Bertahun-tahun Hidup Susah Seperti ini, Harga Mie Sekardus Saja 1 Juta

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 04 Jul 2020

Hidup di pedalaman - wajibbaca.com


Sedih melihat saudara kita yang masih sangat kekurangan

Tidak hanya kali ini saja, namun sudah sejak bertahun-tahun lalu. Kebutuhan pokok yang hampir tidak ada, adapun harganya selangit, harga mie satu kardus seperti harga emas, beras pun juga begitu. 

Masyarakat suku Korowai, sangat bergantung dengan penambangan emas tradisional yang berada di wilayah Korowai, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. 

Meski berada di Kabupaten Pegunungan Bintang, wilayah Korowai diapit oleh empat kabupaten lain, yakni Kabupaten Yakuhimo, Kabupaten Asmat, Kabupaten Boven Digooel, dan Kabupaten Mappi. 

Salah satu lokasi tambang di Korowai, Papua - Image from regional.kompas.com

Tapi, akses transportasi ke wilayah terisolir tersebut sangat terbatas. Cara tercepat adalah menggunakan helikopter dari Kabupaten Boven Digoel. 

Butuh waktu sekitar satu jam penerbangan untuk mencapai wilayah itu. Atau, warga bisa menggunakan logboat dari Boven Digoel selama satu hari perjalanan. 

Kemudian, dilanjutkan berjalan kaki selama dua hari perjalanan menuju kawasan penambangan rakyat korowai.

Harga Kebutuhan Pokok 

Di lokasi yang terisolir itu harga bahan pokok terbilang cukup mahal. Di kawasan tambang emas tradisional di Korowai, tepatnya di Maining 33, Distrik Kawinggon, Pegunungan Bintang, harga satu karung beras berukuran 10 kilogram bisa mencapai Rp 2 juta. 

"Beras 10 kilogram itu emas empat gram, kalau dibeli dengan uang, satu karung itu harganya Rp 2 juta," kata salah satu pengelola Koperasi Kawe Senggaup Maining Hengki Yaluwo di Korowai, seperti dikutip dari Antara Rabu (1/7/2020). 

Hengki menyebut, harga beras tersebut tidak jauh berbeda dengan harga di puluhan lokasi tambang rakyat lainnya di wilayah Korowai. Tak cuma beras yang mahal, harga mi instan dan bahan pokok lainnya juga mahal. Bahkan satu kardus mi instan dijual seharga Rp 1 juta. 

"Mi instan satu karton kalau ditukar dengan emas itu, dua gram, satu karton Rp 1 juta, satu bungkus Rp 25.000," kata Hengki.

Selain itu, ikan kaleng berukuran besar dijual seharga Rp 150.000. Harga kebutuhan lainnya juga terbilang cukup tinggi.

Hengki menyebut salah satu contohnya adalah emas. Harga ponsel tergantung merek dijual bisa mencapai 10 gram sampai 25 gram emas. Bergantung hidup dari tambang emas Wilayah Korowai, Kabupaten Pegunungan Bintang, masih terisolir dan tertinggal. 

Kawasan itu tak tersentuh oleh pembangunan pemerintah. Salah satu pemilik dusun Kali Dairam Korowai di Maining 33, Ben Yarik mengatakan, suku Korowai merupakan penghuni asli kawasan itu.

"Bertahun-tahun pemerintah tidak pernah membangun Korowai, Tuhan yang memberikan hasil emas bagi kami, sehingga kami bisa menambang dan membantu kami," kata Ben. 

Ben mengatakan, tambang emas tradisional jadi salah satu sumber nafkah masyarakat setempat. Ia berharap pemerintah tak menutup sumber kehidupan masyarakat itu. 

Sebab, kawasan tambang tradisional itu menghidupi ekonomi masyarakat di wilayah Korowai.

"Kasihan ini, banyak masyarakat tidak lagi diperhatikan dan terus tertinggal. Selagi masih ada emas yang menjamin," ujarnya.

Begitulah kondisi di wilayah terpencil di Papua, semoga segera bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dan ingatkank kepada kita untuk bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT hingga saat ini. 

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb