Anak Suka Main Perang-perangan? Jangan Dilarang ini Alasannya

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 15 Apr 2020

Anak Suka Main Perang-perangan? Jangan Dilarang ini Alasannya

Anak-anak bermain perang-perangan - Image from majalahayah.com

Tak bisa dipungkiri jika punya anak laki-laki suka perang-perangan

Bahkan tinju-tinjuan, atau berpura-pura menjadi polisi, perampok. Pastinya akan membuat orang tua cemas, tapi ternyata kegemaran anak ini bisa jadi baik loh bun, asalkan sesuai cara mendidiknya seperti ini.

Anak-anak paling senang bermain. Mainan apa saja menarik buat anak-anak, termasuk pistol-pistolan atau berpura-pura jadi penjahat dan polisi. Lantas, berbahayakah jika Bunda membiarkan anak memainkan permainan kekerasan seperti itu?

Baca juga : Social Distancing Berdampak Besar Pada Anak, ini Solusi Atasinya

Utamanya adalah anak laki-laki yang memang suka permainan kekerasan. Mereka akan berlagak seakan menembak teman atau saudaranya, menggunakan tongkat atau balok. Atau berpura-pura sebagai zombie, perampok, polisi, atau main perang-perangan.

Sarah Ockwell-Smith, spesialis metode Gentle Parenting, justru mengkhawatirkan jika orang tua malah mencegah anak bermain tembak-tembakan atau semacam itu karena takut anaknya nanti menginginkan menjadi penjahat. 

"Dalam sebagian besar kasus, anak-anak mungkin mencontoh kekerasan yang pernah mereka lihat di media, baik itu fiktif atau sebaliknya," kata Ockwell-Smith, dalam buku The Gentle Parenting Book.

Ockwell-Smith menyadari, kebanyakan orang tua lebih suka anak-anaknya memainkan permainan yang lebih lembut dan cenderung damai. Padahal, permainan kekerasan ini memiliki peranan penting dalam perkembangan anak-anak, Bunda.

Bermain Sangat Penting bagi Anak-anak 

"Bermain adalah bagaimana anak-anak memahami dunia. Ini adalah cara yang aman bagi mereka untuk bekerja dengan perasaan mereka dan membebaskan mereka. Jadi, ketika anak Anda memainkan peran sebagai pembunuh, itu tidak berarti mereka akan tumbuh menjadi seorang psikopat," jelas Ockwell-Smith.

Melalui permainan, kata Ockwell-Smith, anak akan menggunakan imajinasinya dan perasaannya. Sehingga hal ini memungkinkan anak-anak memproses dengan aman, dan meredakan emosi apapun yang mungkin ditahan dan ditekan.

Para peneliti juga sudah menemukan, bermain senjata mainan di masa kanak-kanak tidak mengarah pada perilaku kekerasan di masa depan. 

"Bagi mereka yang melakukannya, asalkan tidak ada yang benar-benar terluka dan permainannya tetap murni kreatif, maka ini adalah sesuatu yang harus dibiarkan berlanjut sampai anak-anak akhirnya tumbuh," jelasnya. 

Boleh, Asal Tidak Berbahaya 

Dr.Nick Conett, terapis main dari Arkansas, Amerika Serikat, mengungkapkan bermain senjata termasuk pedang-pedangan dari gabus bisa melepas energi bermain anak secara sehat. 

Selain itu, senjata-senjata mainan itu juga tidak menimbulkan kerusakan dan potensi terluka di badan.

Malah, pendapat lain mengatakan, lebih berbahaya anak yang tidak pernah main pistol-pistolan, tapi sering menonton adegan kekerasan melalui tayangan film. 

Apapun itu, penjelasan dan bimbingan Bunda kepada anak sangat penting, agar mereka tidak salah paham dengan senjata mainan yang mereka miliki ataupun permainan yang sedang dimainkan.

Selain itu, tetap awasi permainan yang dilakukan anak-anak ya Bun, agar tidak terjerumus pada perilaku yang berbahaya.

Tak Usah Khawatir Asalkan Diimbangi Permainan Lain

Tak usah khawatir mereka bakal jadi agresif, asalkan diimbangi permainan lain.

Si Buyung mengintip dari balik punggung kursi. Setelah dirasa aman, ia pun melangkah mengendap-endap menuju ruangan lain. Namun beberapa saat kemudian terdengar pekikan dari daerah "musuh", "Serbuuuu...!" Seketika itu terjadilah "pertempuran" sengit disertai bunyi dor-dor pistol mainan dan suara, "Ciatciatahhhhmati, deh."

Pemandangan di atas tentu tak asing lagi buat kita yang punya anak lelaki. Inilah salah satu permainan yang digemari si Buyung: main perang-perangan. 

Kendati, tak sedikit orang tua khawatir dengan permainan ini. 

Terlebih, permainan ini melibatkan semua tubuh, baik fisik dan emosi, hingga dampak yang ditimbulkannya amat terasa dan terlihat, terutama yang negatifnya.

Jadi agresif

Menurut Tari Sandjojo, psikolog dari Cikal, ada dua dampak negatif yang perlu diwaspasdai. 

Pertama, karena esensi permainan ini menang dan kalah, maka bisa memicu anak untuk berorientasi hanya mengejar kemenangan dan bagaimana mengalahkan lawannya. 

Apalagi anak usia prasekolah egonya masih sangat besar, hingga tentunya ia selalu ingin menang. 

Ia tak peduli bagaimana caranya, yang penting bisa mencapai keinginannya untuk jadi pemenang.

Dampak negatif kedua, permainan ini bisa memicu agresivitas anak. 

Bukankah emosi anak usia ini masih labil dan cenderung negatif? 

Ia lebih sering memunculkan perasaan takut dan marah. Hal ini terjadi karena ia merasa telah mampu melakukan apa pun yang ia ingin lakukan. 

Namun di lain pihak, daya imajinasinya mulai berkembang, hingga ia dapat berpikir kalau orang tua saya membiarkan saya melakukan ini, bagaimana kalau saya jatuh? 

Jadi, ia berada di antara merasa bisa melakukan sesuatu dengan masih tergantung pada orang tua. Itulah mengapa keluar emosi negatif.

Nah, bila emosi negatifnya sedang keluar sementara kegiatan yang sering dilakukannya adalah perang-perangan, bisa jadi rasa kesal dan marahnya dikeluarkan dengan cara memukul "lawan"nya, atau jika ia main perang-perangan dengan senjata, pasti ia ingin melukai atau membinasakan lawannya, terungkap pada kalimat, "Aku tembak kamu. Kamu mati, deh."

Harus seimbang

Namun, muncul-tidaknya dampak negatif tersebut pada si kecil, tergantung pada kita. 

Jadi, kitalah yang pegang peranan, ya, Bu-Pak! "Bila anak tiap hari main perang-perangan melulu, bisa saja esensi perang-perangan masuk kelewat jauh dalam dirinya, hingga yang muncul agresivitas atau kecenderungan ingin selalu menang," tutur Tari. 

Misal, muncul pikiran, "Pokoknya, aku harus bisa ngalahin si Adi!" atau "Pokoknya, akulah yang harus menang dalam 'ekspedisi' ini!"

Lagi pula, bila si kecil tiap hari cuma main perang-perangan, perkembangan motoriknya juga enggak bagus. 

Bukankah dari permainan itu hanya aktivitas fisik atau motorik kasarnya saja yang terlatih? Sedangkan motorik halusnya amat kurang terasah.

Itu sebab, kita harus melakukan penyeimbangan pada si kecil. "Ajak ia melakukan permainan lain yang tak kalah asyik, tapi dengan risiko tak terlalu besar." 

Misal, permainan pertukangan (working tools), bengkel-bengkelan, atau permainan lain yang bisa mengasah daya imajinasinya. 

Sedangkan untuk menyalurkan energinya yang berlebihan, bisa dilakukan lewat olahraga semisal berenang.

Jadi, tegas Tari, kita harus bisa "menjadwal" si kecil dalam bermain. Misal, hari ini ia main perang-perangan, esoknya main dokter-dokteran, lusa main guru-guruan, dan seterusnya. 

Dengan begitu, ia jadi punya pengalaman banyak; ia bukan hanya bisa main perang-perangan tapi juga aneka permainan. 

Bukankah di usia prasekolah, ia pun harus mengenal beragam permainan? Namun tentu saja, jadwal tersebut tak bersifat kaku. Yang penting, ia tak setiap hari cuma melakukan satu jenis permainan.

Beri peringatan

Selain itu, kita pun harus memberi pengertian pada si kecil. Misal, mendongenginya sebelum tidur dengan cerita-cerita yang mengetengahkan bahwa menang-kalah bisa terjadi pada tiap orang. 

Jadi, tak bisa kita harus selalu menang. Begitu pun kita takkan selalu kalah. Bisa juga dengan menjelaskan bahwa kemenangan tak bisa diraih tanpa adanya team work. 

Intinya, tandas Tari, "kita harus bisa memberikan pengertian sebanyak-banyaknya pada anak akan hal tersebut."

Kemudian, bila lihat si kecil mulai main pukul teman-temannya, segera hentikan permainan itu karena ia sudah agresif dan melakukan kekerasan. 

Terlebih bila ia melakukannya berulang, sekarang memukul, besok memukul, dan seterusnya, sekalipun kita telah memberinya pengertian bahwa hal itu tak baik. 

"Segera alihkan dia ke permainan lain. Atau, usahakan agar ia mainnya hanya pura-pura: pura-pura memukul dan pura-pura menembak." 

Selain, kita tetap wajib mencari penyebab ia memukul. "Bisa saja, kan, ia memukul hanya terdorong oleh energinya yang terlalu besar?" Bila demikian, salurkan energinya lewat klub olahraga atau aktivitas lain.

Balikkan pada diri anak

Tak kalah penting, dampingi dan beri penjelasan saat si kecil nonton film atau TV yang ada adegan kasar atau perang-perangannya. 

Apalagi anak usia ini masih dalam proses mengadopsi, hingga ia mudah meniru permainan ini dari film-film di TV maupun teman sepermainannya. 

Bahkan, bisa jadi ia pun mengidentifikasi tokoh yang ia perankan saat bermain perang-perangan. 

Masih ingat kasus sekian tahun silam tentang seorang anak yang tewas karena jatuh dari ketinggian lantaran mengidentifikasikan dirinya sebagai Superman? 

Ia menganggap dirinya bisa terbang layaknya Superman. Jadi, fantasinya sudah berlebihan yang malah berakibat fatal.

Tentu saja, dalam memberikan masukan dan pengertian pada anak tak semudah orang dewasa, karena anak usia ini masih sulit untuk memahami perasan orang lain lantaran ia masih sangat egosentris. 

Saran Tari, gunakan cara dengan membalikkannya pada diri anak. Misal, si kecil nonton film kartun Tom and Jerry yang banyak adegan kasarnya. 

Kala Jerry memukul Tom dengan palu, kita bisa katakan, "Kasihan, ya, si Tom kesakitan dipukul oleh Jerry. Coba, kalau Kakak yang dipukul seperti itu, sakit, kan? 

Makanya Kakak tak boleh begitu sama teman, ya? Palu itu, kan, bukan untuk memukul mahluk hidup, melainkan untuk bekerja, yaitu memukul kayu dan besi.

Jangan lupa, sering-seringlah mengenalkan film-film yang friendship, seperti Teletubbies dan Winny the Pooh. 

"Film-film demikian bisa dijadikan contoh dalam memberikan pandangan pada anak." Misal, "Tuh, lihat si Pooh, ia sayang pada teman-temannya. 

Ia juga selalu menolong dan tak pernah menyakiti teman-temannya. 

Makanya ia punya banyak teman. Jadi, kalau Kakak main dengan teman, jangan suka berlaku kasar, ya, seperti memukul. Nanti Kakak bisa dijauhi teman-teman, lo."

Dengan begitu, unsur-unsur friendship akan tertanam dalam diri si kecil. Hingga, sekalipun ia suka main perang-perangan, ia akan melakukan seperti input yang ia dapatkan. 

Bahkan, meski dipengaruhi temannya, ia mampu bilang, "Memukul orang, kan, enggak baik, sebab kamu juga kalau dipukul akan merasa sakit. Malah, entar enggak punya teman, lo."

Dampak positif

Jadi, asalkan tak berlebihan dan tak menjurus hal-hal yang negatif, tak masalah, kok, si kecil main perang-perangan. 

Soalnya, permainan ini tak beda dengan permainan pura-pura lainnya seperti dokter-dokteran atau guru-guruan dan lainnya, yang bermanfaat buat anak. 

Antara lain, merangsang daya imajinasi anak. 

Apalagi di usia ini ia memang tengah mengembangkan daya imajinasinya. Itu sebab ia suka sekali melakukan permainan pretend play, berpura-pura jadi orang lain. 

"Dengan begitu, ia bisa merasakan bagaimana jadi seorang dokter atau guru, misal. Hingga, ia pun bisa lebih menghargai orang lain," jelas Tari.

Selain itu, di usia ini anak juga lagi aktif-aktifnya secara fisik, hingga ada kebutuhan pada dirinya untuk melakukan kegiatan yang sifatnya fisik. 

Bukankah ia sudah bisa mengontrol anggota tubuhnya seperti berlari mengendap, melompat, maupun memukul. 

"Jadi dengan main perang-perangan, ia bisa menyalurkan kebutuhannya, sekaligus melatih kemampuan motorik kasarnya." Nah, bila kebutuhannya sudah tersalurkan, tentu ia akan merasa puas.

Justru bila dilarang dengan alasan khawatir, hanya akan menghambat kebutuhannya bereksplorasi, perkembangan motorik kasarnya, daya fantasinya, dan kemampuan kerja sama tim. 

Jangan lupa, saat main perang-perangaan, ia tak melulu satu lawan satu, tapi juga bisa kelompok dengan kelompok.

Tak hanya itu, dengan dilarang berarti ia tak tahu bagaimana rasanya menang dari perjuangan yang dilakukan sendiri atau bersama kelompok. 

Pun bagaimana rasanya kalah. "Tapi coba kalau ia mengalaminya sendiri, ia jadi tahu bahwa dalam pertandingan itu selalu ada yang kalah dan menang. Hingga, ia pun tahu bahwa kalau ia bermain, konsekuensinya adalah menang atau kalah. Namun tetap wajib berjuang seoptimal mungkin."

Nah, tugas kitalah untuk menjaganya agar ia memperoleh dampak positif dari permainan ini. Jadi, tak perlu khawatir lagi, ya, Bu-Pak.

SHARE ARTIKEL