Bid'ah Adalah : Pengertian Bid'ah, Agar Kita Tak Gampang Membid'ahkan

 23 Oct 2019  Isfatu Fadhilatul

Bid'ah Adalah : Pengertian Bid'ah, Agar Kita Tak Gampang Membid'ahkan

Ilustrasi bid'ah - Image from www.an-najah.net

Bid'ah adalah perbuatan tanpa contoh, lalu adakah bid'ah yang baik?

Seringkali kita mendengar kata bid'ah baik ketika berada dalam majelis ceramah, maupun ketika mempelajari hadits riwayat. Akan tetapi tidak sedikit dari kita yang tidak mengetahui apa itu bid'ah.

Ketidaktahuan kita tersebut dapat membuat kita bingung, dan seringkali salah dalam memahami hal yang bukan bid'ah namun dinyatakan bid'ah, dan juga sebaliknya.

Lalu apa sebenarnya bid'ah itu? Berikut pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai bid'ah dan sedikit menjawab mengenai salah kaprah tentang bid'ah yang selama ini sering kita alami.

Pengertian Bid'ah

Menurut wikipedia Indonesia, bid'ah adalah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Secara linguistik, istilah ini memiliki arti inovasi, pembaruan, atau doktrin sesat.

Sedangkan menurut islam, bid'ah berasal dari kata bida’ yakni mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Jadi bid'ah adalah bentuk perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah atau yang tidak terdapat dalam aturan islam khususnya dalam masalah ibadah, yang berhubungan langsung kepada Allah SWT.

Menurut ulama besar Imam Asy-syatibi, bid’ah adalah bentuk ibadah atau perilaku yang menyerupai ajaran agama islam namun tidak sesuai dengan syariat atau tidak terdapat dalilnya secara tepat. Adapun pengertian lain dari bid’ah yaitu mengada-ngada bentuk ibadah atau syariat agama. Tentu saja, hal ini tidak diperbolehkan dalam islam.

Bid'ah dalam pelaksanaannya, tentu dilarang dan diharamkan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah : “Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan urusan tersebut, maka perbuatannya akan tertolak atau diterima.”

Pada hadist lain, Rasulullah juga menyampaikan bahwasanya pelaku bid'ah yang amalannya tidak didasarkan kepada urusan kami (agama Islam, sunnah Rasulullah) maka perbuatannya akan ditolak.

Baca Juga :
1. Di Zaman Rasulullah Tidak Ada Imsak, Apakah Imsak Itu Bid'ah ?
2. Sejarah Maulid Nabi, Masihkah Disebut Bid'ah Bila Sejarahnya Seperti ini?
3. Sholat Balak dan Berdoa Ketika Hari 'Rabu Wekasan' Termasuk Bid'ah, Benarkah?

Adakah Bid'ah yang Baik?

Mengapa bid'ah itu dilarang? Karena islam merupakan agama yang sempurna. Jadi, Allah telah memerintahkan kita untuk menyerukan Islam yang mana tidak perlu adanya perubahan atau hal lainnya pada agama Islam yang perlu dirubah oleh manusia.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Maidah ayat 3,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu niKmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Banyak orang yang salah kaprah dalam menilai manakah bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Kadang kala yang sebenarnya bid’ah sayyi’ah dianggap sebagai bid'ah hasanah 

Berikut akan kami terangkan perbedaan bid'ah sayyi'ah dan bid'ah hasanah 

Bid'ah hasanah adalah bid'ah yang dianggap baik, sedangkan bid'ah sayyi'ah adalah bid'ah yang dianggap jelek.

Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

"Setiap bid’ah bukan wajib dan bukan sunnah, maka ia termasuk bid’ah sayyi’ah. Bid’ah termasuk bid’ah dholalah (yang menyesatkan) menurut sepakat para ulama. Siapa yang menyatakan bahwa sebagian bid’ah dengan bid’ah hasanah, maka itu jika telah ada dalil syar’i yang mendukungnya yang menyatakan bahwa amalan tersebut sunnah (dianjurkan). Jika bukan wajib dan bukan pula sunnah (anjuran), maka tidak ada seorang ulama pun mengatakan amalan tersebut sebagai hasanah (kebaikan) yang mendekatkan diri kepada Allah".

Jadi, barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah dengan sesuatu yang bukan kebaikan yang diperintahkan kepadanya wajib atau sunnah, maka dia telah berbuat sesat.

Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا وَخَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إلَيْهِ

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan pada kami jalan yang lurus, lalu di samping kanan kirinya terdapat jalan. Lalu beliau mengatakan mengenai jalan yang lurus adalah jalan Allah dan cabang-cabangnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala".

Hal tersebut juga telah disebutkan oleh Allah SWT dalam firmannya,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Artinya : “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya” (QS. Al An’am: 153)

Adapun sesuatu hal akan menjadi bid'ah apabila :

  1. Amalan tersebut baru, dan dibuat-buat adanya.
  2. Amalan tersebut disebutkan sebagai bagian dari ajaran agama.
  3. Amalan tersebut tidak memiliki landasan dalil baik dari dalil yang sifatnya khusus atau umum. (Qowa’id Ma’rifatil Bida’, Muhammad bin Husain Al Jizaniy, hal. 18)

Demikian artikel tentang bid'ah ini, semoga bermanfaat. Dan semoga kita merupakan golongan orang-orang yang dapat menjauhi bid'ah.