Difteri: Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Penanganannya

 28 Nov 2019  Isfatu Fadhilatul

Difteri: Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Penanganannya

Ilustrasi difteri - Image from www.idntimes.com

Difteri: Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Penanganannya Yuk, cari tahu apa itu difteri, penyebab, gejala, dan penanganannya disini.

Difteri adalah infeksi bakteri yang terjadi pada hidung dan tenggorokan. Meskipun tidak selalu menimbulkan gejala, namun apabila difteri tidak ditangani dengan tepat, maka bisa mengeluarkan racun yang mampu merusak sejumlah organ, misalnya seperti jantung, ginjal, dan otak.

Lalu bagaimana cara pencegahannya? Berikut rangkuman tentang gejala, penyebab, pencegahan, dan penanganan penyakit difteri.

Baca Juga :
1. Perbedaan Radang Amandel dan Radang Tenggorokan
2. Cara Mengobati Radang Tenggorokan Sebelum Terserang
3. Ciri-ciri Amandel yang Membahayakan Kesehatan

Penyebab Difteri

Seperti yang sudah disebutkan di awal, difteri artinya infeksi bakteri pada organ hidung dan tenggorokan. Penyakit ini biasanya ditandai dengan munculnya selaput abu-abu yang melapisi tenggorokan dan amandel.

Penyakit difteri tergolong penyakit yang menular dan berbahaya, serta berpotensi mengancam jiwa. Akan tetapi difteri bisa dicegah dengan imunisasi. Di Indonesia sendiri, pemberian vaksin difteri dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus, atau yang disebut dengan imunisasi DPT.

Penyebab utama difteri adalah bakteri bernama Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini dapat menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Seseorang dapat tertular difteri apabila :

  1. Tidak sengaja menghirup ataupun menelan percikan air liur yang dikeluarkan oleh penderita difteri saat ia batuk maupun bersin.
  2. Menggunakan benda seperti gelas atau sendok yang sudah terkontaminasi air liur penderita difteri.

Penyakit difteri dapat menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Akan tetapi seseorang akan beresiko lebih tinggi terserang difteri apabila tidak mendapatkan vaksin difteri secara lengkap. Selain itu, difteri juga lebih berisiko terjadi pada:

  1. Orang yang hidup di area padat penduduk.
  2. Orang yang hidup di area yang kebersihannya buruk.
  3. Orang yang bepergian ke wilayah yang sedang tersebar wabah difteri.
  4. Orang yang memiliki kekebalan tubuh rendah, misalnya seperti penderita AIDS.

Gejala Difteri

Difteri gejalanya akan muncul 2 hingga 5 hari setelah seseorang terinfeksi. Meskipun begitu, tidak semua orang yang terinfeksi difteri mengalami gejala. Satu-satunya gejala yang bisa didiagnosa sebagai gejala difteri yaitu penderita akan memiliki lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandelnya.

Selain itu, gejala difteri lainnya yang dapat muncul yaitu :

  1. Sakit tenggorokan
  2. Suara serak
  3. Batuk
  4. Pilek
  5. Demam
  6. Menggigil
  7. Lemas
  8. Pembengkakan kelenjar getah bening yang ditandai dengan munculnya benjolan di leher

Anda harus segera memeriksakan ke dokter apabila mengalami gejala penyakit difteri di atas, terutama jika memiliki risiko untuk tertular. Selain gejala layaknya orang yang sedang flu, difteri juga dapat menimbulkan gejala yang lebih berat, antara lain :

  1. Gangguan penglihatan
  2. Keringat dingin
  3. Sesak nafas
  4. Jantung berdebar kencang
  5. Kulit pucat hingga membiru

Penanganan Difteri

Dokter bisa saja mendiagnosa pasien terkena difteri jika ada lapisan abu-abu di tenggorokan atau amandelnya. Akan tetapi untuk memastikannya, dokter akan melakukan pemeriksaan usap atau swab tenggorok, yaitu dengan cara mengambil sampel lendir dari tenggorokan pasien untuk kemudian diteliti di laboratorium.

Difteri tergolong penyakit yang serius dan harus segera diatasi. Hal ini bukan asumsi belaka, karena menurut data statistik, 1 dari 10 pasien difteri meninggal dunia meskipun telah mendapat penanganan.

Selain pemeriksaan usap atau swab tenggorok, ada beberapa jenis pengobatan lainnya yang dilakukan untuk mengobati difteri, antara lain yaitu :

  1. Suntikan anti racun

    Dokter akan memberikan pasien suntikan anti racun atau antitoksin difteri, suntikan ini berguna untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri. Sebelum dilakukan penyuntikan, pasien akan terlebih dahulu menjalani tes alergi kulit untuk memastikan pasien tidak alergi terhadap antitoksin.

  2. Obat antibiotik

    Selain anti racun, dokter juga akan memberikan antibiotik, misalnya seperti penisilin atau erythromycin. Antibiotik harus dikonsumsi sampai habis sesuai dengan resep dokter, agar memastikan tubuh sudah terbebas dari penyakit difteri. 

Umumnya, dua hari setelah pemberian antibiotik, penderita sudah tidak lagi dapat menularkan penyakit difteri ke orang lain.

Penanganan difteri harus dilakukan di rumah sakit, hal ini untuk mencegah penularan difteri ke orang lain. Dan bila diperlukan, dokter juga akan memberikan antibiotik pada keluarga pasien.

Khusus pasien yang mengalami sesak napas akibat selaput abu-abu di tenggorokan yang menghalangi aliran udara, dokter THT akan melakukan prosedur tambahan yaitu pengangkatan selaput.

Pencegahan Difteri

Meskipun tergolong penyakit yang berbahaya, difteri bisa dicegah dengan imunisasi DPT, yaitu pemberian vaksin difteri yang dikombinasikan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan (pertusis). 

Imunisasi DPT adalah imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia sebagai pencegahan difteri pada anak. Pemberian vaksin DPT dilakukan pada bayi usia 2, 3, 4, dan 18 bulan, serta pada anak usia 5 tahun.

Orang tua tidak perlu khawatir, karena untuk anak-anak usia di bawah 7 tahun yang belum pernah mendapat imunisasi DPT, atau yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap, maka dapat diberikan imunisasi kejaran sesuai jadwal yang dianjurkan oleh dokter anak. 

Dan khusus bagi anak-anak dengan usia 7 tahun ke atas yang belum mendapat imunisasi DPT, maka dapat diberikan vaksin Tdap. 

Demikianlah artikel tentang Difteri: Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Penanganannya. Semoga bermanfaat.