Benarkah Ucapan Salam Saat Shalat Sampai “Wa Barakaatuh”?

Penulis Sifa Editor | Ditayangkan 21 May 2020

Salah satu syarat sahnya shalat adalah gerakan yang lengkap dan urut. Gerakan salam salah satunya.

Lalu, ucapan salam saat shalat apakah sampai “wa barakaatuh”? hingga akhirnya menyerupai salam sehari-hari “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH WA BAROKAATUH”.

Disebutkan dalam Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani:

وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ – رضي الله عنه – قَالَ : – صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ : ” اَلسَّلَام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ” وَعَنْ شِمَالِهِ : ” اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ .

Artinya: Dari Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau salam ke kanan sambil mengucapkan ‘ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH WA BAROKAATUH’ dan ke kiri sambil mengucapkan ‘ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH’.” (HR. Abu Daud. Ibnu Hajar menilai sanad hadits ini sahih dalam Bulughul Maram).

Baca Juga: Ternyata Boleh Mengganti Shalat Tahajud di Siang Hari, Asalkan..

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (3:479) menyatakan bahwa sanad hadits ini adalah sahih, juga dinyatakan shahih oleh Ibnu ‘Abdil Hadi dalam Al-Muharrar (271).

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataij Al-Afkar (2:222) menyatakan bahwa hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ (2:32) menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya seluruhnya terpercaya, merupakan perawi kitab shahih. (Lihat Ad-Dalil ‘ala Manhaj As-Salikin wa Tawdhih Al-Fiqh fi Ad-Diin dan Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin (1:245).

Al-Hafizh Abu Thahir dalam takhrij Sunan Abu Daud (nomor hadits 997) mengatakan bahwa sanad hadits ini adalah hasan, namun dalam naskah dari Al-Hafizh Abu Thahir dalam Sunan Abu Daud tidak ada lafadz “wa barakaatuh” pada salam kedua.

Apakah ada tambahan “wa barakaatuh” pada salam kedua? Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini.

‘Abdul Haqq dan Ibnul Atsir Az-Zaila’i tidak menyebutkan lafadz “wa barakaatuh” tersebut. 

Selain itu, lafadz “wa barakaatuh” tidak ada dalam cetakan Muhammad Muhyiddin pada Sunan Abi Daud. Akan tetapi lafazh tersebut ada dalam nuskhah Al-Hindiyyah dan cetakan Ad-Di’aas, dari Al-Hindiyyah.

Ibnu Hajar sendiri menyandarkan kalimat “wa barakaatuh” pada Abu Daud dalam Bulughul Maram dalam beberapa cetakan, juga dalam At-Talkhish. Sebagaimana juga Ibnu Daqiq Al-‘Ied, Ibnu ‘Abdil Hadi, semuanya menyandarkan pada Abu Daud.

Baca Juga: Shalat Hanya Gunakan Mukenah Saja Tanpa Baju, Memang Boleh?

Kesimpulan dari Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, jika riwayat yang mahfuzh adalah salam ke kanan dan kiri dengan “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH”, demikian riwayat dari Ibnu Mas’ud dan Jabir bin Samurah. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:176-179.

Adapun mengenai tambahan “wa barakaatuh” ada dua pendapat.

Pendapat pertama: Afdalnya tidak ada tambahan tersebut. Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad. Sebab kebanyakan riwayat tidak menyebutkannya sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas’ud dan Jabir bin Samurah.

Pendapat kedua: Masih boleh ditambahkan “wa barakaatuh” sebab ada dalam riwayat Abu Daud dari Wail bin Hujr. (Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:180).

Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb