Sopir Truk Meninggal Mendadak setelah Kerokan, Ini Bahayanya Kerokan

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 24 Jun 2020



Sopir Truk di Kecamatan Mandiangin - Image from www.tribunnews.com


Kerokan tak cocok untuk semua orang

Saat tak enak badan, sopir ini minta dikerokin oleh temannya. Setelah selesai, ia tak bisa dibangunkan dan dinyatakan meninggal dunia. Ingat tak semua orang bisa dikerokin lo ya, ini bahayanya.

Meninggalnya sopir truk batu bara di Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, masih menjadi pertanyaan besar.

Rudi (54) meninggal secara mendadak di warung kopi yang bertempat di kawasan tambang batu bara.

Sebelum meninggal, warga Padang, Sumatera Barat, itu sempat nongkrong di warung kopi bersama rekan-rekannya. 

Karena merasa tidak enak badan, ia meminta rekannya untuk memijat bagian punggung dengan kerokan.

Namun beberapa saat itu ia sudah tak sadarkan diri saat dibangunkan oleh temannya. Ia dinyatakan meninggal pada Senin (22/6) kira-kira pukul 15.00. WIB.

Menurut keterangan Kepala Puskesmas Mandiangin, Yoga, sopir batu bara itu dinyatakan meninggal secara mendadak.

"Meninggal mendadak," katanya. Selasa (23/6) ketika dkonfirmasi.

Untuk mengetahui penyebab meninggalnya sang sopir ini pihak puskesmas melakukan visum luar. 

Dalam hasil visum itu memang didapati bekas kerokan di punggung dan tidak ada tanda-tanda kekerasan atau luka dari senjata tajam. 

"Memang murni kemungkinan besar karena sakit," katanya. 

Ia melanjutkan, indikasi lain penyebab meninggalnya sang sopir itu masih dalam penyelidikan. Jika untuk indikasi seperti Covid-19, pihaknya belum bisa menjawab. 

Hal ini dikarenakan korban tak bisa di-tes Covid-19 dan penggalian riwayat korban lantaran sudah dalam kondisi meninggal.

"Memang informasi sedikit dan meninggal secara mendadak. Kami dak dapet infonya dan informasi di UGD kayak orang masuk angin," katanya

Namun jika ingin memastikan korban menderita covid-19 harus dipastikan dengan melakukan pemeriksaan tes swab.

Namun kondisi yang tidak memungkinkan karena ia sudah meninggal. Selain itu, orang yang sudah meninggal juga tak bisa dilakukan rapid test. 

"Karena orang meninggal, darahnya sudah beku, kalau kita rapid dak biso," ujarnya

Hingga saat ini pihaknya, masih memaksimalkan upaya untuk mencari informasi yang lebih detail terkait korban. 

Mulai dari trafik orang terdekat korban dan terlebih pada tempat kejadian korban meninggalnya, yakni warung kopi. 

"Ya di warung itu, rencana besok, kami lagi penyelidikan kami gak ingin ada bau covidnya," jelasnya

Ia juga menyampaikan jika indikasi lain meninggalnya sopir itu diduga karena serangan jantung. Namun ia juga masih belum bisa memastikan. 

"Biasanya serangan jantungkan mendadak, tapi belum pasti juga," ungkapnya.

Saat ini jenazah sudah dibawa oleh pihak keluarga ke Padang, Sumatera Barat, tempat asalnya. 

Memang belum diketahui secara pasti penyebab dari kematian si sopir truk ini. Tapi penting untuk kita ketahui bersama, kalau tak semua orang bisa dikerok. 

Pasalnya kerokan juga memiliki dampak negatif yang perlu diwaspadai oleh setiap orang. Berikut adalah bahaya kerokan yang dikutip dari sehatq.co

Bahaya Kerokan yang Perlu Diwaspadai 

1. Menyebabkan Memar dan Bengkak 

Proses kerokan membuat pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit yang disebut pembuluh darah kapiler, pecah. Hal itu bisa menyebabkan kulit jadi terlihat memar dan merah setelah proses ini dilakukan. 

Pada beberapa orang, pembengkakan juga bisa muncul di area kulit yang dikerok. 

Umumnya, memar dan pembengkakan yang terjadi akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari atau minggu pasca dikerok. 

2. Berisiko menimbulkan perdarahan

Kerokan tidak seharusnya menimbulkan perdarahan. 

Namun, jika tekanan yang diberikan di kulit dilakukan secara berlebihan, maka pecahnya pembuluh darah kapiler tidak hanya akan menghasilkan memar atau merah pada kulit, tapi juga perdarahan minor.

3. Berisiko memicu penularan penyakit

Jika pada saat kerokan, kulit mengeluarkan darah, hal ini akan membuka kesempatan terjadinya infeksi yang bisa menular melalui darah. 

Risiko penularan penyakit melalui kerokan juga akan meningkat apabila koin atau alat lain yang digunakan tidak steril dan telah digunakan oleh banyak orang. 

4. Mengakibatkan nyeri

Ada orang yang bisa menahan sakitnya dikerok, ada pula yang benar-benar tidak kuat ketika dikerok. Nah jika termasuk yang tidak bisa menahan rasa sakitnya, sebaiknya jangan terlalu memaksakan untuk menjalani terapi ini 

5. Tidak semua orang cocok dikerok

Tidak semua orang cocok untuk dikerok, sebab terapi ini berhubungan dengan pecahnya pembuluh darah kapiler. Kelompok individu dengan kondisi yang punya kriteria ini, sebaiknya menghindari kerokan :

  • Mempunyai riwayat gangguan medis yang menyerang kulit atau pembuluh vena
  • Mudah berdarah
  • Sedang mengonsumsi obat pengencer darah
  • Menderita deep vein thrombosit
  • Sedang mengalami infeksi, tumor, atau luka yang belum sembuh sempurna
  • Menggunakan implan di organ tubuh, sepergi alat pacu jantung dan defribilator internal

Nah itu bahaya kerokan, jadi jika penyakitnya belum diketahui pasti dan tidak tahu cara penanganan yang tepat. Lebih baik kamu periksakan ke rumah sakit terdekat agar ditangani medis.

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb