Mulanya Sehat Tiba-tiba Lumpuh dan Hampir Mati, Dikira Stroke Ternyata Kena Covid-19

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 15 Aug 2020

www.cbsnews.com - Image from www.cbsnews.com

Covid-19 juga serang saraf dan bisa sebabkan kelumpuhan 

Dokter menduga pasien mengalami stroke. Tapi setelah menjalani serangkaian tes, ternyata diketahui bukan stroke melainkan corona. Begini kronologis lengkapnya. 

Wanita yang mulanya dalam kondisi sehat ini terinfeksi Covid-19 tanpa gejala apapun, namun ia mengalami kelumpuhan dan bahkan hampir meninggal dunia. 

Dikira Kena Stroke 

Dilansir Insider, Rebecca Wrixon pertama kali dilarikan ke UGD pada pertengahan April. Ia mengalami mati rasa pada tangan dan kaki bagian kanan. 

Wrixon tak mengira ia terinfeksi Covid-19, Ia malah mengira dirinya terkena stroke. Dokternya di University Hospital Southampton, Inggris pun juga berpikir hal yang sama. 

Terutama saat Wrixon mengalami kesulitan berbicara dan penglihatan yang menurun setelah dibawa ke rumah sakit. Namun, setelah dilakukan pengujian, hasilnya menunjukkan bukan stroke. Kondisi Wrixon terus memburuk.

Dokter kemudian melakukan tes lain, yaitu uji swab Covid-19. Dan betapa kagetnya saat mengetahui bahwa Wrixon dinyatakan positif.

"Saya tidak merasa ini ada hubungannya dengan Covid-19 karena gejala umumnya biasanya batuk dan panas, saya tidak mengalami keduanya," ujar Wrixon kepada Insider.

Sebelum lengannya mati rasa, Wrixon mengatakan dia mengalami beberapa gatal-gatal dan sakit kepala selama sekitar seminggu.

Selama 18 hari dirawat di rumah sakit, Wrixon kehilangan kemampuan untuk berbicara dan melihat dengan jelas. Ia bahkan mengalami kelumpuhan pada sisi kanan tubuhnya.

Ternyata Corona, Antibodi Malah Serang Tubuh 

Pertukaran plasma darah yang menghapus antibodi Wrixon yang terlalu aktif akhirnya menyelamatkan hidupnya. 

Gejala Wrixon sangat membingungkan karena tes cairan tulang belakangnya menunjukkan bahwa virus tidak langsung menyerang sistem sarafnya, kata Ashwin Pinto, konsultan ahli saraf untuk kasus Wrixon.

Tetapi pemindaian MRI menunjukkan otaknya mengalami radang parah dan ada sesuatu yang menyebabkan pembengkakan itu. Pinto menduga bahwa sistem kekebalan Wrixon adalah penyebab dari penyakitnya. 

Kondisi otak yang terkena radang dan berangsur membaik - Image from cbsnews.com

Antibodi bertugas memberi tahu sistem kekebalan tubuh bagaimana merespon penyusup seperti virus corona. Tetapi terkadang, antibodi mendapatkan pesan yang salah dan menyebabkan tubuh justru menyerang diri sendiri. 

"Hipotesisnya adalah bahwa ini adalah fenomena yang dimediasi oleh kekebalan," Pinto mengatakan kepada Insider.

"Sel darah putih dan antibodi yang membantu kita pulih dari infeksi entah bagaimana mendapatkan akses ke otak dan menyebabkan kerusakan."

Perawatan untuk respons autoimun semacam itu adalah pertukaran plasma darah, yaitu dengan mengganti plasma pasien sendiri (yang mengandung antibodi mereka) dengan plasma donor yang memiliki antibodi berbeda. 

Dengan "membersihkan" antibodi Wrixon yang terlalu aktif dan menggantinya dengan plasma darah yang sehat, Pinto dan timnya mampu membalikkan peradangan dan menghentikan gejalanya. 

Kondisi Mulai Membaik 

Sehari setelah pertukaran plasma, Wrixon bisa menggerakkan jari telunjuknya. Dalam lima hari prosedur, dia bisa berjalan, berbicara, dan bergerak seperti semula.

Hampir setengah dari pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit mengalami gejala neurologis. Meskipun gejala neurologis COVID-19 yang parah jarang terjadi, kasus Wrixon tidaklah unik.

Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Neurology menyimpulkan bahwa COVID-19 menimbulkan "ancaman global bagi seluruh sistem saraf".

Sekitar setengah dari pasien virus korona yang dirawat di rumah sakit mengalami sejumlah gejala neurologis. 

Gejala penyakit sistem saraf pusat COVID-19 termasuk mengigau, sulit berkonsentrasi, pusing, kehilangan bau dan rasa, kejang, stroke, lemah, nyeri otot, penurunan kewaspadaan, dan sakit kepala.

Gejala neurologis ini muncul sebelum masalah pernapasan terjadi. Oleh sebab itu, penting bagi orang-orang untuk mengetahuinya, kata penulis penelitian dalam siaran pers.

Meskipun penyakit Wrixon ternyata bukan stroke, beberapa pasien virus Corona justru mengalami stroke akibat pembekuan darah atau penurunan aliran oksigen ke otak.

Saat virus merusak jantung dan paru-paru, kekurangan oksigen dapat menyebabkan masalah di seluruh tubuh.

"Ini penyakit luar biasa yang menyebabkan sejumlah besar manifestasi berbeda, yang tampaknya sangat bervariasi dari satu pasien ke pasien lainnya," kata Pinto.

Studi lain yang diterbitkan pada bulan Juli menemukan bahwa bahkan pasien dengan kasus COVID-19 "ringan", yang berarti mereka tidak memerlukan oksigen tambahan atau ventilator, dapat mengalami berbagai gejala neurologis. 

Bukan dalam ranga memberikan ketakutan, tapi wawasan ini diperlukan untuk membuat kita agar lebih waspada. Jangan meremehkan dan mengabaikan corona. Serta tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. 

SHARE ARTIKEL