Bukan Dengan Kekerasan, Ini yang Dilakukan Nabi Muhammad terhadap Penghinanya

Penulis Dian Editor | Ditayangkan 07 Nov 2020

Ilustrasi Nabi Muhammad - Image from hot.grid.id

Bagaimana sikap Nabi Muhammad terhadap penghinanya? 

Simpang siur pendapat tentang sikap umat Islam yang seharusnya terhadap orang yang menghina dan menistakan agama Islam dan juga Nabi Muhammad SAW. Berikut kisah dan dalil yang menjelaskan hal itu.

Belakangan ini hubungan beragama diwarnai gangguan disebabkan pernyataan Presiden Prancis yang melukai hati Umat Islam. 

Penghinaan kepada Islam dan Nabi Muhammad tidak hanya datang dari media Prancis tapi juga pernyataan dan sikap Presidennya, Emmanuel Macron. 

Banyak negara muslim yang merespon tindakan tersebut dengan memboikot produk-produknya hingga aksi ke Kedubes Prancis.

Namun ada pula orang yang justru bertindak lebih keras yakni dengan membunuh penyebar karikatur Nabi Muhammad SAW. 



Ada juga yang melakukan teror di beberapa tempat di wilayah Prancis. Dari semua ini maka akan timbul pertanyaan bagaimana pandangan Islam mengenai penistaan agama dan cara tepat meresponnya. 

Dalam sebuah artikel AboutIslam.net, seorang dari organisasi nirlaba yang membawa pesan Islam, Faysal Burhan mengungkapkan tidak ada pembenaran bagi muslim untuk membunuh penista agama. 

Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW semasa ia hidup.

"Tidak ada dalam Alquran atau dalam ajaran otentik Nabi Muhammad SAW yang membenarkan, memberi sanksi, atau melegitimasi pembunuhan orang karena menentang, mengkritik, menghina, atau menunjukkan ketidakhormatan terhadap orang suci, artefak agama, adat istiadat, dan keyakinan Islam," ungkapnya, dikutip dari AboutIslam.net, pada Selasa (3/11).

Berpijak pada panduan di Al Quran, umat Islam dianjurkan untuk memberikan maaf dan ampunan kepada mereka yang telah menistakan agama. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Hijr ayat 97 dan 98.

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ

Artinya: "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)."

Selain itu, di ayat yang lainnya, Allah SWT juga memerintahkan kepada hamba-Nya auntuk menjadi orang yang pemaaf. Sebagaimana yang tertulis dalam surat berikut ini, Allah berfirman:

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

Artinya: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (Al-a'raf:199).

وَٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا۟ هُمْ يَغْفِرُونَ

Artinya: "Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf." (Asy-Syura:37).

Menurut Faysal, jika penistaan bisa dihukum mati dalam Islam, maka Nabi akan menjadi orang pertama yang memerintahkan pembunuhan ratusan musuhnya. Dan hal itu tak dilakukan oleh Nabi, sikap tersebut malah mengantarkan musuh nabi berubah menjadi sahabat dekatnya. 

Kebanyakan orang Mekkah menentangnya, mempermalukannya, mengutuk, menghujat, atau bahkan cobaa membunuhnya. 

Namun Nabi lebih suka mempraktikkan pengampunan untuk mencari belas kasihan Allah untuk mereka. Bahkan setelah terluka parah di Taif, dia menolak untuk membalas dendam terhadap pelaku. 

Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa Nabi tak pernah melakukan kekerasan kepada mereka yang menghina dirinya maupun Allah SWT. 

Namun kemarahan yang ada dalam hati Umat Islam atas penghinaan yang ditujukan pada Nabi SAW dan Allah SWT adalah hal yang lumrah. Kendati begitu, penting untuk memberikan pengampunan dibandingkan balas dendam. 

"Kekerasan terhadap siapa pun yang mengkritik Islam, Allah Yang Maha Kuasa, atau Nabi Muhammad (saw) tidak dapat    diterima sebagaimana dengan jelas ditetapkan oleh ajaran ilahi. Namun memang hinaan terhadap Nabi merupakan tusukan di hati Islam dan bagi mereka yang mengaku sebagai pengikutnya," katanya.

"Mereka yang mendukung pembunuhan orang-orang yang dituduh melakukan penistaan ​​adalah musuh Islam karena mereka tidak mengerti Islam atau tidak menghormati Nabi. Tidak peduli siapa mereka, Alquran dan ajaran Nabi (saw) menantang mereka," terangnya.

Jadi Umat Islam diharapkan bisa berbesar hati dengan memberikan pengampunan serta mendoakan kebaikan untuk mereka. Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan juga mengampuninya.