Tak Hanya Sholat, Isi Hari Raya Idul Fitri dengan Segudang Amalan ini Supaya Berkah

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 16 May 2020

Belum afdhol jika hari raya Idul Fitri tak melakukan amalan sunnah ini 

Hari Raya Idul Fitri tentu adalah hari raya yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam. Namun terkadang hari ini diisi dengan kegiatan yang kurang bermanfaat atau istilahnya balas dendam setelah beribadah penuh saat puasa. Mulai dari banyak mencoba makan dan minum berbagai hidangan, hingga bermalas-malasan. 

Sholat Idul Fitri adalah sholat sunnah yang dilakukan untuk menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Hukum Sholat Idul Fitri yakni sunnah muakad yaitu sangat dianjurkan untuk dilakukan. 

Hal ini juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. 

Waktu pelaksanaan sholat Idul Fitri adalah mulai dari naiknya matahari setinggi tombak sampai tergelincir. 

Pelaksanaan disunahkan untuk sedikit ditunda agar kaum muslimin dapat menunaikan kewajiban zakat fitrah.

Terkait pelaksanaan sholat Idul Fitri, ada amalan sunah untuk dikerjakan orang yang melaksanakan sholat Idul Fitri, berdasarkan buku bertajuk 'Idul Fitri' karya Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc., M. Ag.

Berikut amalan sunah saat melaksanakan sholat Idul Fitri:

Baca juga : Cegah Covid-19, MUI Minta Umat Islam Tak Salam-salaman Saat Idul Fitri

1. Takbiran

Allah swt berfirman: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur".

Menurut Ibnu Katsir ayat ini menjadi pijakan para ulama fiqih sebagai dalil pelaksanaan takbiran ketika ibadah Ramadhan telah berakhir. 

Selain itu ada hadits Rasulullah saw berikut:

Dari Ummu Athiyyah RA berkata: "Kami dahulu diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para gadis juga keluar dan perempuan yang sedang haid pun keluar rumah. Mereka berada di belakang jemaah sholat, mereka bertakbir sebagaimana jemaah lain bertakbir, mereka berdoa dengan doa para jemaah, mereka berharap keberkahan hari itu." (HR. Bukhari).

Sehingga waktu takbiran bisa dilakukan pada malam hari raya, dengan mengeraskan suara, baik di masjid, rumah, dan jalan. Baik saat di atas motor, di dalam mobil, dalam pesawat terbang, dan alat transportasi lainnya. 

Itu semua dilakukan untuk syiar serta memberi tahu masyarakat lain bahwa Ramadhan telah usai dan hari Raya akan kunjung datang. 

Besoknya saat keluar rumah menuju masjid atau lapangan untuk menunaikan sholat maka disunnahkan juga untuk bertakbir di sepanjang jalan sampai imam sholat memulai sholat Id. 

2. Menghidupkan Malam Idul Fitri

Amalan sunah lainnya yakni menghidupkan malam Idul Fitri. Menghidupkannya adalah dengan istiqomah menjalankan amalan yang selama ini dilakukan saat ramadhan. 

Jangan sampai ada kesan bahwa saat ramadhan habis, maka berakhir jugalah segala kebaikan yang sudah dilakukan selama ramadhan.

Amalan sunnah tersebut diantaranya adalah membaca Al-Quran, sholat tahajud, sholat witir, berdzikir, apalagi sholat Maghrib berjamaah, Isya berjamaah dan Subuh berjamaah. 

Rasulullah SAW bersabda:

"Siapa yang shalat pada malam dua hari raya berharap ridha Allah maka tidak akan mati hatinya pada saat hati-hati manusia lain mati". (HR. Ibnu Majah).

Secara khusus Imam As-Syafi'i berkata: "Doa akan dikabulkan pada lima malam yakni malam jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fithri, awal malam bulan rajab dan pada malam nisfu sya'ban." 

Imam As-Syafi'i juga menambahkan bahwa Beliau mendapati kabar bahwa penduduk Madinah pernah ramai-ramai berkumpul di masjid pada malam lebaran. 

Mereka berdoa dan berdzikir kepada Allah SWT. Apapun bentuk ibadahnya, lanjut Imam As- Syafi'i, yang jelas mereka menyukainya, meskipun bukan suatu kewajiban. 

3. Mandi dan Memakai Pakaian Terbaik

Pada hari Raya Idul Fitri disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat ke tempat shalat. Dalilnya adalah hadits Nabi Muhammad SAW berikut:

"Dari Ibnu Abbas RA berkata: bahwa Rasulullah SAW mandi pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. (HR. Ibnu Hibban). Disunnahkan juga untuk mengenakan pakaian yang terbaik di hari itu, khususnya untuk pakaian shalat, baik peci, baju koko atau gamis, sarung, celana, juga mukena". Rasulullah SAW juga melakukan hal yang sama: Dari Jabir RA bahwa Nabi SAW memiliki jubah yang dikenakannya pada saat dua hari raya dan hari Jumat. (HR. Al-Baihaqi).

Imam As-Syafi'i meriwayatkan sebuah hadits lainnya: Bahwa nabi Muhammad SAW pada setiap lebaran senantiasa memakai pakaian hibarah (HR. As-Syafi'i). 

Hibarah itu adalah salah satu model pakaian yang terkenal di Yaman pada waktu itu. Pakaian hibarah inilah yang dahulu diselimutkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika Beliau wafat. 

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits, cerita dari Ibnu Abbas RA: Bahwa Abu Bakar RA membuka wajah nabi Muhammad SAW ketika beliau wafat dari pakaian hibarah yang menyelimuti Beliau. Abu Bakar RA melihat wajah Nabi SAW kemudian Abu Bakar mencium wajah Nabi Muhammad SAW (HR. Ahmad).

Lebih afdhal lagi jika memakai pakaian yang berwarna putih, dan mengenakan imamah (sorban). 

Jika seandainya hanya ada satu baju maka baju itu baiknya dicuci terlebih dahulu, untuk dipakai besoknya pada hari raya. Disukai juga mengajak anak-anak dengan dipakaikan pakaian yang bagus. 

4. Makan Sebelum Sholat

Disunnahkan bagi kita untuk makan sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri.

Dasarnya adalah hadits berikut ini :

Dari Anas bin Malik radliyallahuanhu berkata, "Rasulullah tidak berangkat pada Idul Fitri hingga Beliau memakan beberapa kurma". (HR. Bukhari).

Kamu bisa sarapan terlebih dahulu dengan nasi dan lauk lengkap ataupun sekedar mengisi perut dengan makanan ringan seperti kurma, roti atau lainnya. 

5. Pergi dan Pulang Sholat dengan Rute Berbeda

Disunahkan untuk mengambil rute yang berbeda antara jalan pergi dan pulangnya. Hal itu berdasarkan contoh dari Rasulullah SAW. 

"Rasulullah SAW ketika hari lebaran mengambil jalan yang berbeda (pulan dan pergi)." (HR. Bukhari).

Memang tidak ditemukan penjelasan khusus mengenai alasan nabi Muhammad mengambil jalan yang berbeda. Namun ada beberapa penafsiran, berikut beberapa alasan yang disampaikan Imam Nawawi: 

  • Nabi memilih jalan pergi lebih panjang ketimbang jalan pulang karena perginya dinilai lebih utama
  • Nabi memilih jalan yang berbeda karena di kedua jalan itu nabi SAW bersedekah
  • Nabi mengambil jalan yang berbeda untuk memberikan penghormatan kepada penduduk yang tinggal didua jalan itu
  • Nabi mengambil jalan yang berbeda agar kedua jalan itu memberikan kesaksian kepada Nabi SAW
  • Nabi mengambil jalan yang berbeda untuk mengajari kedua penduduk dan memberikan fatwa kepada mereka
  • Nabi mengambil jalan yang berbeda agar tidak diketahui jalan pulangnya oleh orang-orang munafik yang mungkin mengintainya untuk menyakiti Beliau
  • Nabi mengambil jalan yang berbeda untuk memunculkan sifat tafa'ul (optimistis) atas perubahan kondisi ke suasana ampunan dan ridha Allah

Disunahkan juga, untuk pergi dan pulang dari sholat Idul Fitri dengan berjalan kaki, khususnya jika tempat tidak terlalu jauh. 

Ibnu Umar berkata: "Bahwa Nabi Muhammad SAW keluar rumah pada hari Lebaran dengan berjalan kaki dan pulangnya juga berjalan kaki." (HR. Ibnu Maja). 

Namun saat pandemi corona seperti ini, sholat Idul Fitri disarankan dilakukan di rumah saja, kecuali memenuhi kriteria dari MUI yang membolehkan sholat di masjid dan lapangan.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb