Ikut Giveaway atau Kuis Gratis yang Diundi Termasuk Judi?
Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 21 Apr 2020Contoh giveaway - Image from youtube.com
Apakah termasuk sedekah atau masuk judi?
Tidak dipungut biaya sih, tapi syaratnya harus mempromosikan jualannya, pemilihan pemenangnya juga diundi berdasarkan komentar atau jawaban yang ditanyakan, bagaimana hukumnya dalam islam?
Sebagian dari kita pasti mengenal, atau bahkan pernah mengikuti giveaway alias bagi-bagi hadiah gratis, di mana praktik sejenis ini memang sudah lazim digunakan dalam pemasaran produk.
Partisipan dalam giveaway ini memang tidak perlu mengeluarkan biaya dalam keikutsertaannya.
Namun, untuk mengikuti kegiatan ini, produsen biasanya akan memberi syarat kepada partisipan, misalnya seperti:
- Berlangganan email
- Sharing info tentang giveaway ke platform media sosial yang lain
- Menginfokan atau mengajak teman untuk mengikuti kegi
- Mengirimkan komentar
- Memberi spam likes
Atau hal lainnya yang notabennya berujung pada “mempromosikan” produk dari produsen yang mengadakan event giveaway tersebut.
Lalu sebenarnya bagaimana sih, hukum kegiatan seperti ini? Apakah mengandung unsur judi sehingga tidak diperbolehkan untuk dilakukan?
Dalam kitabnya, ”Al-Hawaafiz at-Tijaariyah at-Taswiiqiyah wa Ahkaamuhaa fii al-Fiqh al-Islaamiy”, Syaikh Dr. Khaalid al-Mushlih hafizhahullah menyebutkan jenis kegiatan seperti ini.
Beliau mengatakan,
هذا النوع يُطلب فيه من المتسابقين إنجاز عمل معين: إما أن يكون إجابة على أسئلة ثقافيّة ومعرفيّة، أو أسئلة تتعلق بالسلعة أو الشركة التي يراد الترويج لها؛ وإما أن تكون إكمال جملة دعائية إنشائية لما يراد ترويجه من السلع أو الخدمات، وإما أن تكون مزيجًا من ذلك، وإما أن تكون تصحيح أغلاط إملائية في نص إعلاني لسلعة، أو خدمة يراد الترويج لها، وما أشبه ذلك. ثم بعد فرز الإجابات يحدّد الفائز عن طريق القرعة غالبًا، وهي ما يسمى بالسحب
Artinya: “Pada kontes jenis ini, kontestan diminta untuk melakukan aktivitas tertentu seperti menjawab pertanyaan yang bersifat wawasan atau kognitif, menjawab pertanyaan terkait produk atau perusahaan yang ingin dipromosikan, menyempurnakan kalimat promosi terkait barang dan jasa yang hendak dipromosikan, membetulkan redaksi iklan suatu produk atau jasa yang dipromosikan, atau kombinasi semua hal itu atau aktivitas yang serupa. Kemudian setelah jawaban disortir, umumnya pemenang kontes ditentukan dengan cara diundi. Hal ini lazim disebut undian.”
Syaikh Dr. Khaalid al-Mushlih melanjutkan,
والذي يظهر أن في إدخال هذه الصور من الحوافز في المسابقات الترغيبية نظرًا؛ وذلك أن هذه الصور أقرب إلى الهدايا منها إلى المسابقات، ووجه ذلك أن المسابقات الترغيبية فيها طلب التقدم على الغير ومغالبته، أما الهدايا فليس فيها سوى التشوّف لتحقيق شرط تحصيل الهدية، وهذا لا يُعَدُّ من المسابقات؛ إذ إن كل من حقق الشرط استحق الهدية
Artinya: “Mengkategorikan jenis kontes ini sebagai insentif dalam kontes atraktif nampaknya perlu ditinjau kembali, karena aktivitas ini lebih sesuai dikategorikan sebagai pemberian hadiah ketimbang kontes (kuis). Alasannya adalah dalam suatu kontes ada tuntutan untuk mengungguli dan mengalahkan partisipan yang lain. Adapun dalam aktivitas pemberian hadiah, tidak ada aktivitas yang dilakukan selain memenuhi item yang dipersyaratkan untuk memperoleh hadiah. Tentu yang demikian itu tidak dikategorikan sebagai kontes (perlombaan), karena setiap orang yang telah memenuhi persyaratan berhak memperoleh hadiah tersebut.”
Baca Juga: Menjadi Tradisi, Hukum Memberi Uang Kepada Anak Kecil Ketika Lebaran
Pendapat Dr. Khalid al-Mushlih tersebut turut diamini oleh Khaliifah al-Jaabiri, seorang peneliti dalam makalahnya yang berjudul “Ahkaam al-Musaabaqaat fii al-Fiqh al-Islaamiy”.
Dalam makalah yang berjudul “Ahkaam al-Musaabaqaat al-Mu’aashirah fii Dhau al-Fiqh al-Islaamiy”, Prof. Dr. Utsmaan Syabiir mengatakan,
حكم المسابقة التي فيها عمل من المشتري دون اشتراط الشراء من الشركة: تهدف هذه المسابقة إلى الترويج للسلعة التي تنتجها الشركة، واكتساب الشهرة، وهي جائزة شرعًا؛ لأن الترويج للسلعة، واكتساب الشهرة جائزان شرعًا، إذا ما روعيت فيهما الضوابط الشرعية من الصدق في التعريف بالسلعة؛ ولأنها لا تخرج عن كونها هدية لمن يجيب على الأسئلة المطروحة
Artinya: “Perlombaan yang menuntut pembeli (partisipan) melakukan suatu aktivitas tanpa mempersyaratkan pembelian produk dari perusahaan, dimana perlombaan ini bertujuan untuk mempromosikan barang yang diproduksi oleh perusahaan itu, hukumnya boleh. Karena mempromosikan dan memperkenalkan produk adalah aktivitas yang diperbolehkan dalam agama selama berada dalam koridor ketentuan-ketentuan agama seperti jujur dalam mendeskripsikan produk. Selain itu, aktivitas itu tercakup dalam kategori memberikan hadiah yang diberikan kepada orang yang menjawab pertanyaan yang diberikan.”
Baca Juga: Haruskah Adil Memberi Hadiah Pada Anak-anak?
Nah, dari penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwasanya mengadakan dan mengikuti kegiatan kuis atau giveaway untuk memperoleh hadiah secara gratis, hukumnya diperbolehkan.
Meskipun penyelenggara mempersyaratkan partisipan melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat mempromosikan produk (jasa).
Selain kegiatan itu tidak dipungut biaya dan partisipan tidak mengalami kerugian, maka aktivitas-aktivitas yang dipersyaratkan seperti berlangganan email, mengirimkan komentar dan spam likes, tidak menghapus kehalalan hukum aktivitas giveaway, sebab hal itu begitu ringan untuk dilakukan, dan juga tidak membutuhkan upaya yang besar dan biaya.
wallahu a'lam bishawab