Cerita Dokter Aris Tak Bertemu Istri dan Anak Selama 6 Bulan, Hanya Bisa Lihat dari Pagar

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 29 Aug 2020

Dokter Aris saat menjumpai anaknya - Image from today.line.me

Gegara pandemi corona, harus rela tinggal berpisah dengan keluarga

Dokter Aris ceritakan beratnya tak berpisah dengan anak-istri yang dicintainya selama 6 bulan gara-gara pandemi corona. Ia khawtair membawa virus dan juga menularkan pada orang-orang yang dicintainya. 

Unggahan seorang dokter yang merindukan kebersamaan dengan sang buah hati, jadi viral di media sosial. 

Dokter tersebut bernama Aris Ramdhani. Melalui akun Twitter-nya, @arisrmd, dokter Aris mengungkapkan kerinduannya ingin kembali tinggal satu rumah bersama dengan anaknya. 

Sementara, ia masih harus bertugas menangani pasien Covid-19 yang terus bertambah.
Dalam twitnya, Aris mengunggah foto saat bertemu sang anak tapi terhalang oleh pagar dan terpisah jarak beberapa meter.

Berbagai komentar disampaikan warganet menanggapi unggahan Aris tersebut. Sebagian besar menyampaikan rasa haru dan empatinya. 

Hingga Jumat (28/8/2020), unggahan tersebut telah dibagikan ulang dan dikomentari hingga lebih dari 12.000 kali dan disukai 40.000 kali.

"Jumlah pasien yg harus dioperasi dan COVID positif semakin nambah.Wajah tersenyum dengan mulut terbuka dan keringat dingin. Kapan bisa serumah sama anak lagi ya? Ketemunya begini doang, dari balik pagar karena anak di rumah ortu dari Maret," tulis akun Twitter @arisrmd.



Sedih Tak Bisa Bertemu dengan Istri dan Anak

Saat dihubungi Kompas.com, Jumat, Aris membagikan kisahnya. Ia bercerita hampir 6 bulan tak tinggal bersama istri dan anaknya. 

Aris merupakan dokter bedah yang bertugas di Rumah Sakit Univeristas Indonesia (RS UI). Terkait unggahannya, Aris menyebutkan bahwa ia mengungkapkan apa yang dirasakannya karena sudah lama berpisah sementara dengan istri dan anaknya.

Sejak awal Maret 2020, Aris tidak tinggal bersama dengan keluarga kecil yang sangat ia cintai dan sayangi. 

"Pasti ya sedih, sekarang saya tinggal di rumah sendiri. Anak dan istri sementara tinggal di rumah orangtua dulu," kata Aris saat dihubungi Kompas.com, Jumat (28/8/2020).

Meski tak bertemu secara langsung, Aris dan keluarganya, terlebih dengan putrinya yang bernama Miyu, selalu menyempatkan untuk video call. 

Walaupun tidak bisa dilakukan setiap hari, Aris selalu menyempatkan bertatap muka melalui layar ponsel selama tiga hari sekali. 

"Video call tetap diusahain, maksimal 3 hari sekali. Tapi ya tetap saja tidak seperti ketika bertemu secara langsung," ujar Aris.

Putri Aris yang baru berusia 5 tahun, lanjut dia, dapat memahami kondisinya saat ini yang masih belum bisa bertemu dengannya. 

Namun, ia menjadi terenyuh saat sang putri mengungkapkan kerinduan dan keinginan untuk hidup bersama lagi. 

"Tapi anak saya cukup mengerti dengan keadaan ini. Namun tiap video call bilang, 'Miyu kan kangen sama ayah'. Itu yang buat saya tambah sedih sih. Tapi ya enggak bisa apa-apa kan masih dalam keadaan seperti ini juga," kata Aris.

Selain melakukan video call, Aris juga beberapa kali menyempatkan diri untuk datang ke rumah orangtuanya meski hanya berdiri di luar pagar.

Ia pergi ke rumah orangtuanya hanya sesekali. Selain karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Aris juga mengaku merasa tidak enak dengan tetangga jika terlalu sering berkunjung. 

"Kalau ketemu ya paling seperti yang ada dalam unggahan saya itu, dari depan pagar terpisah jarak beberapa meter, cuma dadah-dadah saja," kata Aris.

"Cuma kan enggak bisa sering-sering. Tetangga kan juga tahu kalau saya kerja di rumah sakit yang ada Covid-19-nya, daripada jadi ribet ya sudah lah tidak terlalu sering datang," lanjut dia.

Sempat Positif Covid-19

Aris mengungkapkan, ia sempat dinyatakan positif Covid-19 pada Juni 2020 lalu. Alhamdulillah, tak butuh waktu lama untuk sembuh dari virus corona. 

"Saya positif, tanpa gejala. Ya udah istirahat saja sebentar, sehabis itu saya lanjut kerja lagi menangani pasien," kata Aris.

Ketika ditanya kapan dan di mana ia tertular Covid-19, Aris tidak bisa menjawabnya secara pasti karena mungkin hal itu sudah menjadi risiko pekerjaannya. 

Disinggung soal masih banyaknya masyarakat yang tidak memercayai Covid-19, menurut Aris, karena belum menyaksikan orang terdekat mengalami langsung ataupun karena alasan lain. 

"Ya mereka mungkin memang belum tahu bahaya nyatanya, seperti yang orang-orang bilang, mungkin orang terdekatnya belum kena lah, atau apa pun yang lainnya," papar Aris.

Atau, lanjut dia, orang tersebut juga tidak bersentuhan dengan penyakit ini setiap hari sehingga tak percaya bahwa Covid-19 memang ada. 

Berbeda dengan dirinya yang setiap hari harus menangani pasien Covid-19 dan melihat realitas tersebut terpampang di depan matanya. 

"Kondisinya, pasien Covid-19 terus bertambah, dan dari sisi pasien bedah, jumlah pasien Covid-19 yang harus dioperasi bertambah jumlahnya," kata dia.

"Kalau menurut saya, boleh saja sih mereka berpikiran seperti itu, tapi ya lebih baik mereka tidak egois untuk memikirkan juga lingkungan sekitarnya," lanjut Aris. 

Oleh sebab itu, Aris berpesan agar setiap orang peduli dengan orang-orang yang masuk kategori rentan tertular, seperti orangtua dan anak-anak.

"Kalau ke anak-anak meskipun kita sudah mandi tapi kan enggak tahu apa yang di dalam dahak kita gimana, kita cium-cium, peluk-peluk anak tapi enggak sengaja batuk, anaknya jadi carrier virus, malah jadi lebih serem," kata Aris.

Semoga pandemi corona di Indonesia dan seluruh dunia bisa segera berakhir. Untuk itu tetaplah patuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona. 

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb