Tidak untuk Semua, ini Kriteria Orang yang Dapat Ikuti Tes Massal COVID-19

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 23 Mar 2020

Tidak untuk Semua, ini Kriteria Orang yang Dapat Ikuti Tes Massal COVID-19

Yurianto, Jubir Pemerintah untuk COVID-19 - Image from jaringanmedia.co.id

Tes Massal COVID-19 akan segera dilaksanakan! 

Namun tes itu tidak bisa diikuti oleh semua orang. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Yuri. Ridwan Kamil selaku Gubernur Jawa Barat, yang minggu ini akan mengadakan rapid test, juga telah menyampaikan kriteria orang yang bisa mengikuti tes massal COVID-19 ini.

Pemerintah menyampaikan sudah ada 150 ribu kit atau alat rapid test virus corona COVID-19 yang siap digunakan. Namun ditegaskan, tidak semua orang bisa mengakses alat rapid test tersebut. 

Hal ini ditegaskan oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Ahmad Yurianto, dalam konferensi pers Minggu (22/3/2020).

"Melakukan screening test pemeriksaan secara massal pada kelompok-kelompok berisiko, sebagai contoh manakala ada kasus positif yang dirawat di rumah sakit, kami akan melakukan penelusuran terhadap keluarganya dan seluruh keluarganya akan dilakukan screening test," kata Yuri.

Baca juga : 

Selain keluarga pasien COVID-19, kontak dekat pasien seperti halnya rekan kerja juga dikategorikan sebagai kelompok berisiko yang juga membutuhkan tes screening tersebut. 

Rapid test atau tes cepat ini dilakukan dengan alat tes berbasis antibodi. Kelemahan dari alat ini adalah tidak benar-benar bisa mendeteksi keberadaan virus, melainkan mendeteksi respons serologi. Ketika seseorang terinfeksi COVID-19, tubuh akan membentuk antibodi yang bisa dideteksi dengan alat ini.

Oleh sebab itu, ditegaskan bahwa hasil tes negatif tidak serta merta berarti seseorang bebas dari virus corona, kata Yuri. Sebab pada saat itu, bisa jadi kondisi tersebut merupakan 'false negative', yakni tampak negatif karena tubuh belum membentuk antibodi.

"Apabila ditemukan kasus negatif, maka kami akan meminta untuk tetap melakukan social distancing," tegas Yuri.

Apabila dalam rapid test seseorang mendapatkan mendapatkan hasil negatif, maka selain harus melakukan social distancing juga harus menjalani rapid test kedua setelah 7 hari tes awal. Pada saat tes ulang tersebut, jika memang positif, maka respons antibodi sudah bisa dideteksi.

"Apabila 2 kali dilakukan pemeriksaan dan ternyata tetap negatif, kisa bisa meyakini bahwa saat ini sedang tidak terinfeksi. Tetapi bisa besoknya terinfeksi manakala upaya untuk kontak dekat tidak dijalankan, upaya untuk melakukan isolasi diri dari orang lain yang positif tidak dijalankan dengan baik," jelas Yuri.

Selanjutnya, pemerintah menargetkan ada 1 juta kit untuk pengecekkan massal virus corona pada kelompok-kelompok yang memang berisiko.

Jabar Tetapkan Kriteria Warga yang Ikuti Tes Massal

Rapid Test atau tes massal virus Corona akan segera dilakukan. Sejumlah alat Rapid Test juga telah disiapkan. Gubernur Jabar Ridwan Kamil menegaskan tes massal tidak bisa dilakukan kepada semua warga Jawa Barat. 

"Tidak bisa semua ingin dites karena tidak mungkin. Di Korea Selatan saja dari 45 juta penduduknya, sebagai negara paling canggih tes massalnya, itu hanya 200 ribu. Jadi berbanding 45 juta. Ini harus diclearkan karena banyak masuk ke saya kapan dites karena menganggap seperti sensus jawabannya tidak, tetap ada screening dan kriteria sehingga tahu penyebaran kemana," ujar Ridwan Kamil, saat konferensi pers di Stadion Patriot, Minggu (22/3/2020).

Kang Emil menyatakan tes massal tahap pertama akan dilaksanakan pada Selasa atau Rabu ini. Pihaknya menetapkan berbagai kriteria warga yang akan di tes massal.

"Pertama semua ODP dan 50 orang terdekat dari si ODP ini. Karena teori kesehatan mengatakan potensi ada di sana. Sama juga semua PDP dan 50 orang terdekat si PDP dan sama juga yang positif serta 50 orang terdekat yang positif," kata Emil.

Baca juga: Kabar Baik, Badai Corona Pasti Berlalu, Jangan Panik!!!

Selain kelompok tersebut, tes massal ini juga akan dilakukan terhadap petugas kesehatan yang bekerja di unit kesehatan. Kemudian masyarakat yang profesinya banyak berinteraksi sosial dengan masyarakat seperti pekerjaan sebagai Lurah, Camat, Kiai dan Ulama.

"Nanti setelah tahap satu ini selesai seiring dengan datangnya alat tes lebih banyak, masuk tahap dua yaitu mereka yang melaporkan ingin dites dengan segala verifikasi yang akan kami siapkan," kata Kang Emil.

Oleh sebab itu bagi warga yang saat ini tidak masuk kriteria yang bisa mengakses tes COVID-19 tersebut, harus betul-betul mengupayakan dengan cara-cara lain agar terhindar dari penularan virus tersebut. 

Hal ini bisa dilakukan dengan terus menjaga jarak dengan orang lain, tetap berada di rumah, menjaga kesehatan dan kebersihan diri.

Berikut persiapan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta beberapa Kepala Daerah di beberapa wilayah di Jawa Barat. 

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb