Waspada, ini Hal yang Lebih Berbahaya dari Virus Corona! 

13 Mar 2020  Isfatu Fadhilatul

Waspada, ini Hal yang Lebih Berbahaya dari Virus Corona! 

Ilustrasi virus corona - Image from www.merdeka.com

Virus corona berasal dari Wuhan, China kini telah menjangkit lebih dari 120 negara di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai 4.615 jiwa.

Memang terlihat mengerikan, namun tahukah Anda, ternyata ada yang lebih menakutkan dan berbahaya dari virus Corona, lho? Apakah itu? Berikut penjelasan selengkapnya.

Sikap Seorang Muslim Menanggapi Virus Corona

Sebagai seorang muslim, kita harus selalu bersabar dan bertawakal kepada Allah Ta'ala apapun keadaannya, baik itu sedih ataupun bahagia, sakit maupun sehat, termasuk dalam keadaan wabah virus corona seperti saat ini.

Baca Juga: Merasakan Tanda Seperti ini? Bisa Jadi Anda Terinfeksi Corona

Lalu apa yang harus dilakukan seorang muslim di tengah keadaan virus corona yang semakin mewabah? Berikut poin-poinnya.

1. Mintalah 'afiyat kepada Allah SWT

Apa itu 'afiyat? Secara umum, 'afiyat adalah perlindungan Allah bagi hambaNya dari berbagai macam penyakit dan juga bencana

Makna afiat di dunia dan akhirat memiliki arti yaitu memperoleh keselamatan dari hal-hal yang buruk, yang otomatis mencakup seluruh keburukan yang telah berlalu ataupun yang akan datang.

Pengertian afiyat dalam Islam memiliki cakupan yang cukup luas dan berdimensi dunia akhirat. Luasnya makna 'afiat tampak secara tekstual pada doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

اللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ…

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf, dan ‘afiyat di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf dan ‘afiyat pada agamaku, keluargaku dan hartaku…” (HR. Abu Daud 5074, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Afiyat di dunia mencakup keselamatan dari semua bentuk fitnah, penyakit, musibah dan hal-hal buruk lainnya yang terjadi di dunia. 

Sementara afiyat di akhirat, mencakup keselamatan dari berbagai siksaan setelah kematian, misalnya seperti siksa kubur, siksa Neraka dan kengerian yang terjadi antara keduanya, hisab, serta kesulitan-kesulitan lainnya.

Adapun perintah untuk selalu meminta 'afiyat ini termaktub dalam hadits berikut, 

Abu Al-Fadhl Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib meriwayatkan, “Aku berkata,

يَا رسول الله عَلِّمْني شَيْئاً أسْألُهُ الله تَعَالَى، قَالَ : (( سَلوا الله العَافِيَةَ )) فَمَكَثْتُ أَيَّاماً، ثُمَّ جِئْتُ فَقُلتُ : يَا رسولَ الله عَلِّمْنِي شَيْئاً أسْألُهُ الله تَعَالَى ، قَالَ لي : (( يَا عَبَّاسُ ، يَا عَمَّ رسول اللهِ ، سَلُوا الله العَافِيَةَ في الدُّنيَا والآخِرَةِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح )) .

‘Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku minta kepada Allah.’ Maka beliau menjawab, ‘Mintalah kepada Allah keselamatan.’ Setelah beberapa hari, aku datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang aku bisa minta kepada Allah.’ Beliau menjawab, ‘Wahai ‘Abbas, paman Rasulullah, mintalah kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, 726; Tirmidzi, no. 3581; Ahmad, 1:209, dari jalur Yazid bin Abi Ziyad dari ‘Abdullah bin Al-Harits, darinya lalu ia menyebutkannya. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa hadits ini shahih). 

2. Meminta perlindungan dari segala penyakit berbahaya

Coronavirus termasuk virus yang berbahaya, karena bisa mengancam keselamatan jiwa. Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita berdoa meminta kepada Allah SWT agar dijauhkan dari segala penyakit.

Adapun lafadz doa agar terhindar dari virus corona adalah sebagai berikut:
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ

ALLOOHUMMA INNII ‘AUUDZU BIKA MINAL BAROSHI WAL JUNUUNI WAL JUDZAAMI WA SAYYI-IL ASQOOM 

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari penyakit yang jelek lainnya).” (HR. Abu Daud, no. 1554; Ahmad, 3: 192. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin juga menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Baca Juga: Terindeksi Gejala Corona? Segera Periksa, ini 100 RS yang Menangani Corona

3. Doakan orang lain yang tertimpa musibah

Update virus corona hari ini, terhitung sudah 34 orang yang terinfeksi di seluruh Indonesia. Selain mendoakan diri sendiri, kita juga wajib mendoakan mereka agar Allah Ta'ala segera mencabut wabah corona dalam tubuhnya.

Dilansir dari laman rumaysho, berikut lafadz doa saat melihat orang lain tertimpa musibah:

Dari Ibnu ‘Umar, dari bapaknya ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً إِلاَّ عُوفِىَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلاَءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ

Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan,

‘ALHAMDULILLAHILLADZI ‘AAFAANI MIMMAB TALAAKA BIHI, WA FADDHALANII ‘ALA KATSIIRIM MIMMAN KHALAQA TAFDHILAA’

Artinya: : Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya.

Kalau kalimat itu diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.” (HR. Tirmidzi, no. 3431; Ibnu Majah, no. 3892. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini dha’if dan penguatnya, syawahidnya juga dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dalam riwayat di atas, terdapat kalimat lanjutan,

وَقَدْ رُوِىَ عَنْ أَبِى جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِىٍّ أَنَّهُ قَالَ إِذَا رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَتَعَوَّذَ مِنْهُ يَقُولُ ذَلِكَ فِى نَفْسِهِ وَلاَ يُسْمِعُ صَاحِبَ الْبَلاَءِ.

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Ja’far bin ‘Ali bahwa ia berkata, “Jika ada yang melihat yang lainnya tertimpa musibah, maka mintalah perlindungan (pada Allah) darinya. Hendaklah ia mengucapkan bacaan tadi, namun jangan sampai didengar oleh orang yang tertimpa musibah.”

Baca Juga: Baca Doa Ini Ketika Terkena Musibah

4. Tawakal

Tawakal artinya berserah diri, kita harus bertawakal kepada-Nya karena semua hal sudah ditakdirkan oleh Allah Ta'ala.

Dengan tawakal kepada Allah, maka Dia akan memberikan jalan keluar sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

5. Jagalah aturan Allah

Dalam sebuah nasihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan, 

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ،

Artinya: “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516; Ahmad, 1:293; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 14:408. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Jadi, jangan hanya panik dengan cara memborong semua masker dan bahan makanan sehingga membuat orang lain kesulitan. Selalu jaga sholat 5 waktu, dzikir, dan bersedekah sebagai cara menjaga Allah.

Baca Juga: Taqwa Adalah: Berikut Pengertian dan Contohnya

6. Bersabar

Ingatlah keadaan seorang muslim antara bersyukur dan bersabar.
Ingatlah bahwa saat Allah memberikan sebuah musibah, berarti Dia masih menyayangi kita.

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Allah Ta’ala berfirman, 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ,  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ .  أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (segala sesuatu milik Allah dan kembali kepada Allah). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

7. Lakukan ikhtiar dan sebab

Dalam hadits disebutkan tentang khasiat kurma, 

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

Artinya: “Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5779 dan Muslim no. 2047).

Untuk menghadapi suatu wabah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا. متفق عَلَيْهِ

Artinya: “Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (HR. Bukhari, no. 3473 dan Muslim, no. 2218)

8 . Kuatkan diri dengan berdzikir

Jagalah selalu dzikir, terutama dzikir pagi dan petang. 

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ

Artinya: “Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: BISMILLAHILLADZI LAA YADHURRU MA’ASMIHI SYAI-UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA’ WA HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM (dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak aka nada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388; Ibnu Majah, no. 3388. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Artinya: “Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari, no. 5009 dan Muslim, no. 808)

Selain itu, juga ada anjuran untuk membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.

Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Bacalah: Qul huwallahu ahad (surah Al-Ikhlash) dan Al-Mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) saat petang dan pagi hari sebanyak tiga kali, maka itu mencukupkanmu dari segala sesuatunya.” (HR. Abu Daud, no. 5082 dan Tirmidzi, no. 3575. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Baca Juga: Dzikir dan Wirid Sesudah Sholat Serta Keutamaannya

9. Jangan percaya HOAX!

Setiap umat muslim wajib untuk tidak hanyut dan terlena dengan kabar-kabar dusta atau yang lebih kita kenal dengan sebutan HOAX. Seorang muslim harus pandai-pandai dalam menyikapi berita dengan cara mengeceknya terlebih dahulu, Allah Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Hal yang lebih berbahaya dari virus corona

Waspada, ini Hal yang Lebih Berbahaya dari Virus Corona! 

Ilustrasi virus corona - Image from rmco.id

Terlepas dari virus corona di Jakarta dan sekitarnya, ternyata ada hal yang lebih berbahaya dan mengerikan dari virus yang kini menjadi endemik itu, yakni PENYAKIT HATI.

Para ulama mengatakan, “Penyakit itu ada dua macam, yaitu penyakit badan dan penyakit hati. Penyakit hati ini tentu saja lebih parah dari penyakit badan. Karena jika seseorang tertimpa penyakit hati maka kerugian di dunia dan akhirat sekaligus akan menimpa dirinya. Wal ‘iyadzu billah.”

Dalam sebuah hadits telah disebutkan,

أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

Artinya: “Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari, no. 2051 dan Muslim, no. 1599)

Para ulama menjelaskan bahwasanya hati merupakan malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:210).

Artinya, apabila hati rusak, maka yang lainnya pun akan ikut rusak. Sehingga penyakit hati merupakan hal yang sangat berbahaya, karenanya kita wajib berdoa, meminta kepada Allah Ta'ala agar diteguhkan hati dalam ketaatan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ‘ALA THOO’ATIK 

Artinya: "Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu”. (HR. Muslim, no. 2654)

INGAT! musibah yang paling besar adalah musibah yang menimpa agama, bukan musibah yang menimpa dunia.

Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam ‘Syuabul-Iman’, dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah ia berkata, “Sesungguhnya aku ditimpa musibah dan aku memuji kepada Allah karena empat hal:

  • Aku memuji Allah atas ujian yang tidak lebih besar dari yang menimpa ini.
  • Aku memuji Allah tatkala aku diberikan kesabaran atasnya.
  • Aku memuji Allah karena diberikan taufik mengucapkan kalimat Istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un) hingga menggapai pahalanya.
  • Aku memuji Allah karena musibah yang menimpaku bukan musibah dalam agamaku.”’’

Penyakit hati yang lebih berbahaya dari virus corona

Virus coronavirus gejalanya bisa dideteksi dengan alat dan pemeriksaan, lalu bagaimana dengan penyakit hati? Berikut macam-macam penyakit hati beserta tandanya. 

1. Syirik

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

Baca Juga: Sifat Sombong Dalam Islam

2. Munafik

Tanda seseorang terjangkit penyakit munafik pada zaman ini adalah:

  • Menjadi orang yang tidak amanah dan tidak jujur.
  • Malas-malasan melakukan ibadah.
  • Pintar berkata bijak akan tetapi malah melakukan hal yang mungkar.
  • Dari luar terlihat khusyu’, namun dari dalam (batin) tidak khusyu’.
  • Mengaku beriman akan tetapi tidak memiliki amalan sama sekali.
  • Pria enggan dan ogah-ogahan shalat berjamaah di masjid.
  • Malas merutinkan Shalat Shubuh dan juga Shalat Isya.

3. Lalai

Hal-hal yang menjadi penyebab seseorang memiliki sifat al-ghaflah atau lalai adalah:

  • Ogah-ogahan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama.
  • Ogah-ogahan mempelajari Al-Qur’an, baik membaca, memahami menghafalkan, serta mendalami ilmu di dalamnya.
  • Ogah-ogahan berdzikir kepada Allah.
  • Ogah-ogahan membaca dan menghafalkan dzikir yang dapat digunakan untuk melindungi diri.
  • Lalai dalam memperhatikan niat ibadah.
  • Beramal akan tetapi tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.

Baca Juga: Sisi Negatif Sifat Berburuk Sangka Menurut Islam

4. Berfoya-foya

At-tarof atau hidup untuk terus bersenang-senang sebagaimana disebutkan dalam ayat, 

فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ

Artinya: “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku“. (QS. Al-Fajr: 15)

At-tarof memiliki nama lain yaitu at-tana’um. At-tarof diartikan sebagai perbuatan melampaui batas dari yang semestinya dengan terus menerus memperbanyak harta dunia. 

Waspada, berikut bentuk at-tarof yang ada pada zaman ini:

  • Sibuk memperhatikan model rambut dan melakukannya secara berlebihan.
  • Berlebihan dalam berhias diri.
  • Berlebihan dalam membeli pakaian dengan selalu memperhatikan merk dan brandnya.
  • Berlebihan dalam makan dan minum.
  • Berlebihan dalam pesta pernikahan.
  • Berlebihan dalam memiliki gawai, aksesoris, dan nomor cantiknya.
  • Berlebihan dalam memiliki mobil dan aksesorisnya, hingga nomor platnya.
  • Berlebihan dalam membangun rumah atau hunian.
  • Berlebihan dalam memiliki pembantu.
  • Berlebihan dalam hiburan serta permainan.

(Lihat bahasan penyakit-penyakit hati dalam Mufsidaat Al-Qulub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Cetakan Pertama, Tahun 1438 H, Penerbit Majmu’ah Zad). 

5. Selalu menuruti hawa nafsu

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (10:635) menyatakan, “Adanya nafsu dan syahwat itu sendiri tidaklah berakibat seseorang dihukum. Seseorang baru dikatakan terkena hukuman ketika ia menuruti nafsunya sehingga yang ia harus lakukan adalah melarang nafsunya (untuk melanggar larangan Allah). Melarang nafsu yang akan salah itulah yang masuk ibadah dan amal shalih.”

Penyebab seseorang selalu menuruti hawa nafsu antara lain: 

  • Membiasakannya sejak kecil.
  • Bergaul dengan pengikut hawa nafsu.
  • Kurang mengenal hak Allah, dan tidak mengenal akhirat dengan baik
  • Kurang amar ma’ruf nahi mungkar.
  • Terlalu mencintai dunia dan terus sibuk dengan dunia.
  • Tidak mengetahui bahaya karena selalu menuruti hawa nafsu.

Itulah tadi hal-hal yang lebih mengerikan dan lebih berbahaya dari virus corona. Jangan sampai Anda memiliki salah satunya, ya!

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa