Boleh Nggak sih, Nonton Video Masak-masak Saat Puasa?

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 25 Apr 2020

Boleh Nggak sih, Nonton Video Masak-masak Saat Puasa?

Video masak-masak di Instagram - Image from www.mstar.com.my

Nunggu waktu maghrib, enaknya nonton video di youtube nih.

Terkadang menonton video orang makan atau orang lagi masak-masak sembari mencari referensi buat buka puasa nanti adalah suatu kegiatan yang menyenangkan dilakukan di bulan puasa ini, tapi apa nggak membatalkan atau mengurangi pahala puasa ya?

Adzan maghrib adalah suara merdu yang paling dirindukan umat muslim saat sedang berpuasa. Saat mendengar kumandang adzan maghrib, siapapun diwajibkan untuk segera berbuka puasa. 

Nah, tiga jam menjelang adzan maghrib merupakan waktu yang cukup kritis.
Pada waktu tersebut, kondisi tubuh sudah sangat menurun lantaran kadar gula dalam darah terbakar menjadi energi sebagai penunjang aktivitas.

Alhasil, perut menjadi keroncongan dan terasa sangat lapar sebelum adzan maghrib tiba. Godaan terasa semakin berat saat kita melihat foto makanan yang beredar di media sosial.

Instagram misalnya, yang menjadi media sosial paling banyak menyuguhkan gambar ataupun video makanan lezat penggugah selera.

Tak jarang, kita bahkan merasa tergoda hingga tak sabar menantikan waktu berbuka puasa.

Lalu bagaimana sih, hukum melihat gambar makanan lezat yang menggoda di media sosial saat sedang berpuasa? Apakah hal tersebut bakal mengurangi pahala berpuasa?

Seorang dai asal Sroyo, Karanganyar, Ahmad Hudaya, yang juga merupakan dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta memberi jawaban. 

Ia mengatakan, melihat foto makanan lezat di media sosial tidak dilarang.

“Kalau hanya melihat foto makanan dan merasa ingin segera berbuka ya tidak masalah. Yang jadi masalah kalau benar-benar berbuka. Berarti orang itu tidak bisa menahan nafsunya,” ungkapnya melansir Solopos.com, Senin (21/5/2018).

Seperti yang kita ketahui bersama, hakikat berpuasa adalah mengendalikan hawa nafsu.  Pengertian mengendalikan ini menurut ahli tafsir Alquran Indonesia, Quraish Shihab, sifatnya hanya mengatur, bukan membunuh.

“Nafsu itu diperlukan. Kita lapar, butuh nafsu untuk makan. Tapi, harus dikendalikan. Jangan alasan puasa, waktu buka semua makanan dimakan, kendalikanlah. Jadi, nafsu itu dikendalikan, bukan dibunuh atau dicegah sama sekali. Nah, puasa tujuannya untuk itu,” ujar Quraish Shihab melalui video Shihab Shihab yang diunggah di channel Youtube Najwa Shibab.

Secara umum, terdapat tiga jenis nafsu yang dijelaskan di dalam Al-quran, yaitu:

1. Nafsu muthmainnah yang artinya jiwa. Apapun yang terjadi dia akan merasa tenang.

“Nabi melukiskan orang yang dapat nikmat bersyukur, itu menakjubkan. Kalau dia kena musibah, sabar itu baik. Sehingga dia selalu tenang apapun yang terjadi,” tambah Quraish Shihab.

2. Nafsu lawwamah, yakni nafsu yang selalu mengecam apabila seseorang melakukan dosa.

Singkatnya begini, seseorang yang melakukan dosa akan terus mengecam dirinya karena kesalahan tersebut dan berusaha memperbaiki diri. 

3. Nafsu ammaratu bissu, atau yang biasa dinamakan nafsu.

“Nafsu yang selalu mendorong kepada yang buruk. Nafsu ammaratu bissu ini tidak pernah puasa. Kalau diberi ini dia malu lebih. Jadi harus dihalangi, begitulah nafsu manusia. Nafsu bisa dihalangi dengan kekuatan jiwa seseorang,” ujar Quraish Shihab.

Baca Juga: Bukan Teh Manis atau Gorengan, ini Menu Buka Puasa Ala Rasulullah SAW

Ingat, nafsu merupakan hal yang tidak berujung. Sekali manusia menyerah, maka ia akan terus terjerumus. Ibarat minum air laut, semakin diminum semakin haus. 

Namun, Quraish Shihab menegaskan bahwa nafsu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dikendalikan. “Sekali lagi, jangan bunuh nafsu, kendalikan dia. Puasa tujuannya mengendalikan nafsu kita,” tutup Ayahanda presenter kondang Najwa Shihab itu.

Daripada nonton video masak, mending baca Al-Qur'an saja

Dari penjelasan diatas, dapat kita ketahui bahwasanya menonton video masak-masak saat menjelang berbuka adalah hal yang tidak dilarang.

Yang jadi masalah itu, kita jadi kepingin lalu memutuskan untuk makan dan minum saat itu juga.

Kita pasti nggak mau kan, sudah seharian berpuasa, eh tinggal 3 jam saja malah batal. Yang didapat hanya rasa lapar dan dosa saja.

Jika tak ingin demikian, maka sebaiknya kita melakukan kegiatan lain selain melihat video masak-masak di media sosial.

Banyak hal yang bisa kita lakukan, tadarus Al-Qur'an misalnya.

Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Artinya: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil” (QS.Al Baqarah : 185)

Baca Juga: Keutamaan 10 Hari Pertama Ramadhan, Allah Curahkan Rahmat dan Limpahan Pahala

Sedangkan keutamaan membaca Al-Quran sangat banyak dijelaskan, salah satunya dalam Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” ( HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Dan juga Sabda beliau, 

مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

Artinya: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam” ( HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468)

Nah, banyak sekali kan, manfaat yang didapat dari membaca Al-Qur'an? Makanya, daripada melihat video masak-masak di sosial media lalu membuat kita goyah, lebih baik lakukan ibadah yang jelas-jelas mendapatkan banyak pahala.

loading...