Rapid Test Corona Ternyata Tidak Semudah yang Dibayangkan

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 27 Mar 2020

Rapid Test Corona Ternyata Tidak Semudah yang Dibayangkan

Tenaga medis melayani warga yang akan menjalani rapid test - Image from www.ayobandung.co

Rapid test corona untuk skrining rupanya tidak semudah yang dibayangkan. 

Meskipun hasil yang keluar bisa dikatakan cepat yakni kurang dari 2 menit, namun cara mengambil sampel rapid test dengan darah butuh penanganan yang ekstra teliti. Selain itu hanya ada beberapa golongan saja yang dapat melakukan rapid test corona ini.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto memastikan sebanyak 150.000 kit atau alat rapid test sudah tiba di Indonesia. 

Pemeriksaan sudah dilaksanakan beberapa hari lalu hingga saat ini.

Rapid test Corona COVID-19 untuk skrining rupanya tidak semudah yang dibayangkan. 

Walaupun hasil yang keluar cepat, bisa kurang dari 2 menit, cara mengambil sampel rapid test dengan darah butuh penanganan ekstra teliti.

Melansir Liputan6.com (27/3), July Kumalawati dari Departemen Patologi Klinik RS Cipto Mangunkusumo Jakarta menyampaikan bahwa, untuk mengambil sampel darah dengan rapid test, tenaga kesehatan harus menggunakan alat pelindung diri (APD).

"Namanya rapid test memang cepat. Istilahnya praktis tapi not simple (tidak praktis) juga. Sama dengan metode pengambilan spesimen secara konvensional, seperti PCR. Harus ekstra hati-hati," ungkap July ketika diskusi secara Live dengan Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi), Kamis (26/3/2020).

Baca juga: Pakar Prediksi Indonesia Jadi Pusat Penyebaran Corona Setelah Wuhan

"Yang mengambil spesimen harus pakai APD lengkap, yang seperti baju astronot itu. Supaya terhindar dari kontaminasi." tambah July.

Tak hanya menekankan sterilisasi, dari segi pengambilan spesimen darah juga perlu diperhatikan, yakni ketepatan volume darah.

Jangan sampai volume darah yang diambil malah kurang. Cara membaca hasil rapid test pun juga menjadi patokan.

"Hasilnya nanti bisa salah kalau volume darahnya engga sesuai (kurang). Kemudian cara membaca hasil rapid testnya. Tidak terlalu cepat atau lambat. Lokasi saat membaca hasilnya juga di mana," ungkap July.

"Bacanya di tempat yang terang atau remang-remang. Mata kita bisa beda-beda juga cara membacanya. Misalnya, saya pakai kacamata minus dan plus." tambahnya.

Baca Juga: 5 Hal yang Wajib Diketahui Soal Infeksi Virus Corona Tanpa Gejala

Dalam alat kit rapid test terdapat pita kontrol, yang menandakan apakah sampel dari orang yang bersangkutan negatif atau malah positif corona. 

Pastikan ketika membaca hasil rapid test, pita kontrol harus muncul. Karena apabila tidak muncul, maka hasil tidak bisa dibaca.

"Pastikan pita kontrolnya keluar. Biasanya ada 1 pita, ada juga yang 2 sampai 3 pita kontrol. Dimohon juga perhatikan lama waktu rapid test bekerja. Enggak boleh kurang (sehingga hasil yang keluar bisa tepat waktu)," kata July yang juga bekerja di PDS PatKLIn Jakarta Diagnostik Laboratorium COVID-19 itu.

Rapid Test Corona Ternyata Tidak Semudah yang Dibayangkan

Tenaga medis sedang melakukan rapid test terhadap warga - Image from www.liputan6.com

Kategori yang Mendapat Prioritas Rapid Test Corona

Prioritas pertama ialah mereka yang pernah melakukan kontak dekat dengan pasien yang sudah terkonfirmasi positif virus Corona.

"Di dalam konteks pemeriksaan rapid test ini kita sudah menentukan kebijakan pertama rapid test akan kita laksanakan kepada kontak dekat kasus positif yang sudah terkonfirmasi dan dirawat di rumah sakit atau kasus konfirmasi positif yang harus dilaksanakan isolasi rumah maka bagian dari penelusuran terhadap kontak keluarga yang tinggal serumah dengan pasien itu harus kita periksa semuanya," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang disiarkan di laman YouTube BNPB, Selasa (24/3/2020).

Yuri mengatakan semua anggota keluarga pasien positif Corona akan diperiksa. Selain itu, rekan kerja pasien positif Corona akan diperiksa jika dia memiliki riwayat sempat bekerja.

"Kalau kemudian di dalam perjalanan, kontaknya sebelum sakit ternyata juga ada riwayat sempat bekerja di tempat pekerjaannya dan ada lingkungan kerja yang juga memiliki kemungkinan kontak dekat maka kita juga melakukan pemeriksaan di tempat dia bekerja, ini prioritas yang pertama," ujar dia.

Sedangkan prioritas kedua adalah tenaga medis yang melakukan pelayanan terkait virus Corona. Bahkan tak hanya itu, petugas di front office rumah sakit juga akan diperiksa.

"Kita melakukan pemeriksaan kepada semua tentang kesehatan yang kemudian terkait layanan dengan COVID-19. Ini harus kita periksa, termasuk front office rumah sakit juga kita lakukan pemeriksaan karena kita tahu bahwa mereka adalah kelompok yang sensitif untuk rentan terinfeksi COVID-19," ujar Yuri.

Pemeriksaan metode rapid test ini, kata Yuri, akan diperluas jika pemerintah telah menerima tambahan kit baru. Pemeriksaan akan dilakukan berbasiskan wilayah.

"Sudah barang tentu kalau kit yang kita datangkan semakin banyak nanti kita akan berbasis pada wilayah sementara kita tracing pada kelompok yang memiliki kerentanan tinggi yaitu kontak dekat dan petugas kesehatan," ujar dia.

Adapun untuk tenaga kesehatan yang mengambil spesimen rapid test, disarankan seseorang yang sudah ahli. Meskipun tidak harus terlatih sekali.

"Saya sebenarnya lebih senang kalau seseorang yang sudah terlatih menggunakan rapid test walaupun namanya enggak harus terlatih banget. Kalau orang awam (yang dicemaskan) belum tentu melaksanakan prosedur pengambilan spesimen dengan baik. Akibatnya, hasilnya tidak bisa dipertanggungjawabkan nanti," ungkap July menekankan.

Baca Juga: Seberapa Besar Potensi Anda Terjangkit Corona? Jawab dengan Pertanyaan Berikut

Demi membaca hasil rapid test, petugas juga dapat menghubungi dokter laboratorium patologi atau mikrobiologi untuk pembacaan. "Jangan sampai rapid test menyebabkan kebingungan," July melanjutkan.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb