Parah, Begini Jika Anak Plus Mamanya Kecanduan Gadget

Penulis Arief Prasetyo | Ditayangkan 30 Dec 2019

Parah, Begini Jika Anak Plus Mamanya Kecanduan Gadget

Cobalah Hal Ini Jika Orangtua dan Anak Kecanduan gadget - Image from siedoo.com

Hp/ smartphone saat ini seperti kebutuhan pokok.

Buruknya, banyak yang malah kecanduan Hp. Bukan cuma anak-anak tapi mamanya juga. Kalau sudah seperti bagaimana? Solusinya harus seperti ini!

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud (Dirjen PAUD Dikmas).

Harris Iskandar menyatakan, dengan adanya gerakan ini, diharapkan dapat mengembalikan kesadaran orang tua mengenai bahaya gadget pada tumbuh kembang anak.

“Jadi kita mulai membiasakan buku, nanti kita tidak 100 persen dimakan oleh gadget. Ini salah satu kampanye kami ke arah situ,” katanya.

Diterangkan, gadget itu efeknya jelek sekali terutama karena budayanya ada efek dopamin, kecanduan. Jadi, anak akan lekat sekali dengan itu dan waktunya jadi terbuang percuma di layar.

Baca Juga:

“Padahal masa anak-anak itu untuk gerak motorik sangat penting. Pertumbuhan otot itu tidak akan berkembang sempurna kalau dia dari awal sudah dikenalkan gadget,” jelasnya.

Dinyatakan, penggunaan gadget untuk kesehatan mata itu juga tidak bagus bagi anak. Termasuk secara psikologi, misalnya internet putih, internet khusus untuk anak tetap tidak semua orang tua mengikuti petunjuk.

“Kebanyakan yang saya pastikan itu mereka membebaskannya begitu saja, parental guide di dalam menu tidak pernah digunakan, tidak mau ribet orang tua itu. Karena, orang tuanya juga sudah kecanduan dengan gadgetnya,” kata Harris.

Harris berharap agar orang tua mengendalikan dirinya ketika berada di dekat anak-anak. Artinya tidak terus menerus menggunakan gadget agar tidak ditiru oleh anak.

“Orang tua sudah kecanduan dan dia tidak mau diganggu, dan dikasih juga gadget ke anaknya, kan musibah bener. Ini yang saya kira kita semua harus sadar ini bahaya,” tegasnya.

Ia mengajak untuk orangtua yang kecanduan gadget kembali membaca buku. Berharap bisa dikurangi penggunaannya atau tidak sama sekali.

“Kita kurangi dalam waktu tertentu dan jangan menunjukan di depan anaknya. Dalam setiap kesempatan orangtua coba kendalikan diri. Jadilah orangtua yang riil, bukan di depan anak kita pakai gadget.

Baca Juga:

Anak itu akan mengikuti, anak itu adalah fotokopi yang paling baik mereka akan mereplikasi apa saja yang kita lakukan kalau kita stick dengan gadget mereka akan gitu juga,” ungkap Harris.

Dijelaskan, kalau membaca buku menjadi kebiasaan akan menjadi budaya dan menjadikan Indonesia lebih baik. Orang membaca buku adalah orang yang bahagia. Kalau ingin membahagiakan anak, bacakan saja buku.

“Saya optimis sudah mulai banyak yang mengenal Gernas Baku. Artinya mereka sudah mengerti pentingnya itu, dan kita mendukung itu semua,” imbuh Harris.

Harris menjelaskan bahwa pengasuhan anak harus berada di bawah orangtua, bukannya orang lain. Oleh karena itu tidak boleh salah satu lepas apalagi diserahkan pada pengasuh, kepada orang lain. Ini harus orang tuanya langsung, baik ibunya maupun bapaknya.

“Kesempatan ini jangan disia-siakan karena umur anak 4 sampai 5 tahun itu ya bahkan usia SD merupakan umur yang sangat baik sekali untuk menumbuh kembangkan karakter-karakter baik yang kita inginkan,” terang Harris.

Diungkapkan Harris, ketersediaan buku berkualitas juga tidak kalah penting. Kondisi geografis Indonesia kadang menyulitkan distribusi buku ke daerah terpencil.

“Tadi saya juga sudah tanya orang tua, alhamdulillah untuk di daerah Jakarta mungkin ya tidak ada masalah, maka itu kami ingin berdialog dengan orang tua di NTB dan Papua untuk mengecek apakah mereka memiliki kendala dalam membeli buku? Kalau di Jakarta tidak masalah,” paparnya.

“Saya juga mengalami setiap minggu itu membawa anak dan cucu itu banyak sekali buku. Cuma kan belum tentu untuk di daerah luar Jawa ketersediaan buku-buku yang bagus itu banyak. Hal ini penting karena tidak semua buku bagus,” imbuhnya.

Dengan adanya Germas Baku, Kemendikbud mengajak warga masyarakat, para mitra yang memiliki jaringan sampai ke tingkat desa dan bersama-sama menggerakan semua anggotanya untuk memulai membiasakan ini sehingga bukan sekedar menjadi imbauan tetapi disertai dengan strategi penyebarannya.

Rangkaian pelaksanaan Gernas Baku digelar sejak April 2019 dimulai dari pelaksanaan sosialisasi dan seminar. Selanjutnya, pada Mei 2019, para orang tua diajak untuk memberikan donasi buku untuk menghadirkan pojok baca di rumah dan sekolah. Selain itu juga diselenggarakan kelas parenting untuk orang tua di berbagai daerah.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb