Daud Kim, Tekanan Kompetisi di Korea Antarkannya Gapai Kebahagiaan dengan Islam

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 08 Jun 2020

Daud Kim, Tekanan Kompetisi di Korea Antarkannya Gapai Kebahagiaan dengan Islam

Daud Kim - Image from kumparan.com

Kisahkan perjalanannya menjadi mualaf 

Tekanan kompetisi yang besar mendorong munculnya perasaan frustasi dan depresi. Ia merenungi masalahnya tersebut dan Allah SWT berikan hidayah padanya. 

Mulanya, Kim menjelaskan tentang negara Korea yang menjadi salah satu tempat ternyaman untuk ditinggali. 

Ia juga memaparkan bahwa Korea memiliki teknologi yang canggih, sistem medis yang baik, serta menjadi salah satu negara teraman di dunia. 

Tekanan Hidup di Korea 

Namun pada kenyataannya, meskipun Korea merupakan negara yang canggih, indah dan aman, tetapi tingkat depresi di sana terbilang cukup tinggi. 

Banyak orang yang memilih bunuh diri karena tak mampu memenangkan persaingan dengan orang lain. 

"Aku menjalani hidup yang kompetitif di Korea. Aku berusaha menjalani hidup yang sukses, dan aku selalu membandingkan diriku dengan yang lain. Aku ingin orang-orang memujiku, dan itu merupakan tekanan yang besar," jelas Kim.

Menurut Kim, banyak orang yang menganggap diri mereka sebagai pecundang apabila tak bisa memenangkan persaingan. 

Pada akhirnya, orang-orang ini menyalahkan diri sendiri dan berujung dengan mengakhiri hidup mereka. Cerita Kim, sejalan dengan kejadian-kejadian bunuh diri para artis Korea. 

Menurut Hwang San-Min, psikolog di Universitas Yonsei, Seoul, kecenderungan bunuh diri di kalangan orang-orang terkenal yang masih muda umumnya karena tekanan karir dan juga popularitas. 

 "Bagi pesohor Korea Selatan, menjadi public figure itu artinya anda harus selalu tampil hebat, cemerlang, dan dipuja-puji,” kata Hwang San-Min.

Namun Kim tak ingin tekanan tersebut justru menjadikannya terpuruk dan menyalahkan dirinya sendiri.

"Tapi, Allah SWT tidak mengizinkan kita untuk menyalahkan diri sendiri. Allah tidak menganggap kita pecundang, karena kita semua adalah makhluk berharga di mata Allah. Menjadi lebih baik dan menghasilkan uang lebih banyak dari yang lainnya, bukanlah tujuan dari hidup ini," jelas Kim. 

Hidup adalah Perjalanan Beribadah kepada Tuhan

Pemuda yang dulunya bernama David Kim ini kemudian menjelaskan bahwa hidup merupakan sebuah perjalanan untuk beribadah kepada Tuhan. 

Ia juga menjelaskan, apabila kita sudah menerima Islam, hidup akan menjadi lebih mudah dan ringan untuk dijalani. 

"Kita bisa menjadi lebih relaks, dan menikmati indahnya dunia yang diciptakan oleh Allah," ujarnya.

Kim juga mengatakan bahwa Islam adalah agama yang bisa dianut oleh semua orang. Meskipun seseorang tak bisa berbahasa Arab, orang tersebut tetap bisa mempelajari dan beragama Islam. 

"Aku orang Korea, aku enggak bisa bahasa Arab, tapi aku tetap Muslim. Islam adalah untuk semua orang. Budaya, adat, ras, dan negara itu enggak penting. Allah itu lebih adil dari siapa pun," katanya. 

Kim juga mengungkapkan bahwa Islam memperbolehkan umatnya untuk tetap menjalani tradisi dan adat istiadat yang berlaku di wilayahnya. 

Hanya saja, mereka tetap harus memperhatikan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. 

"Meski aku Muslim, aku tetap makan makanan Korea, berbicara Korea, dan hidup dalam masyarakat Korea. Meski begitu, aku enggak makan babi dan minum alkohol," tuturnya. 

Tak dapat dihindari, Kim juga mengalami beberapa kesulitan. Namun itu bukan karena ia menjadi seorang Muslim, tapi karena dirinya menjadi bagian minoritas di Korea. 

"Aku tetap bisa hidup dengan baik kok. Jika kamu tertarik dengan Islam dan percaya, jangan pernah ragu, karena semua Muslim akan menyambutmu. Aku yakin kamu akan mendapat ketenangan dan kebahagiaan di hidupmu," tutup Daud Kim.

Memberi Tahu Ibunya, bahwa Ia Masuk Islam 

Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Kim tak lupa memberi tahukan keputusan pentingnya berpindah agama ke Islam pada ibunya. 

Mulanya ibunya sangat terkejut dan berkata, "Apakah kau gila? Bisakah kau membatalkannya? Untuk hal sepenting ini mengapa tidak kau bicarakan dengan ibu? Apakah kau sudah yakin, jangan terburu-buru?" 

Dan bertubi-tubi pertanyaan keluar dari mulut ibunya. Dengan tenang, Kim bisa menjelaskan dengan baik pada ibunya. 

Ia juga menegaskan bahwa keputusannya berislam bukan diputuskan secara terburu-buru. Ia sering memikirkan tentang agama Islam bahkan sudah beberapa kali menemui Imam / Ustaz untuk bertanya terkait Islam. 

Dengan penjelasan Kim yang gamblang dan dapat dipertanggungjawabkan, akhirnya Ibunya menerima keputusan putranya tersebut. Meski tak dipungkiri, masih ada kecemasan dalam hatinya. 

Kim pun menenangkan ibunya dan meyakinkan bahwa ibunya tak perlu cemas. Sebab dia akan bertanggung jawab dengan keputusan yang dibuatnya. 

Ibunya terus berpesan agar tidak sombong dan tetap rendah hati meskipun sudah memiliki jutaan subscriber di Youtube dan juga terus memberikan pengaruh positif kepada orang lain.

"Jika aku bisa memberikan inspirasi yang baik kepada orang-orang dengan hidup sebagai seorang muslim di Korea. Aku akan sangat bahagia." balasnya. 


Masyaallah, semoga Kim dianugerahi istiqomah dan kemudahan dalam berislam di Korea.

SHARE ARTIKEL