Jangan Remehkan Ucapan 'Insya Allah', Ini Kisah dan Makna Penting Dibaliknya

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 29 Jun 2020

Ilustrasi - Image from muslimobsession.com

Insya Allah bukan alasan untuk ingkar janji 

Ucapan insya Allah saat ini mengalami penurunan makna, bahkan terkadang jadi alasan untuk tak menepati janji. Padahal ada kisah dan makna penting yang jadi latar belakangnya.

Pernahkah mengucapkan Insya Allah? Terkadang saat kita hendak berjanji dengan seseorang, kita selalu membubuhkan kata Insya Allah di depannya. 

Tapi sebelumnya, tahukah kamu makna dari Insya Allah dan kisah dibaliknya? 

Rasulullah SAW bersabda, "Berkata Sulaiman bin Daud as: Malam ini aku akan berkeliling mengunjungi 70 perempuan, tiap perempuan kelak akan melahirkan seorang anak yang kelak akan berperang di jalan Allah." Sulaiman ditegur malaikat, "Katakanlah Insya Allah." 

Sulaiman tanpa mengucapkan insya Allah kemudian mengunjungi 70 perempuan itu dan ternyata tidak seorang pun di antara wanita-wanita itu yang melahirkan anak, kecuali seorang wanita yang melahirkan seorang setengah manusia. Demi Allah yang nyawaku ada di Tangan-Nya, seandainya Sulaiman mengucapkan kata insya Allah niscaya ia tidak akan gagal dan akan tercapai hajatnya.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Ada satu hal yang penting untuk digarisbawahi pada hadist ini yaitu kata insya Allah yang bermakna jika Allah berkenan atau jika Allah mengizinkan. 

Masa depan sepenuhnya ada dalam kekuasaan Allah dan Allah SWT Maha Kuasa yang bisa melakukan segala hal. 

Sedangkan manusia tidak berkuasa menentukan apa yang akan terjadi pada masa tersebut. Karena alasan itu setiap kita dianjurkan untuk mengucapkan insya Allah ketika akan melakukan sesuatu yang terjadi di masa depan dan saat berjanji. 

Janji termasuk sesuatu yang akan dilakukan di masa mendatang. Segala sesuatu yang ada di masa depan hanya Allah SWT yang tahu. 

Kita tidak tahu rencana Allah terhadap diri kita dan terhadap janji yang kita ucapkan. Jadi, ungkapan insya Allah dimaksudkan agar keinginan kita dengan kehendak Allah sama, sehingga bisa dilaksanakan dengan baik. 

Ungkapan insya Allah mengandung azam atau kekuatan niat untuk melakukan suatu pekerjaan. Sebagai contoh, "Insya Allah nanti malam saya akan datang."

Kalimat di atas adalah janji yang harus ditepati oleh si pengucap. Disertakannya ungkapan insya Allah menunjuk adanya sikap tawakal kepada Allah sebagai bentuk kesadaran bahwa Allah-lah yang berhak menentukan terjadinya sesuatu hal. 

Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi dikemudian hari, baik hal baik atau buruk. 

Rasulullah SAW dalam hadis di atas menunjukkan kekhilafan Nabi Sulaiman yang terlalu percaya diri dalam bertindak tanpa lebih dulu menyandarkannya kepada Allah SWT dengan mengucapkan insya Allah. 

Kita dianjurkan untuk menyertakan ungkapan insya Allah ketika mengucapkan sebuah janji. Allah SWT berfirman: 

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu. Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi. Kecuali (dengan menyebut) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhan-mu jika kamu lupa dan katakanlah mudah-mudahan Tuhan-ku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada itu." (QS Al-Kahfi: 23-24).

Ayat ini turun sebagai sebuah teguran kepada Rasulullah SAW ketika beliau berjanji (tanpa disertai ucapan insya Allah) kepada orang Quraisy yang menanyakan masalah ruh, kisah Ashabul Kahfi dan kisah Dzulkarnain.

Sekarang, ungkapan insya Allah tengah mengalami penurunan makna. Ia tidak lagi dijadikan sarana untuk menyempurnakan janji dan penyerahan diri kepada Allah. 

Ucapan insya Allah kerap dijadikan alasan untuk tidak menepati janji kepada orang lain. Semua ini terjadi karena kurang pahamnya sebagian orang terhadap makna dan hakikat dari kata insya Allah. 

Karena itu kita harus berusaha mengembalikan makna insya Allah kepada hakikat sebenarnya yaitu penyerahan diri kepada Allah dan menepati janji agar kita terhindar dari sifat munafik. 

Sebagaimana dikatakan Nabi Ismail kepada ayahandanya: 

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ 

"Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS Ash-Shaffat: 102).

Nah kita sudah tahu makna dan kisah dibaliknya, mulai saat ini sebaiknya istiqomah menggunakan ucapan insya Allah khususnya jika berhubungan dengan masa datang. 

Kemudian, hayati betul-betul makna di dalamnya dan tepati janji yang telah diikrarkan. Dan semoga kita dijauhkan dari segala sifat kemunafikan. 

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb