Keluar Masuk Islam, Pernikahan Putrinya Jadi Titik Balik Kehidupan

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 04 Jun 2020

Keluar Masuk Islam, Pernikahan Putrinya Jadi Titik Balik Kehidupan

Eduard, sang mualaf - Image from republika.co.id

Mulanya berislam untuk nikahi kekasih

Kemudian kembali pada Katolik setelah 17 tahun berislam. Dan setelah 12 tahun ia memutuskan kembali masuk Islam. Orang-orang sekitarnya bereaksi negatif. Lantas apa yang membuatnya masuk Islam lagi?

Mulanya Berislam untuk Menikahi Pujaan Hati 

"Allah seakan membiarkan saya 17 tahun di Islam dan 12 tahun di Katolik kembali Islam lagi. Artinya, memberi pelajaran bahwa saya masuk Islam tidak ada ruhnya. Jadi, hanya status. Hanya menikah tok. Untuk itu, harus dirasakan dengan hati," kata Eduard.

Allah SWT Maha Mengetahui hikmah dalam tiap episode kisah hidup seseorang. Salah satunya adalah membiarkan pria bernama lengkap Eduard A van der Elst masuk dan keluar Islam, sampai akhirnya ia benar-benar mantap berislam.

Eduard, begitu ia akrab disapa, memeluk Islam selama 17 tahun sejak pernikahannya dengan perempuan Muslimah pada tahun 1983. 

Usianya saat itu menginjak 30 tahun. Orang tua sang istri memintanya menjadi mualaf sebagai syarat jika ingin menikahi putrinya.

Rasa cinta yang besar kepada pujaan hatinya itulah yang mendorong pria beragama Katolik taat ini beralih ke Islam. Ia mengakui bahwa keputusan tersebut tidak dirasakan sepenuh hati hanya untuk beralih status. 

Meski begitu, Eduard tetap menjalankan ibadah-ibadah Islam, seperti shalat dan puasa. Ia belajar agama barunya itu dari istri dan buku-buku yang dibacanya. 

Kembali pada Katolik

Akan tetapi, tak disangka umur Edward sebagai Muslim hanya bertahan 17 tahun. Tepatnya pada tahun 2000 ia kembali memeluk keyakinan lamanya, Katolik, dan bertahan selama 12 tahun. 

Keinginannya itu dilakukan tanpa paksaan dari siapa pun, murni muncul dari inisiatif pribadi. 

Pria berdarah Inggris ini masih mengingat jelas detik-detik bagaimana ia kembali menapaki jalan Katolik. 

"Selesai sholat Ashar saya langsung menelepon ibu saya. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah berkomunikasi dengan ibu. Saya bilang, Ma, saya ingin kembali ke Katolik," ujar Eduard, dilansir dari Republika.co.id.

Keluarganya sempat sedih mendengar keputusan tersebut. Anak dan istrinya hanya bisa pasrah, menghormati keputusan Eduard dan tidak membencinya. 

Sang istri hanya bisa berdoa, agar suami tercintanya itu pulang ke pangkuan Islam. "Bagiku, istri saya adalah sosok Muslimah yang tabah," ujarnya.

Selama kurang lebih 12 tahun, ayah empat anak ini keluar Islam dan kembali menjadi sosok beragama Katolik yang patuh. 

Ia sempat menjadi asisten pastur dalam hal penyembuhan. Tidak hanya itu, ia juga lulus dari sekolah penginjil Katolik.

Pernikahan Sang Anak Jadi Titik Balik 

Namun, Allah-lah yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia. Pernikahan anak perempuan Eduard pada 2012 merupakan titik balik yang mengubah jalan hidupnya kembali. 

Hatinya bergejolak. Ia tak bisa menjadi wali dalam pernikahan putrinya. Ia terdiam terpana hanya menyaksikan saja acara pernikahan putrinya. 

Pada saat yang bersamaan, ia tengah dirundung masalah berat yang membuatnya frustasi. Ia sempat berkonsultasi dengan seorang romo atas permasalahan hidup yang ia alami itu. 

Namun, ia buntu dan tak menemukan jalan keluar. Frustasinya pun semakin menguat.

Kembali Bersyahadat, Reaksi Negatif dari Orang-orang Sekitar

Pada saat itulah, Eduard merenung dan bermuhasabah. Hingga akhirnya, enam bulan setelah pernikahan putrinya, kakek satu cucu ini memutuskan berikrar syahadat dan kembali ke pangkuan Islam.

Tak disangka, permasalahan yang ia rasa begitu berat langsung terselesaikan. 

Setelah memeluk Islam, gurunya meminta agar ia benar-benar memahami makna dari dua kalimat syahadat.

Ia membutuhkan waktu sekitar enam pekan untuk memahami makna syahadat. 

"Saya akan mempertahankan anugerah Islam yang Allah berikan kepada saya," ujarnya.

Keputusan Eduard kembali ke Islam, membuat hubungannya dengan keluaraga besar sempat memburuk. Bahkan ia juga mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari tetangga dan kolega satu gerejanya.

Pernah suatu ketika, oknum tetangganya mengencingi dan meludahi rumah Eduard sebagai bentuk perlawanan atas keputusannya masuk Islam kembali. Eduard sempat emosi. 

Namun, sang istri mengingatkan bahwa dalam Islam tidak boleh membalas kekerasan dengan balasan yang serupa. Ketika Rasulullah SAW mengalami hal yang sama, Rasul hanya tersenyum dan menyerahkannya pada Allah SWT. 

Merasa Lebih Dekat dengan Allah SWT 

Saat ini, Eduard mengaku merasa lebih dekat dengan Allah SWT. Apa yang ia alami dahulu karena ia tidak merasa dekat dengan Allah. Namun, jika kita dekat dengan-Nya, Allah akan lebih dekat lagi. 

Ia merasa manusia berdosa sepertinya masih diberi keberkahan dan nikmat yang luar biasa dari Allah. Baginya, hal yang baik sudah diatur oleh-Nya, sedangkan yang buruk berasal dari dirinya sebagai pertanda untuk bercermin.

Ia mengaku kagum dengan sifat Rasulullah dan para sahabat. Baginya, mengikuti keteladanan Nabi bukan sebatas mengucapkan syahadat, tapi juga paham maknanya.

Dari Alquran ia mengetahui bahwa apa yang manusia kerjakan di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. 

Oleh sebab itu, ia tidak begitu mementingkan perkataan manusia tentang dirinya. Saat ini hidupnya hanya untuk Allah. "Hidup yang benar-benar hidup ya sekarang ini," katanya.

Memahami Islam tak terhenti pada perkara lisan semata. Namun, harus dipahami dan diamalkan secara menyeluruh. Karena di dalam Islam semua hal sudah ada aturannya. Bahkan terkait hubungan suami dan istri. 

SHARE ARTIKEL