Rumah Mewah Dapat PKH, yang Benar-benar Miskin Malah Tak Tersentuh

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 02 May 2020

Rumah Mewah Dapat PKH, yang Benar-benar Miskin Malah Tak Tersentuh

Rumah mewah dapat bantuan PKH - Image from facebook.com

Saat bantuan salah sasaran.

Warga yang benar-benar miskin sampai jual perabotan untuk beli beras, 'rumah gedong' malah dapat jaminan bantuan sosial. Yang miskin makin sengsara, yang kaya tenang saja. Apa ya gak malu?

Bantuan sosial yang dijanjikan oleh pemerintah untuk masyarakat golongan menengah ke bawah dalam menghadapi pandemi virus corona jenis baru atau Covid-19, bisa dibilang hanya sebatas isapan jempol belaka.

Bagaimana tidak, hingga saat ini, masih banyak warga kurang mampu dilanda rasa lapar karena tidak pernah terjamah oleh bantuan.

Keluarga Miskin Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah, Sampai Jual Gelas Mangkok Buat Beli Beras

Rumah Mewah Dapat PKH, yang Benar-benar Miskin Malah Tak Tersentuh

Tidak dapat bantuan, seorang warga nekat menjual perabotan untuk beli beras - Image from solo.tribunnews.com

Salah satu diantaranya, keluarga di kawasan perkotaan Jember. Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan tiga orang anak ini belum pernah mendapatkan bantuan sosial sama sekali selama wabah Covid-19.

Padahal, Triyata (47) atau yang akrab disapa Bu Bambang ini termasuk warga miskin.

Triyata dan keluarga saat ini sedang menempati rumah kontrakan kecil yang berada di Jl Letjen Sutoyo RT 03 RW 33 Lingkungan Kebon Indah Kelurahan Kebonsari Kecamatan Sumbersari.

Untuk sumber penghasilan sehari-hari, Triyata mengandalkan pendapatan suaminya yang bekerja di Pulau Kalimantan, yang biasa mengirimkan uang Rp 500.000 per bulannya.

Uang itu pun hanya bisa dipakai untuk biaya sekolah anak bungsunya, yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

“Kalau untuk makan dan lain-lain, saya nyari sendiri. Dulu ketika saya masih jadi pembantu, saya punya penghasilan,” ujar Triyata.

Namun saat ini, tubuhnya tak bisa lagi digunakan untuk bekerja sejak serangan stroke.

Sementara di sisi lain, Triyata harus melunasi hutangnya kepada sejumlah ‘bank tithil’ atau koperasi simpan pinjam, yang mana pinjaman itu ia gunakan untuk membiayai biaya kontrol mata anak pertamanya yang juga difabel.

Belakangan, Triyata sampai memutuskan untuk menjual perabotan rumah tangganya, seperti mangkuk dan gelas, untuk bisa mendapatkan uang dan sekadar membeli beras.

Bahkan beberapa hari terakhir, Triyata memasak biji kluwih atau yang disebut kolor, sebagai pengganti sarapan.

“Dua hari sarapan kolor. Alhamdulillah, ini dikasih beras. Tadi juga ada orangtua yang tidak saya kenal, ngasih saya uang Rp 20.000. Bisa beli isi ulang gas,” ujarnya sambil menitikkan air mata.

Triyata pun berharap kondisi kehidupannya saat ini bisa diperhatikan oleh pemerintah. Dia juga ingin mendapatkan bantuan peralatan tambal ban untuk anak keduanya, agar ada pemasukan untuk keluarga.

“Itu impian saya. Saya sampai pernah berpikir untuk bunuh diri. Tapi sama tetangga, saya dimarahi. Dosa.”

“Saya berharap ada bantuan, terutama kompresor dan alat tambal ban untuk anak saya,” ujar Triyata dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga: Cek Fakta: Jutaan Rokok Sampoerna Terpapar COVID-19 Beredar di Masyarakat

Rumah Gedong Dapat Jaminan Bantuan Sosial

Berbeda dengan Triyata, beredar foto beberapa rumah di Kecamatan Salem, Brebes, Jawa Tengah.

Foto itu diunggah oleh akun Facebook Gareng Ranca Keumbang pada 29 April 2020 pukul 08.00 WIB.

Dalam foto itu, terlihat beberapa rumah warga yang bisa dikatakan berkecukupan, ditempeli stiker KELUARGA PRASEJAHTERA (MISKIN) PENERIMA BANTUAN PKH.

Padahal beberapa rumah itu jauh dari kata tidak layak, bahkan ada rumah yang sampai tingkat dua. 

Rumah Mewah Dapat PKH, yang Benar-benar Miskin Malah Tak Tersentuh

Rumah 2 yang terbilang berkecukupan, namun mendapatkan bantuan PKH - Image from www.facebook.com

Program Keluarga Harapan atau PKH sendiri, merupakan program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada Keluarga Miskin (KM) yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH.

Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan PKH.

Program Perlindungan Sosial yang juga dikenal di dunia internasional dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) ini, terbukti cukup berhasil dalam menanggulangi kemiskinan yang dihadapi di negara-negara tersebut, terutama masalah kemiskinan kronis. 

Namun sayangnya, angka keberhasilan itu sepertinya belum bisa dicapai dengan maksimal oleh pemerintah Indonesia.

Terbukti dengan betapa 'carut marutnya' data warga yang seharusnya mendapatkan bantuan ini.  

Baca Juga: Sering Diajak Ibu Dagang ke Pasar, Bayi 1 Tahun di Malang Positif Corona

Melansir laman Kementerian Sosial, bantuan sosial PKH pada tahun 2019 terbagi menjadi dua jenis, yakni Bantuan Tetap dan Bantuan Komponen yang diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:

A. Bantuan Tetap untuk Setiap Keluarga

Reguler : Rp. 550.000,- / keluarga / tahun

PKH AKSES : Rp. 1.000.000,- / keluarga / tahun

B. Bantuan Komponen untuk Setiap Jiwa dalam Keluarga PKH

Ibu hamil : Rp. 2.400.000,-
Anak usia dini : Rp. 2.400.000,-
SD : Rp. 900.000,-
SMP : Rp. 1.500.000,-
SMA : Rp. 2.000.000,-
Disabilitas berat : Rp. 2.400.000,-
Lanjut usia : Rp. 2.400.000,-

Bantuan komponen diberikan maksimal untuk 4 jiwa dalam satu keluarga.

Sungguh ironis, saat warga miskin kelaparan hingga menjual perabotan, warga yang mampu malah mendapat jaminan bantuan sosial yang sangat besar jumlahnya.

Semoga kondisi ini dapat segera ditangani oleh pemerintah, sehingga bantuan bisa tersalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb