Miris, Mbah Sarani Terpaksa Makan Kapuk Bantal karena Tak Punya Makanan

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 15 Jun 2020

Potret Mbah Sarani - Image from islamidia.com

Hidup sebatang kara 

Mbah Sarani potret kemiskinan yang sangat memilukan. Hidup seorang diri hanya bisa berpangku tangan menunggu bantuan orang lain. Semakin sulit bertahan hidup di tengah pandemi corona.

Kisah miris dan menyedihkan dialami oleh Mbah Sarani yang kelaparan serta terpaksa makan kapuk bantal karena tak ada makanan. 

Kakek yang kini berusia 74 tahun tersebut saat ini diketahui tinggal sebatang kara di Kampung Priuk, Serang, Banten.

Kisah ini menjadi viral dan perbincangan karena dibagikan oleh pengguna Facebook bernama Sophia Imaliawati.

Dalam unggahannya, ia menuturkan kondisi Mbah Sarani sangat memilukan. Diceritakannya bahwa Mbah Sarani sering kelaparan dan hanya bisa minum air. 

Ia hidup seorang diri, sebab sang istri sudah meninggal. Sementara dari pernikahannya, ia tak memiliki anak seorangpun. 

Disebutkan, hanya Santijah (60) dan Bakriah (40) yang biasa merawat Mbah Sarani.

Padahal, dua orang tersebut ternyata juga punya kehidupan yang pas-pasan. Kendati demikian, keduanya sering membantu Mbah Sarani yang saat ini sudah kesulitan berjalan. 

Untuk berpindah dari tempat ke tempat lain, Mbah Sarani hanya bisa merangkak. 

Bulan puasa lalu, Mbah Sarani mengalami masa-masa suli. Akibat pandemi virus corona, orang yang biasa memberinya makanan tidak pernah datang lagi. 

Karena kelaparan, demi mengganjal perut, ia sampai nekat memakan kapuk dari isi bantal dan kasur yang ia tempati. 

Beberapa kali Mbah Sarani yang tak kuasa menahan lapar membuatnya terpaksa merangkak keluar rumah.

Ia berusaha keluar untuk meminta makan kepada para tetangga. Hal itu membuat jari-jari dan lutut Mbah Sarani sampai berdarah lantaran merangkak di jalan aspal. 

Ketika masih sehat, Mbah Sarani bekerja sebagai penjual cobek. Namun, ia berhenti jualan setelah dirinya mengalami kecelakaan yakni dtabrak motor. 

Akibatnya, pinggul Sarani bermasalah dan memembuatnya hanya bisa terbaring di kasur. 



Sejak saat itu, Mbah Sarani lebih banyak membaringkan diri di kasur. Ia tak bisa mandi dan juga buang air besar sendiri.

Beruntung masih ada nenek Santijah dan keponakan Sarani, Bakriah, yang dengan sabar mengurusnya. 

Santijah yang merupakan adik dari Mbah Sarani mengaku mendapat bantuan sosial (bansos) dari pemerintah sebesar Rp 500 ribu. Namun, saat ini masih proses mencairkan dana tersebut.

Kisah ini sekaligus menampar kita semua, yang hidup dalam kecukupan. Setidaknya masih bisa makan dan minum dengan normal, meski ala kadarnya. 

Sekaligus mengingatkan kita untuk mengamati lingkungan sekitar, barangkali ada orang-orang seperti Mbah Sarani yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. 

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb