10 Fakta, 256 Siswa SMP 1 Turi Hanyut, 6 Tewas, Korban Hilang Belum Ditemukan

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 24 Feb 2020

10 Fakta, 256 Siswa SMP 1 Turi Hanyut, 6 Tewas, Korban Hilang Belum Ditemukan

Kondisi sungai sempor, lokasi tragedi susur sungai yang menimpa siswa SMP N 1 Turi - Image from today.line.me

Jadi peringatan dan pembelajaran untuk kita semua

256 siswa menjadi korban kecelakaan saat susur sungai dalam kegiatan pramuka. Belum pasti siapa yang salah dalam kejadian ini. Yang pasti sebagai pembelajaran untuk kita semua.

Kabar duka datang dari SMP N 1 Turi, Sleman. Sebanyak 256 siswanya menjadi korban kecelakaan saat tengah melakukan susur sungai dalam rangka kegiatan pramuka, pada hari Jumat (21/2/2020). 

Diketahui saat kejadian, lokasi Sungai Sempor memang belum dilanda hujan, namun di bagian hulu Sungai Sempor sedang dilanda hujan. Akibatnya, derasnya aliran sungai membuat beberapa siswa hanyut.

Dilansir dari line today, berikut fakta-fakta tragedi susur sungai yang menimpa siswa SMP N 1 Turi:

10 Fakta Tragedi Hanyutnya Siswa SMPN 1 Turi

10 Fakta, 256 Siswa SMP 1 Turi Hanyut, 6 Tewas, Korban Hilang Belum Ditemukan

Siswa-siswi SMPN 1 Turi yang menjadi korban susur sungai - Image from today.line.me

1. Siswa yang mengikuti kegiatan susur sungai merupakan siswa Kelas 7 dan 8

Lurah Donokerto, Jati Waluyo, mengatakan bahwa siswa yang mengikuti kegiatan susur sungai adalah seluruh siswa kelas 7 dan 8 SMP N 1 Turi.

Saat dihubungi lewat sambungan telepon, Jati Waluyo berkata “Yang ikut seluruh kelas 7 dan 8. Ini saya masih mencari anak saya, anak saya juga ikut. Nanti ya saya kabari,”

2. Proses evakuasi sempat dihentikan untuk sementara

Koordinator SAR Linmas Kaliurang, Kiswanta, mengatakan bahwa saat ini proses evakuasi dihentikan untuk sementara.

Ketika dihubungi melalui sambungan telepon Jumat (21/2/2020), Kiswanta berkata, “Sampai saat ini masih dikoordinasikan lebih lanjut. Untuk penyisiran sementara dihentikan pukul 17.30 WIB,”

3. Evakuasi melibatkan warga dan relawan

10 Fakta, 256 Siswa SMP 1 Turi Hanyut, 6 Tewas, Korban Hilang Belum Ditemukan

Relawan dan warga membantu proses evakuasi siswa SMPN 1 Turi - Image from today.line.me

Proses evakuasi siswa SMPN 1 Turi mengerahkan tim SAR setempat, relawan, warga hingga Polsek setempat. 

Usai proses evakuasi dihentikan, tim gabungan sedang melakukan proses pendataan untuk menentukan informasi jumlah siswa selamat dan hal-hal lainnya.

Koordinator SAR Linmas Kaliurang, Kiswanta berkata, “Dari kelas 7 dan 8 itu ada 256 siswa yang ikut susur sungai tapi sampai saat ini masih proses pendataan yang sudah kembali ke rumah berapa, di puskesmas berapa, masih proses pendataan dari temen-temen yang di lapangan,”

4. Polda DIY sebut ada 5 siswa yang tewas akibat tragedi ini

Kepolisian DIY menyatakan bahwa dari ratusan siswa SMP N 1 Turi, Sleman, yang ikut dan menjadi korban dalam kegiatan susur sungai di Sungai Sempor, Dukuh Donokerto Turi Sleman Jumat (21/2/2020), sebagian telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Hal ini dibenarkan oleh Humas Polda DIY Komisaris Besar Polisi Yuliyanto, “Update hingga pukul 19.00, lima korban siswa yang ditemukan meninggal dunia,” ujarnya. 

5. Beberapa siswa yang selamat sudah lapor pada petugas

Yuliyanto mengatakan bahwa siswa SMP di Sleman yang hanyut dalam kegiatan susur sungai itu merupakan siswa kelas 7 dan 8, dan sebagian dari siswa yang selamat telah melaporkan diri ke pihak petugas.

Dari peserta yang ikut kegiatan susur sungai itu, ada sebanyak 129 siswa dari kelas 7. Dari jumlah tersebut, yang sudah absen atau melaporkan ada sebanyak 51 siswa, sedangkan yang belum melaporkan ada 78 siswa.

Dan dari kelas 8, ada sebanyak 127 siswa yang ikut. Di mana sebanyak 120 siswa telah melapor, dan sisanya sebanyak 7 siswa belum melapor.

6. Pencarian dan evakuasi siswa yang hanyut dilanjutkan malam hari

Kepala Basarnas Yogyakarta, Lalu Wahyu Efendi menyebutkan bahwa, pihaknya akan terus melakukan pencarian siswa yang masih hilang malam ini. 

Pihaknya akan menggunakan rafting boot dan lampu sorot sebagai penerangannya. Menurutnya, jumlah personel yang dikerahkan mencapai lebih dari 100 orang.

7. Air sungai meluap dan langsung menerjang siswa yang tengah melakukan susur sungai

Sekitar 10 menit setelah para siswa terjun ke Sungai Sempor yaitu sekitar pukul 15.30 WIB, air sungai mulai meluap dan menerjang para siswa yang sedang susur sungai. 

Naas, sejumlah siswa hanyut dan tenggelam, dan sebagian siswa lainnya langsung naik ke permukaan dan pulang sebelum didata terlebih dahulu oleh kepala dusun dan otoritas terkait.

8. BPBD DIY sebut ada 6 siswa SMP N 1 Turi yang tewas dalam kegiatan ini

Berdasarkan data dari BPBD DIY dan Pusdalops PB DIY, 6 orang siswa SMP N 1 Tuti telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Situation Report Laka Sungai di Dukuh Sempor, Donokerto, Turi, Sleman menerangkan, “Meluapnya sungai di lereng Merapi, dengan menelan beberapa korban jiwa. Info awal pada pukul 15.30 WIB, yaitu laka sungai dari siswa SMP N 1 Turi kelas 7 dan 8 berjumlah 256 orang yang sedang melaksanakan kegiatan Pramuka susur Sungai Sempor. Tiba-tiba datang aliran besar dari hulu,” 

"Korban luka maupun korban jiwa dirujuk ke pusat kesehatan terdekat. Adapun korban yang sudah ditemukan berjumlah 6 orang siswa, dalam keadaan meninggal dunia," tambahnya.

9. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah siswa yang hilang

Adanya siswa yang belum melapor membuat petugas belum memiliki data pasti berapa jumlah siswa SMP N 1 Turi yang hanyut di Sungai Sempor.

Pasalnya, saat air menerjang, sebagian siswa langsung naik ke permukaan, kemudian pulang sebelum didata terlebih dahulu oleh kepala dusun dan otoritas terkait.

10. Ada warga yang menginformasi kejadian ini lewat masjid

Saat para siswa SMP N 1 Turi melakukan susur sungai di Sungai Sempor, diketahui lingkungan sekitar masih belum turun hujan. Akan tetapi, di bagian hulu sungai telah terjadi hujan. Hal inilah yang diduga membuat air sungai meluap.

Kepala Dukuh, Tartono berkata, “Tahunya warga siaran di masjid ada anak keli (hanyut) sekitar setengah 3. Kalau hujan lebat memang sering meluap,"

Baca Juga:
1. Ngeri! Challenge Berbahaya TikTok ini Makan Korban, Dari Patah Tulang Hingga Gegar Otak
2. Tak Dibelikan HP Baru Orangtuanya, Remaja di Blitar ini Nekat Gantung Diri

Kegiatan susur sungai tidak diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja

Melihat tragedi ini, kita pasti bertanya-tanya, apa itu susur sungai?

Seperti namanya, susur sungai atau kegiatan menyusuri sungai termasuk dalam kegiatan pengenalan sungai.

Dosen Sumber Daya Air dan Sungai Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Maryono menegaskan bahwa kegiatan susur sungai tidak diperbolehkan untuk anak-anak dan remaja. 

"Idealnya susur sungai dilakukan oleh orang-orang dewasa, anak dan remaja tidak boleh susur sungai," ujar Agus seperti yang dilansir dari laman Kompas.com. 

Orang dewasa yang dimaksud Agus adalah mereka yang sudah memiliki keterampilan. "Seperti TNI, Mapala, komunitas sungai, mereka-mereka yang telah terbiasa," ujarnya. 

Sementara dalam tragedi hanyutnya siswa SMPN 1 Turi, beberapa di antara siswa yang selamat menuturkan bahwa mereka belum pernah menyusuri sungai sebelumnya. 

Seperti kata Salma, siswa kelas 7 SMPN 1 Turi, "Ini merupakan pengalaman pertama saya seperti ini. Saya luka beberapa di kaki karena terkena batu,"

Menurut Agus, tidak hanya menengok kondisi sungai saja, susur sungai juga dapat disertai dengan kegiatan lain, misalnya seperti pembersihan sungai.

Selain itu, susur sungai pun menjadi salah satu upaya untuk mengenali potensi sungai. 

Meskipun demikian, dalam susur sungai bukan berarti mereka yang mengikuti kegiatan tersebut harus masuk ke dalam aliran sungai, terlebih bagi anak-anak dan remaja. 

Agus menambahkan, "Bagi anak dan remaja, susur sungai bisa dilakukan di luar (aliran) sungai, tidak jalan-jalan di dalam (aliran) sungai," 

Sebab, lanjutnya, kegiatan tersebut berisiko tinggi dan hanya diperbolehkan dilakukan oleh orang yang terlatih dan terbiasa.

Agus juga menerangkan bahwa dalam prosedur yang benar, susur sungai harus memperhatikan kondisi cuaca, kegiatan ini tidak diperbolehkan dilakukan saat musim hujan.

Karena saat hujan terjadi, maka fenomena alam seperti banjir tidak bisa diprediksi. "Banjir bandang tidak bisa diduga, debit air bisa tiba-tiba meningkat," tambah Agus.

Nah, dari kejadian ini, semoga kita bisa lebih berhati-hati sebelum melakukan kegiatan ya!

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb