Keranjingan "Makan Mayit", Awas Tanda Psikopat Lho!

Penulis Unknown | Ditayangkan 01 Mar 2017

Jika mendengar kata mayit, mungkin hal pertama yang ada di pikiran adalah sosok yang sudah tak bernyawa. Namun, berbeda dengan hal tersebut, ternyata ada juga lho "mayit" yang dimakan! Memang seperti itu kenyataanya. Masyarakat dunia maya tengah dihebohkan dengan karya seniman muda, Natasha Gabriella Tontey (27).

Baca juga : Peri Cantik Ini Shopping dengan Santai di Mall Jakarta, Bikin Pengunjung Geger!

Presentasi pamerannya yang bertajuk jamuan 'Makan Mayit' menuai kontroversi. Tontey menjamu pengunjung pameran dengan makanan berbentuk janin, makanan yang disajikan dalam potongan boneka bayi, dan hidangan berbentuk tak wajar lainnya. Spesialis Kedokteran Jiwa atau Psikiater, Dokter Agung Frijanto Sp-KJ, menuturkan ada kemungkinan yang bisa disimpulkan dari pameran karya Tontey. Salah satunya ia bisa didiagnosa sebagai psikopat.

"Ya memang kalau dari sisi kedokteran jiwa yang pertama harus di periksa, bisa jadi (yang dialami) dia bagian dari psikotik jiwa berat yang berasal delusi, halusinasi atau adanya ajakan atau Fikiran untuk melakukan sesuatu.

Atau kalau memang bukan dari gangguan jiwa, dia hanya berupa gangguan kepribadian personal yakni psikopat," ujar Agung saat dihubungi Tribunnews, Selasa (28/2/2017).

Aktivitas pameran yang berlangsung pada 25 dan 28 Januari 2017 di perhelatan Footurama, di Kemang Timur Raya, Jakarta Selatan itu pun melibatkan 32 orang di meja perjamuan. Sejumlah penikmat karya seni Tontey juga mengunggah potret makanan tersebut dengan di sosial media mereka dengan tagar #makanmayit.

Dalam klarifikasinya di sebuah media online, Tontey ingin mengungkapkan gagasan kritisnya terhadap dimana hasrat kanibalisme manusia dimulai. Ia penasaran atas fenomena sosial Endocanibalisme, yakni praktik memakan bagian tubuh manusia dari komunitas sosial yang sama.


Baca juga : Jangan Berlebihan Mengawasi, Anak Bisa Depresi Lho!

Agung menuturkan, diagnosis psikopat semakin kuat lantaran Tontey menyajikan pemikiran tersebut lewat pameran, yang dengan kata lain tidak memeperdulikan norma yang berlaku di masyarakat. Namun, Agung menegaskan, semuanya lebih dahulu harus melewati tahap pemeriksaan.

"Itu lebih dekat ke Psikolat, para psiko akan menghalalkan segala cara melanggar norma nilai kebiasaan manusia. Tapi tetap harus melihat motifnya, apakah bagian dari gejala berat atau (gangguan) personaliti," pungkas Agung. Hii.. cukup menyeramkan ya guys!
loading...