Pemakaman Bayi PDP Corona Banjir Air Mata, Petugas Tahan Tangis Saat Adzani Jenazah

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 21 May 2020

Belum sempat melihat indahnya dunia.

Bayi berumur 10 hari dengan status PDP corona meninggal dunia. Proses pemakamannya pun membuat petugas tak kuasa menahan tangis.

Baru-baru ini, postingan akun Twitter @Lekday menjadi viral di berbagai sosial media.

Pasalnya, akun tersebut mengunggah sebuah foto yang memperlihatkan seorang relawan berbaju hazmat putih sedang berdiri membelakangi kamera.

Pandangannya terpaku menatap drakbar dengan sebuah peti kecil berwarna putih di atasnya.

Setiap tepian kotak peti itu direkat erat dengan lakban berwarna coklat.

Sementara relawan lainnya yang juga mengenakan alat perlindungan diri (APD) lengkap, berdiri di samping drakbar tersebut sambil tangan bersedekap.

"Pemakaman terberat adalah ketika memakamkan sebuah peti kecil," berikut caption yang ditulis oleh pemilik akun @Lekday.


Wisnu yang merupakan salah satu dari relawan Tim Penanganan Jenazah Gugus Tugas Covid-19 Bantul dari Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul memberikan keterangannya.

Wisnu mengatakan, pemakaman bayi berusia 10 hari tersebut dilakukan pada Minggu (17/5/2020) di Dlingo, Bantul, Yogyakarta.

Ia menceritakan, ketika proses pemakaman bayi itu, ia bertugas sebagai safety officer dalam Regu 2 tim penanganan jenazah yang sedang piket

Dia menambahkan, setiap tim biasanya terdiri dari enam orang dengan dua orang pendukung.

Akan tetapi, saat pemakaman bayi tersebut, hanya ada lima orang dalam tim dengan dua orang pendukung, lantaran satu orang lainnya berhalangan hadir.

Saat itu, Wisnu dan teman lainnya di Regu 2 baru saja selesai bertugas memakamkan jenazah di Kecamatan Kasihan, Bantul, Minggu tengah malam.

Setelah pemakaman selesai, ia dan anggota Regu 2 kemudian bersantap sahur di Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY.

Lantas ia mendapat kabar, Regu 2 harus bersiap untuk menguburkan seorang bayi.

Awal mulanya, ia tak mengetahui, yang akan dimakamkan adalah bayi berusia 10 hari.

"Saat itulah bahwa kami harus bersiap selepas sahur kita akan menguburkan bayi, kami hanya tahu bayi gitu aja nggak tahu berapa umurnya," ujar Wisnu, Rabu (20/5/2020).

Kemudian selepas sahur, ia dan timnya pun bersiap memakai APD lengkap.

Mereka berangkat beriringan dengan ambulans dari RSUD Bantul.

"Kita belum tahu petinya, belum kita lihat karena masih di dalam ambulans, kita langsung ke Dlingo jaraknya sekira 45 menit dari rumah sakit," ujar Wisnu.

Sesampainya di lokasi pemakaman, ia dan timnya baru mengetahui jika usia bayi yang akan mereka makamkan adalah berumur 10 hari

Saat mengetahui hal itu, Wisnu dan timnya mengaku sangat kaget.

"Sampai di sana barulah kita tahu 'kok petinya kecil sekali', ternyata usianya 10 hari."

"Nah itu membuat kami sedikit syok sih, terutama bagi teman-teman yang sudah punya anak, saya juga langsung keinget anak-anak," ujarnya.

Ketika tiba di lokasi pemakaman, ternyata jenazah bayi tersebut belum dishalatkan, maka Regu 2 akhirnya berbagi tugas.

Sebagian menyalatkan jenazah bayi tersebut, dan sebagian lainnya menyiapkan pemakaman.

"Akhirnya kita sempat menanyakan kepada petugas yang ada di rumah sakit, sudah dishalatkan atau belum, ternyata belum, ya sudah kita shalatkan di sana (tempat pemakaman)."

"Sebagian menyalatkan, sebagian menyiapkan untuk pemakaman," ujar Wisnu.

Baca Juga: Haru, Warga Kristen Cegat Ambulans Bidan Islam Positif Corona untuk Doakan Kesembuhan

Proses pemakaman dilalui dengan merangkak


Ketika hendak memakamkan bayi tersebut, Wisnu dan tim harus kembali berjuang untuk masuk ke dalam pemakaman.

Mereka harus melalui medan yang tidak mudah, pasalnya lokasi pemakaman penuh dengan batu nisan yang dinaungi bangunan-bangunan kecil

"Tapi ternyata medannya cukup sulit, sulitnya itu karena penuh dengan cungkup (kuburan permanen)."

"Jadi kita hanya bisa melewati celah-celah sempit, merangkak bahkan, merunting atau mengestafetkan peti," papar Wisnu.

Meskipun peti tidak besar dan bisa diangkat satu orang, akan tetapi tim tetap melakukan estafet lantaran medannya yang sangat sempit.

Pemakaman paling berat

Wisnu dan rekan satu timnya mengaku, pemakaman bayi yang masih berusia 10 hari itu sangat berat.

Pasalnya, mereka tak menyangka akan menguburkan seorang bayi yang masih berusia 10 hari.

"Secara psikologis iya, tetapi secara fisik ada yang jauh lebih berat," terang Wisnu.

"Memang itu membuat kaget lah bagi kita, kok anak, bayi bahkan, kok sampai sudah terkena," tambahnya.

Wisnu juga mengungkapkan suasana haru ketika seorang anggota di timnya menahan tangis saat mengadzani bayi tersebut.

"Satu relawan yang mengadzani pun sempat nggak bisa menahan perasaan, hampir nangis lah, kami semua trenyuh karena kami semua punya anak," ujarnya.

Baca Juga: Nekat Belanja Hingga Berdesakan, Pembeli Was-was Ada Kasir yang Positif Corona

Coretan pada baju hazmat


Ada yang menarik perhatian saat menyaksikan foto yang diunggah oleh akun @Lekday.

Pasalnya, dalam foto itu terlihat para relawan yang menguburkan bayi tersebut mengenakan hazmat dengan coretan di punggung mereka.

"Surga menantimu dek bayi," demikian bunyi tulisan berspidol hitam di baju hazmat mereka.

Di bawah tulisan tersebut juga tergambar lambang cinta.

Wisnu mengungkapkan, coretan di baju hazmat mereka sebagai sebuah penanda dan pesan.

Tak hanya itu, setiap pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19, Wisnu dan timnya selalu menuliskan sesuatu di baju hazmat mereka.

"Kadang-kadang kita tulisin nama anak atau kadang-kadang seperti kemarin (Surga menantimu dek bayi)."

"Dulu pernah kita menuliskan nama jenazahnya di setiap APD kami, itu sebagai bentuk empati dari jenazah yang kami urus," ujar Wisnu.

Terkadang Wisnu dan timnya juga menuliskan pesan untuk masyarakat di baju hazmat mereka.

"Intinya sebagai penanda juga," ujarnya.

Wisnu juga mengingatkan masyarakat agar tetap mematuhi anjuran dan menjaga jarak, serta tidak bepergian dalam membantu upaya memutus rantai penularan virus corona.

"Kita mohon sekali kepada semua masyarakat Indonesia ini sabarlah dikit."

"Tetaplah di rumah, jaga jarak, nggak usah mudik lah, nggak usah pergi-pergi dulu."

"Jangan paksa kami untuk ngubur-ngubur kayak gitu, sabarlah sebentar."

"Kita bareng-bareng untuk memutus rantai penularan dari Covid-19 ini. Jangan diremehkan, ini memang penyakit yang bisa membunuh banyak orang, kita belum punya vaksinnya," ungkap Wisnu.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb