangan merasa tertekan dan rendah diri jika memiliki istri yang lebih sukses.  

Ukuran seorang pria, katanya, bukanlah seberapa ia punya penghasilan dan bisa mengendalikan keluarga.

Dan yang membuat lelaki menarik, kata dia, adalah karakternya dalam menghadapi masalah hidup. 

Dan kedua sifat itu, sepertinya tidak dimiliki oleh suami dalam cerita ini, yang malah menyerah dan tak mau mengembangkan diri sehingga membuat istrinya kesal.

Sebaliknya buat para perempuan, kata dia, jangan mencari jodoh karena terpesona hal-hal yang mendasar saja, misalnya seperti rajin ibadah atau dalam kasus ini orangnya penyabar.

Tapi lihat juga bagaimana karakternya, bagaimana dia kalau marah, seperti apa dia mengatur keuangan, dan bagaimana hubungan dia dengan orang tuanya.

Cerita ini pun tak elak mendapat banyak komentar dari warga Twitter, ada yang merespon dengan kritikan hingga memberikan semangat terhadap wanita yang ada di dalam cerita tersebut. 

Saat istri lebih kaya dari suami

Dalam agama Islam, sudah disebutkan dengan sangat jelas bahwa nafkah menjadi tanggung jawab kaum lelaki, dalam hal ini suami atau ayah.

Bukan saja hanya dalam tinjauan Islam, namun secara akal sehat dan norma yang berkembang di masyarakat pun, mendudukkan suami atau ayah sebagai kepala keluarga. Jadi, dialah yang paling bertanggung jawab atas nafkah keluarga.

Ulama fiqih sepakat, memberikan nafkah untuk istri merupakan hal yang wajib dilihat dari sisi hukum.

Begitulah yang terjadi dengan adanya akad nikah, telah menetapkan hak-hak istri yang harus dipenuhi oleh suami.

Oleh karena itu, nafkah merupakan kewajiban bagi suami untuk memenuhinya, meskipun istrinya merupakan orang kaya, baik muslimah atau bukan.

Sebab perkara yang mewajibkannya adalah perkawinan yang sah, dan hal ini merupakan perkara yang sudah jelas.

Baca Juga: Rumah Tangga Tanpa Masalah, Memangnya Ada?

Adapun landasan kewajiban ini adalah nash Al-Qur`an, as-Sunnah, Ijma’, dan dalil shahih.

Bahkan banyak pula ayat Al-Qur`an yang telah menetapkan, bahwa kewajiban memberi nafkah keluarga itu berada di atas pundak seorang suami atau ayah, dan bukan orang lain.

Allah Ta'ala berfirman yang artinya: 

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (QS. An-Nisa ayat 34).

Pada ayat diatas, Allah telah menetapkan kepemimpinan kaum laki-laki atas kaum wanita.

Setelah itu, Allah membebaninya dengan beberapa perkara, di antaranya adalah tanggung jawab laki-laki untuk memberi nafkah kepada istri dan bersedia memberikan hartanya untuk tujuan itu.

Maka ayat yang mulia ini menunjukkan tuntutan kepada suami untuk memberi nafkah kepada sang istri.

Sedangkan salah satu dalil dari as-Sunnah, yang menunjukkan kewajiban suami untuk memberi nafkah istri sangat jelas, dan jumlahnya sangatlah banyak.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di depan para sahabat dengan bersabda:

 فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ … وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ 

Artinya: “Bertakwalah kalian kepada Allah terhadap istri-istri kalian. Sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan perlindungan dari Allah . . . Dan hak mereka (yang menjadi kewajiban) atas kalian adalah (memberi) makan dan pakaian dengan cara yang baik”. (HR Muslim, no. 1218).

Dalam hadits tersebut, terdapat anjuran untuk memperhatikan hak para wanita serta wasiat untuk berinteraksi dengan cara-cara yang baik.

Lafazh “lahunna” dalam dalil diatas memberikan pengertian, bahwa hak nafkah sudah menjadi ketetapan yang harus dipenuhi, sehingga menjadi wajib atas seorang suami menjalankan hak-hak istri, di antaranya yakni memberi nafkah. 

Pengkhususan penyebutan makanan dan pakaian, sebab dua hal ini merupakan kebutuhan yang sangat penting.

Baca Juga: Orangtua Harus Sadar, ini Sebab Anak Jadi Durhaka

Begitu jelasnya dua dalil di atas, menunjukkan bahwa suamilah yang bertanggung jawab mencari nafkah, bukan istri!

Ibnul-Qayyim rahimahullah bahkan sudah menyatakan bahwa berdasarkan Ijma’ ulama, maka suamilah yang memberi nafkah anak-anak, tanpa dibarengi oleh istri.

Secara akal sehat juga bisa kita pahami bahwa suamilah yang bertanggung jawab atas “dapur” rumah tangganya.

Sebab, dalam pengaturan urusan di dalam rumahnya, banyak beban yang telah dijalankan oleh kaum wanita (istrinya), seperti mengerjakan pekerjaan rumah, mengasuh anak, dan lainnya.

Maka sudah sewajarnya dan sebagai keharusan bagianya untuk menerima nafkah dari suami. Kesibukannya di rumah, seharusnya mendapatkan balasan secara timbal-balik dari suami.

Allah Ta'ala menghendaki untuk mengistimewakan kaum laki-laki dengan badan yang lebih kokoh.

Oleh sebab itu, kaum lelaki yang dilebihkan secara fisik, ia semestinya memiliki tanggung jawab untuk menghidupi keluarga.

Kehidupan keluarga itu sendiri terbagi menjadi pekerjaan yang bersifat eksternal dan internal.

Seorang laki-laki dibebani dengan pekerjaan di luar rumah, sedangkan perempuan dituntut mengerjakan tugas-tugas di dalam rumahnya.

Nah, dengan penjelasan ini, maka menjadi jelas bahwa memperhatikan tugas-tugas sesuai bagiannya, akan menjaga kehormatan bagi sebuah keluarga.

Jangan sampai kehormatan dan nama baik keluarga terkoyak, hanya karena nahkoda bahtera rumah tangga lalai menjalankan tugasnya.

Hendaklah manusia itu senantiasa bersikap mulia dan berlaku jujur, khususnya suami (atau ayah). Karena ia adalah orang yang memegang kendali rumah tangga.

Sehingga seorang suami, semestinya melakukan muamalah dengan cara yang baik terhadap keluarganya. 

Bersikap kurang adil terhadap keluarga hanya akan menciptakan dosa bagi para suami atau ayah.

Semoga Allah Ta'ala memperbaiki kondisi keluarga kaum Muslimin pada umumnya. Aamiin.

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb