MasyaAllah, Terungkap Bukti Ilmiah Mukjizat Nabi Musa Saat Membelah Laut Merah

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 03 Sep 2020

MasyaAllah, Terungkap Bukti Ilmiah Mukjizat Nabi Musa Saat Membelah Laut Merah

Ilustrasi terbelahnya laut merah - Image from kumparan.com

Masih ingat dengan kisah mukjizat Nabi Musa?

Ilmuwan mengungkapkan bukti ilmiah dari mukjizat Nabi Musa. Bahkan ia juga berusaha menggambarkan kisah tersebut dalam sebuah video yang menunjukkan ilustrasi proses laut merah terbelah.

Dalam kepercayaan Abrahamik, ada kisah di mana Nabi Musa pernah membelah Laut Merah menggunakan tongkatnya. Saat itu beliau memimpin bangsa Israel melarikan diri dari Firaun setelah lebih dari 400 tahun diperbudak. 

Kini ilmuwan mengklaim telah menemukan bukti ilmiah soal kejadian yang tertulis dalam kitab suci agama samawi. 

Bukti ilmiah itu diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE berjudul “Dynamics of Wind Setdown at Suez and the Eastern Nile Delta”, Carl Drews dan Weiqing Han dari University of Colorado, AS. 

Peta Rekonstruksi 

Dalam jurnal tersebut menjelaskan bahwa kejadian terbelahnya Laut Merah di zaman Nabi Musa kemungkinan terjadi di wilayah Delta Sungai Nil, tepatnya di selatan Laut Mediterania. 

Kesimpulan itu didapat berdasarkan simulasi komputer yang menunjukkan bahwa sisi lokasi dan kedalaman Delta Sungai Nil mirip dengan Laut Merah pada masa Nabi Musa, sekitar 1250 SM. 

Drews mengatakan tak mudah untuk mencari tahu di mana tepatnya lokasi Musa membelah lautan tersebut. Sebab topografi pada zaman Nabi Musa telah mengalami banyak perubahan dibandingkan dengan saat ini. 

Namun, berbekal peta dari James Hoffmeier, seorang ahli budaya Mesir dan arkeolog dari Trinity Evangelical Divinity School, Drews dan rekannya mencoba memetakan letak Nabi Musa dan rombongannya. 

MasyaAllah, Terungkap Bukti Ilmiah Mukjizat Nabi Musa Saat Membelah Laut Merah

Rekonstruksi Delta Nil - Image from kumparan.com

Peta yang diterbitkan Hoffmeier adalah gambaran Delta Nil Timur pada masa 1250 SM. 

Berdasarkan peta tersebut, Musa dan bangsa Israel kemungkinan menyeberang dari titik B ke kedua, ketika air menumpuk di Danau Tanis sehingga terbentuk sebuah jembatan darat sepanjang 3-4 kilometer di antara dua titik tersebut. 

Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa terbelahnya laut tidak benar-benar terjadi di Laut Merah, yang saat ini digambarkan sebagai perairan sempit dan panjang mengalir antara Arab Saudi di sebelah timur serta Mesir dan Sudan di sebelah barat. 

Melainkan terjadi di Danau Tanis atau yang dalam sejarah bangsa Israel dikenal dengan sebutan Laut Teberau. 

“Danau Tanis adalah laguna payau yang dangkal, dan itu adalah habitat ideal bagi buluh papirus,” kata Drews. 

“Jadi jika kamu ingin menemukan Laut Teberau, itu masih ada di Danau Tanis.” 

Proses Terbelahnya Laut 

Lebih lanjut Drews mengatakan bahwa alih-alih terbelah menjadi dua, peristiwa exodus itu diperkirakan terjadi karena faktor cuaca. Hal ini berarti secara harfiah Nabi Musa tidak benar-benar membelah Laut Merah. 

Dalam kitab bangsa Israel diceritakan bahwa saat Musa membelah lautan, dia mengulurkan tangannya ke atas, dan Tuhan meniupkan angin timur sangat kencang sepanjang malam hingga membuat laut menjadi daratan kering. Sehingga air terbagi menjadi dua. 

Menurut Drews, peristiwa atmosfer adalah hal yang paling mungkin terjadi meskipun dibutuhkan angin yang sangat kencang untuk membelah air. 

Ia lantas berhipotesis, kemungkinan air pantai bisa terbelah ketika terjadi fenomena yang disebut “angin terbenam.” 

Ini terjadi saat angin kencang dengan kekuatan sekitar 96 km/jam mendorong air pantai dan menciptakan gelombang badai di satu lokasi. Sedangkan perairan timur berasal dari arah datangnya air bergerak menjauh. 

Akibatnya, air terbelah menjadi dua dan menciptakan daratan kering selama beberapa sat. Untuk melihat lebih jelas, simak video berikut ini: 

Drews mengatakan, fenomena seperti ini sebenarnya lazim terjadi di zaman modern dan beruntung sejauh ini tak pernah menjatuhkan korban. Hanya saja, saat itu terjadi, air laut akan benar-benar mengering. 

“Jadi air ini mengalir dari satu sisi tubuh ke sisi lainnya dan meninggalkan tempat yang kering,” katanya. 

Berdasarkan hipotesis tersebut, Drews menyimpulkan bahwa Musa bersama rombongannya berhasil lolos dari kejaran pasukan Mesir dengan cara menyeberangi perairan yang terbelah akibat angin kencang. 

Mereka berjalan dalam waktu 4 jam untuk menyeberangi laut kering yang membentang sepanjang 3-4 kilometer dengan lebar 5 km. 


Menanggapi penjelasan ini ada berbagai pro kontra di masyarakat. Salah satunya ada yang menyatakan sebaiknya tak perlu membuktikan secara ilmiah mengenai mukjizat yang ada pada Nabi, sebab hal itu adalah kuasa Allah SWT. 

Sedangkan yang pro, menganggap penjelasan ini adalah bagian dari mengungkapkan sunnatullah / hukum Allah dalam mukjizat yang diberikannya. 

Terlepas benar atau salahnya pembuktian ini, tentu tak akan mengurangi keyakinan kita terhadap kisah mukjizat Nabi Musa yang termaktub dalam Al Quran. 

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari pembuktian dan kisah Nabi Musa as ini. 

SHARE ARTIKEL