Innalillahi, 12 Dokter RI Meninggal Akibat Kelelahan dan Terjangkit Covid-19

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 03 Apr 2020

Innalillahi, 12 Dokter RI Meninggal Akibat Kelelahan dan Terjangkit Covid-19

12 dokter IDI meninggal dunia karena corona - Image from wajibbaca.com

Mereka adalah pahlawan di garda depan melawan corona

Dua belas tenaga medis yang menjadi garda terdepan penanganan pandemi virus corona di Indonesia meninggal dunia. Selamat jalan pahlawan, jasamu bagi negeri ini sungguhlah besar. 

Semoga ini yang terakhir dan tak ada lagi petugas medis yang gugur. Mari kita semua bekerja sama memutus rantai penyebaran corona.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Selasa (31/3/2020), mengumumkan dua anggota IDI yang berjuang merawat pasien yang terjangkit virus itu telah berpulang. 

Sehingga hingga saat ini, total jumlah dokter anggota IDI yang meninggal akibat virus corona menjadi 12 orang.

Humas PB IDI Abdul Halik Malik mengatakan, dua dokter yang baru meninggal tersebut salah satunya karena dinyatakan positif corona. Sedangkan lainnya disebabkan karena kelelahan dalam tugasnya menangani pasien-pasien.

"Sejauh ini laporan yang sampai ke pengurus besar IDI, ada 12 dokter yang meninggal. 11 di antaranya terpapar virus corona atau positif Covid-19, satu dokter meninggal karena kelelahan dalam tugas terkait wabah corona," kata Abdul seperti yang dilansir dari laman CNBCIndonesia, Rabu (1/4/2020).

Adapun dua dokter yang dimaksud Abdul adalah dr H Efrizal Syamsudin yang merupakan Direktur RSUD Prabumulih,dan dr Ratih Purwarini yang merupakan Direktur RS Duta Indah Jakarta Utara.

Abdul juga menjelaskan bahwa sebelum berpulang, dr Efrizal dinyatakan positif Covid-19 setelah sebelumnya menjadi pasien dalam pengawasan (PDP). Sedangkan dr Ratih sempat dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang kelelahan sejak 28 Maret 2020.

"dr Efrizal sempat dirawat dengan status PDP dan sudah sempat di tes swab. Tapi, meninggal sebelum hasil tesnya keluar. Terakhir info dari IDI wilayah setempat, hasil tes swabnya positif Covid-19," terang Abdul.

"dr Ratih dirawat sejak hari Sabtu (28/3/2020). Mulai demam hari Jumat (20/3/2020), batuk-batuk, diare dan muntah-muntah pada Senin, Kamis (26/3/2020) desaturasi. Pada Sabtu, inkubasi tapi kesulitan untuk mendapatkan ventilator dan tidak tertolong," tambah Abdul.

Baca Juga: Pasar Wuhan Buka Lagi, Netizen: `Mungkin benar Virusnya bukan dari hewan`

Pentingnya APD yang lengkap untuk paramedis

Sebagai garda terdepan yang menangani pandemi virus corona, pastilah para petugas medis membutuhkan APD yang mendukung.

APD selain sebagai SOP wajib, juga sebagai pelindung bagi para petugas medis, agar tak ada lagi dokter ataupun petugas medis lainnya yang meninggal akibat virus corona.

Terkait APD yang langka seperti sekarang ini, pemerintah telah janji untuk memenuhi APD bagi tenaga kesehatan.

"Kita akan berusaha sepenuhnya untuk memenuhi, mematuhi, dan melengkapi penggunaan APD ini. Sudah barang tentu ada SOP siapa yang harus menggunakan APD, siapa yang tidak perlu menggunakan APD. Ini menjadi penting," ujar juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, saat jumpa pers yang disiarkan oleh YouTube BNPB, Sabtu (28/3/2020).

Baca Juga: Dinilai Sembrono Tangani Corona, Rakyat Gugat Presiden Jokowi ke Pengadilan

Yuri juga mengatakan bahwa banyak rumah sakit yang didedikasikan untuk penanganan corona. Menurutnya, penyediaan APD untuk tenaga medis merupakan sesuatu yang sangat penting.

"Banyak sekali rumah sakit yang berpartisipasi, bukan hanya RS pemerintah, TNI/Polri, RS BUMN, tetapi RS swasta pun banyak yang mendedikasikan untuk merawat COVID-19 ini," ungkap Yuri seperti yang dilansir dari laman Detik, (29/3).

"Ini yang menjadi penting, di dalam kaitan menyiapkan kondisi RS, sudah barang tentu khususnya APD menjadi bagian penting bagi tenaga kesehatan yang melakukan kegiatan perawatan," sambungnya.

Semoga janji pemerintah bisa segera direalisasikan.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb