Viral, Masih Pakai Sarung, Santri ini Nekat Panjat Tiang Bendera Saat Upacara Hari Santri

Penulis Dian Editor | Ditayangkan 23 Oct 2020

Aksi santri panjat tiang bendera - Image from kompas.com

Sarung sampai copot saking semangatnya

Diketahui tali bendera tiba-tiba putus saat pengibaran di upacara Hari Santri. Karena insiden itu, seorang santri sontak berlari ke arah tiang bendera dan seketika memanjat tiang untuk meraih tali yang putus. 

Beberapa hari terakhir, sebuah tayangan video berhasil menarik perhatian banyak warganet. 

Usut punya usut, video tersebut ternyata diambil saat upacara bendera memperingati Hari Santri Nasional di pesantren Al-Islam, Kota Gorontalo.

Di tengah hikmatnya upacara, terjadi sebuah insiden yang tak terduga. Tali bendera tiba-tiba putus saat proses pengibaran sedang berlangsung. 

Tak lama berselang, seorang santri dalam barisan upacara kemudian berlari ke arah tiang bendera. Santri tersebut memanjat tiang bendera setinggi kurang lebih enam meter.

Aksi heroik tersebut sempat direkam dalam bentuk video santri lain yang saat itu juga sedang berada dalam barisan upacara.

Dalam tayangan video yang beredar, tampak seorang santri yang masih mengenakan sarung dan songkok memanjat tiang bendera dengan semangat.

Bahkan, sarung yang ia kenakan sampai melorot dan jatuh karena saking semangatnya saat memanjat tiang. Meski begitu, untung saja sang santri berusaha memanjat tiang sambil mengenakan celana kolor.

Ia tetap dengan semangat meraih ujung tiang bendera dan meraih tali tersebut. Hingga akhirnya, video tersebut pun beredar dan seketika viral di media sosial. 

Kronologi Kejadian 

Diketahui bahwa santri tersebut bernama Didin, ia merupakan santri kelas VII dari madrasah tsanawiyah.

“Saat bendera dibentangkan siap untuk dikerek, tiba-tiba tali putus sehingga ujung tali naik ke puncak tiang,” kata Ramli Anwar, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Alislam sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Ramli menjelaskan bahwa sepekan sebelum hari santri, para santri yang mendapat tanggung jawab sebagai petugas upacara sudah melakukan latihan yang dibimbing oleh anggota purnapaskibraka Gorontalo.

Selama latihan, mereka menggunakan bendera khusus dan tidak ada masalah selama para santri latihan.

Pada Kamis pagi hari yang dinanti tiba, para santri dan guru sudah berkumpul di halaman, mereka memakai baju upacara berwarna putih.

Saat awal upacara berlangsung normal seperti biasanya, tetapi saat petugas pengibar bendera membentangkan bendera Merah Putih, tiba-tiba tali putus. Hal tersebut yang kemudian menyebabkan ujungnya naik ke puncak tiang.

Dari arah barisan santri laki-laki tiba-tiba seorang santri berlari melesat ke arah tiang, dia bernama Didin adalah seorang santri asal Sulawesi Tengah.

Ia kemudian memanjat tiang bendera masih dengan memakai sarung dan peci hitam. Beberapa petugas upacara mencoba memegang tiang bendera tersebut agar tidak roboh menahan beban Didin yang tengah memanjat.

Sarung Sampai Copot 

Setelah melewati pertengahan tiang, tiba-tiba sarungnya mulai mengendur, ini membuat jepitan kaki Didin terlihat licin sebab kain sarungnya terinjak saat sedang memanjat. 

Namun, tiba-tiba sarung yang dikenakan santri ini terbuka dan meluncur ke bawah, terombang ambing di terpa angin. 

Lepasnya sarung yang ia kenakan tidak membuat pecah konsentrasi Didin untuk terus memanjat. Untungnya ia masih mengenakan celana pendek. 

Didin terus berupaya memanjat lebih tinggi hingga tangannya meraih ujung tali di puncak tiang tersebut. 

Setelah memegang ujung tali yang terlepas, ia langsung meluncur ke bawah. Suara tepuk tangan dan ucapan syukur menggema di halaman pesantren sesaat Didin menjejak tanah.

Upacara pengibaran bendera Merah Putih pada hari santri itu pun kemudian berlanjut. 

“Kami sangat mengapresiasi aksi heroik yang ditunjukkan oleh santri Didin,” ujar Ramli Anwar.

Di Pondok Pesantren Alislam, Didin tidak dikenakan biaya apa pun, bahkan difasilitasi untuk bisa belajar hingga lulus. 

Pesantren yang dihuni oleh lebih dari 430 santri ini menggratiskan santri yang berasal dari keluarga kurang mampu dan juga anak yatim.

Sejak sebulan lalu, pesantren ini telah membuka diri untuk proses belajar-mengajar dengan persyaratan yang sangat ketat demi mencegah pandemi Covid-19.

Bahkan orangtua siswa tidak bisa menjenguk dengan leluasa, mereka dibatasi pagar pemisah dalam waktu kunjungan hanya 7 menit.

Wah keberanian dan ketanggapannya sangat perlu diacungi jempol. Semoga bisa semangat dan keberaniannya bisa menjadi contoh teman-teman santri yang lainnya.