Hei Suami, Tanggung Jawabmu Bukan Hanya Sekedar Memberi Makan

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 09 Apr 2020

Hei Suami, Tanggung Jawabmu Bukan Hanya Sekedar Memberi Makan

Ilustrasi - Image from wajibbaca.com

Suami bukan sekedar pencari nafkah.

Tak jarang aktivitas keseharian suami hanya diisi dengan mencari nafkah untuk keluarganya, dari pagi hingga malam hari, bahkan di rumah pun masih mengurusi masalah pekerjaan. Wahai para suami tahukah kamu, bahwa sebenarnya suami punya tanggung jawab yang juga tak kalah pentingnya.

Pentingnya Bertanggung Jawab dalam Keluarga 

Membangun rumah tangga itu ibarat berlayar di lautan. Kadangkala kita akan menjumpai ombak-ombak kecil yang indah, namun adakalanya juga kita berjumpa dengan hantaman badai yang kuat. 

Sehingga kesamaan tujuan, kesiapan fisik dan mental, kesadaran untuk bertanggung jawab dalam terbinanya rumah tangga yang harmonis adalah modal dasar mengarungi bahtera rumah tangga. 

Dalam berproses membangun rumah tangga, masing-masing anggota harus menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. Utamanya sebagai seorang suami. 

Suami adalah sosok kepala rumah tangga. Sosok yang memimpin keluarganya, menjadi petunjuk jalan kemana keluarga ini akan dibawa. 

Baca juga : Istri Harus Tahu, ini 20 Tanggung Jawabnya Terhadap Suami

Kesalahan Suami yang Sering Terjadi 

Namun, saat ini, kebanyakan suami hanya berfokus untuk mencari nafkah. Dari pagi hingga malam berkutat dengan pekerjaannya. Bahkan hingga di rumah pun, masih berurusan dengan pekerjaan hingga menjelang tidur. 

Lantas bagaimana dengan tanggung jawab utama suami? Mendidik perkara agama terhadap istri dan anaknya. Memberikan ajaran agama, agar keluarganya tidak berpaling dari jalan Allah. 

Ajarkan Perkara Agama adalah Tanggung Jawab Suami pada Istri

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Seorang suami hendaknya mendidik (mengajarkan) istrinya hal-hal yang bermanfaat untuk perkara agama dan dunianya.” (Fiqh Ta’aamul baina Az-Zaujain, hal. 10)

Selain itu, di Al Quran juga diterangkan mengenai tanggung jawab suami terhadap keluarganya. Hal ini termaktub dalam ayat berikut ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim [66]: 6)

Suami bertanggung jawab kepada keluarga untuk menjauhkan anak dan istrinya dari api neraka. 

Begitu pula pesan Rasulullah SAW kepada Malik bin Huwairits radhiyallahu ‘anhu, setelah Malik dan rombongannya datang ke Madinah untuk khusus belajar agama kepada Rasulullah, selama kurang lebih dua puluh hari. 

Rasulullah berpesan kepada Malik bin Huwairits ketika mau pulang ke kampung asalnya, "Kembalilah ke istrimu, tinggallah di tengah-tengah mereka, ajarkanlah mereka, dan perintahkanlah mereka.” (HR. Bukhari no. 631, 7246, dan Muslim no. 674)

Jika dirinci, nasehat Rasulullah berisi 3 hal penting berikut ini : 

“Ajarkanlah mereka”

Bermakna pengajaran (agama) secara teoritis. Suami harus mendidik dan mengajari istri tentang kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan perkara agama. Diantaranya ialah perkara shalat, menutup aurat, adab berbicara dan keluar rumah, mendidik anak sesuai syariat, dan perkara-perkara agama yang lainnya.

Selain itu, suami juga bisa mengajarkan kepada istri tentang haidh dan nifas, karena banyaknya kewajiban agama yang berhubungan dengan perkara ini. 

“Perintahkanlah mereka”

Bermakna praktek (pengamalan) di dunia nyata. Karena tidak semua istri yang sudah diajarkan secara teoritis kemudian langsung mengamalkannya. Sehingga menjadi kewajiban suami adalah mengingatkan dan menegur istri ketika lalai menjalankan perintah Allah SWT. 

Memerintahkan Istri untuk Sholat 

Selain itu, Allah dengan tegas dan eksplisit menyampaikan di Al Quran, bahwa suami wajib memberikan perintah kepada istri untuk menunaikan sholat. Perintah ini juga diiringi dengan perintah bersabar dalam menjalankannya.

Sehingga ketika menjumpai istri lalai hingga berkali-kali dalam menunaikan sholat. Hendaknya suami terus mengingatkan dan jangan berputus asa. 

“Dan perintahkanlah kepada istrimu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaaha [20]: 132)” 

"Tinggallah di tengah-tengah mereka"

Salah satu peran penting suami adalah sebagai pendidik dan pengajar ajaran Islam kepada keluarganya. Fungsi sebagai pendidik dalam keluarga ini tidaklah bisa berjalan dengan baik jika suami suka atau hobi “keluyuran” ke luar rumah, meninggalkan anak dan istri tanpa ada kebutuhan yang mendesak. 

Misalnya, suami yang hobi naik gunung sampai berhari-hari, jalan-jalan dan nongkrong dengan temannya, atau hobi-hobi yang lain sehingga suami banyak meninggalkan anak dan istri di rumah serta tidak mengawasi langsung. 

Jika Suami Tidak Mampu

Jika suami tidak mampu mengajarkan perkara agama pada istri, maka kewajiban suami adalah mencarikan ustadz atau ustadzah yang bisa mengajarkan perkara agama kepada istrinya.

Selain itu, suami juga bisa mengizinkan istrinya untuk menghadiri majelis ilmu (pengajian) sehingga istri bisa belajar perkara agamanya. 

Dan jika ada kebutuhan mendesak untuk meminta fatwa berkaitan dengan kejadian yang dialami istri, maka kewajiban suami adalah menanyakan kepada orang yang berilmu tentangnya.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb