Doa Takziah dan Adab Ketika Takziah

 08 Nov 2019  Isfatu Fadhilatul

Doa Takziah dan Adab Ketika Takziah

Ilustrasi takziah - Image from dih.unsyiah.ac.id

Ketika takziah apakah cukup dengan mengungkapkan bela sungkawa saja? Tentu tidak. Kita juga harus membaca doa takziah.

Ketika ada orang yang meninggal, kebiasaan masyarakat Indonesia adalah melakukan takziah. Secara garis besar, takziah adalah menengok atau melayat orang yang wafat.

Takziah dilakukan untuk mengungkapkan perasaan bela sungkawa. Ketika takziah, kebanyakan dari kita pasti membawa bawaan seperti beras atau gula yang ditujukan untuk bersedekah kepada keluarga orang yang meninggal dunia.

Namun daripada membawa bawaan, hal yang lebih baik kita lakukan ketika takziah adalah berdoa. Dan berikut dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang doa takziah kematian.

Doa Takziah

Secara istilah, takziah adalah menghibur. Yang mana artinya kita menghibur keluarga yang ditinggalkan agar diberi ketabahan dan keikhlasan. Pada saat takziah, biasanya kita akan membaca doa tahlil dan yasin yang dikhususkan untuk mayit. Baca  disini : Bacaan Tahlil Lengkap Bahasa Arab Latin dan Artinya

Nah, selain membaca tahlil dan yasin, kita juga dianjurkan untuk membaca doa
ta'ziyah. Dan berikut lafadz doa takziah Arab, latin, dan terjemahannya : 

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى…فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

INNA LILLAAHI MAA AKHOZHA, WALAHU MAA A'THOO WAKULLU SYAI'IN 'INDAHU BI-AJALIN MUSAMMAA ... FALTASHBIR WALATAHTASIB

Artinya : "Sesungguhnya bagi Allah apa yang Dia ambil dan baginya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu baginya ada memiliki masa-masa yang telah ditetapkan, hendaklah kamu bersabar dan mohon pahala (dari Allah)". (HR. Bukhari dan Muslim)

Atau bisa juga dengan doa ketika takziah berikut :

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ

A'DZOMALLAAHU AJROKA, WA AHSANA 'AZAA AKA WAGHOFARO LIMAYYITIKA

Artinya : “Semoga Allah memperbesar pahalamu, dan kamu bisa berkabung dengan baik serta mayatnya diampuni oleh Allah“. (HR. Bukhari dan Muslim)

Atau Anda bisa menggunakan doa takziyah yang berasal dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

اِصْبِرْ وَاحْتَسِبْ فَإِنَّ ِللهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مَسَمًّى.

Artinya : "Bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah, sesungguhnya adalah hak Allah mengambil dan memberikan sesuatu, segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang telah ditentukan". (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga : Doa Untuk Mayit Laki-Laki dan Perempuan

Adab Ketika Takziah

Selain mengucap doa takziah, ketika melayat kita juga harus memperhatikan adab-adabnya, antara lain adalah :

1. Tidak bertakziyah lewat media informasi.

Bertakziyah dengan cara mengucap belasungkawa di media seperti koran, surat kabar, majalah atau media informasi lainnya adalah perilaku yang tidak pantas, karena termasuk dalam pemberitahuan kematian yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena maksud dan tujuan dari takziyah tersebut adalah untuk menyebarkan, mempublikasikan dan mengumumkan kematian seseorang.

2. Diperbolehkannya safar.

Safar berarti melakukan perjalanan, diperbolehkan bagi orang yang sangat dekat hubungannya dengan si mayit untuk safar dalam rangka takziyah. Karena apabila dia tidak pergi untuk takziyah, maka ia akan dianggap memutuskan tali silaturahmi.

3. Diperbolehkan mengabarkan kematian kepada khalayak ramai.

Diperbolehkan bagi kita untuk mengabarkan kepada khalayak ramai bahwa seseorang telah meninggal dan akan dishalatkan di tempat tertentu. Dalam keseharian kita, biasanya kabar tersebut disampaikan di masjid atau musholla.

Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memberitahukan kematian an-Najasy (Raja Najasyi), kemudian beliau memerintahkan para Sahabatnya untuk keluar ke tanah lapang kemudian menshalatkannya.

4. Jika mayit adalah kafir, maka tidak dishalatkan.

Apabila ada keluarga terdekat mayit yang mengetahui bahwa si mayit tidak shalat, maka tidak boleh baginya meminta kaum Muslimin untuk menshalatkan si mayit karena ia telah membiarkan kaum muslimin untuk menyalatkan orang kafir.

Selain itu, shalat yang dilakukan oleh kaum Muslimin tersebut tidak akan bermanfaat bagi si mayit. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah, tidak boleh menguburkan si mayit di kuburan kaum Muslimin.

5. Perempuan lebih baik shalat untuk mayit di rumah.

Lebih baik ketika seorang perempuan ingin shalat atas mayit, ia melaksanakannya di dalam rumahnya daripada di masjid, terlebih lagi jika ia termasuk salah satu anggota keluarga si mayit tersebut. Namun diperbolehkan jika ia keluar rumah dan menshalatkannya bersama dengan kaum Muslimin.

Baca Juga : Cara Sholat Jenazah Paling Ringkas Beserta Langkah-Langkahnya

6. Dianjurkan untuk menyegerakan mengurus mayit.

Hal ini sesuai dengan dalil berikut,

أَسْرِعُوْا بِالْجَنَازَةِ فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ لَهُ فَخَيْرٌ تُقَدِّمُوْنَهَا، وَإِنْ تَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُوْنَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ.

Artinya : “Bersegeralah dalam mengurus jenazah, karena jika ia baik maka engkau telah melakukan suatu kebaikan dan jika tidak, maka engkau telah membuang suatu kejelekan dari lehermu.” (HR. Al-Bukhari no. 1315 dan Muslim no. 944)

Tidak dianjurkan bagi kita untuk menunda-nunda dalam hal mengurus jenazah, apalagi hanya dengan alasan agar semua anggota keluarga bisa menghadiri pemakaman si mayit, kecuali jika hanya membutuhkan waktu yang sebentar.

Namun jika keluarga si mayit datang terlambat setelah dikubur, maka boleh hukumnya menshalatkan si mayit di kuburannya.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyalatkan seorang wanita (yang biasa membersihkan masjid Nabi) di kuburannya, yang mana sebelumnya beliau tidak diberi tahu tentang kematian wanita tersebut, maka beliau berkata (kepada para Sahabatnya) :

دُلُّوْنِيْ عَلَى قَبْرِهَا، فَدَّلُوْهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا.

Artinya : “‘Tunjukkan padaku makamnya.’ Lalu mereka menunjukkannya kemudian beliau menyalatkannya di kuburannya.” (HR. Al-Bukhari no. 458 dan Muslim no.956)

7. Tidak melaksanakan doa berjamaah di samping kuburan si mayit.

Melaksanakan doa berjamaah di sisi kuburan yang mana dipimpin oleh satu orang dan diaminkan banyak orang, bukanlah termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan pula sunnah para Khulafaur Rasyidin.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengantarkan jenazah, untuk berdoa meminta ampunan bagi si mayit dengan cara dilakukan sendiri-sendiri dan bukan secara bersama-sama.

8. Tidak memakai pakaian tertentu.

Dalam masyarakat kta, ada kebiasaan dimana memakai baju hitam atau putih ketika takziah, padahal hal tersebut tidak disyariatkan. Bahkan hal ini termasuk perbuatan bid’ah. Apakah bid'ah itu? Baca disini : Bid'ah Adalah : Pengertian Bid'ah, Agar Kita Tak Gampang Membid'ahkan

9. Tidak boleh bertakziah kepada orang kafir.

Umat islam tidak diperbolehkan untuk bertakziah kepada ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) ataupun orang kafir lainnya ketika ada keluarga mereka yang meninggal, dan tidak boleh pula bagi kita untuk menghadiri jenazahnya ataupun mengiringinya ke kuburan.

10. Diperbolehkan menerima takziah dari orang kafir.

Diperbolehkan bagi kita untuk menerima taziyah dari ahlul Kitab (Nasrani dan Yahudi) atau orang kafir lainnya ketika ada keluarga kita yang muslim meninggal dunia, selain itu kita juga mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah Allah SWT. (Lihat Fatwa at-Ta’ziyah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah).

Demikianlah artikel tentang doa takziah dan adab ketika takziah ini, semoga bermanfaat.