Tips Agar Anak Tak Jadi Korban Bullying

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 18 Apr 2020

Tips Agar Anak Tak Jadi Korban Bullying

Ilustrasi Bully - Image from www.liputan6.com

Bullying ada dimana-mana. 

Dengan semakin meningkatnya kasus bullying pada anak-anak, Bunda harus segera bentengi si kecil agar tak jadi korban atau pelaku bullying. Mengingat dampaknya yang luar biasa pada tumbuh kembang anak.

Semakin hari, semakin banyak kejadian bullying yang terjadi pada anak-anak dan remaja. Hal ini ditandai banyaknya laporan kasus bullying melalui video yang kemudian viral di media sosial. 

Banyak juga korban yang masih dibawah umur, bahkan pelakunya juga masih di bawah umur. Oleh sebab itu, anak-anak perlu dibekali pengetahuan tentang bullying dan apa yang harus dilakukan saat jadi korban.

Baca juga : Si Kecil Suka Marah dan Tidak Sopan? Ini Cara Mengatasinya

Bullying Menurut Ahli 

Penulis buku anak Elinor Greenwood mengatakan, bullying bisa melukai siapa saja yang terlibat dengannya. Anak-anak perlu tahu dengan jelas apa itu bullying sehingga tidak terjerumus pada hal tersebut. 

Baik sebagai korban maupun pelakunya. Greenwood kemudian menjelaskan mengenai bullying. 

"Apa itu bullying? Bully adalah jika seseorang menggunakan kata-kata untuk mengancam, menyebarkan rumor, menggoda atau mengejek," kata Greenwood, dalam buku My Mixed Emotions; Learn to Love Your Feelings.

Tak hanya itu Bunda, Greenwood juga menjelaskan, anak-anak yang suka menggunakan kekuatannya dengan menendang, memukul, mendorong juga termasuk bullying. Bahkan mengambil barang atau merusak barang milik orang, hingga menakut-nakuti, juga termasuk contoh tindakan bullying.

Perkataan anak-anak yang menyakiti temannya seperti mengajak untuk tidak menemani seseorang, hingga meninggalkan seseorang dalam kelompok, merupakan tipe bullying yang lebih buruk.

"Bullying ini bisa terjadi pada anak laki-laki atau perempuan. Dan biasanya terjadi saat perjalanan menuju dan pulang dari sekolah, di sekolah, melalui internet, dan di rumah," jelas Greenwood.

Cara Menghadapi Bullying 

Lantas, bagaimana anak harus menghadapi bullying? Greenwood mengingatkan, bullying tak bisa diterima dengan alasan apapun. Karenanya, apabila anak menjadi korban bullying, Bunda bisa mengingatkan anak-anak untuk memberi tahu seseorang yang dipercaya.

Misalnya saja cerita ke orang tua, guru, kepala sekolah, atau teman dekat. Apabila terasa lebih mudah dengan menuliskan, kirimkan catatan ke orang terpercaya tersebut. 

"Jangan pernah merahasiakan bullying. Cobalah menceritakan ke orang lain hingga orang bertindak. Hindari tempat yang membuat Anda jadi korban bullying, seperti tempat yang tidak bisa dilihat guru," katanya.

Nah, kalau anak-anak ada di dekat pelaku bullying, Greenwood mengingatkan agar anak-anak untuk tidak menertawai atau malah menonton aksi bullying.

"Jika anak melihat seseorang yang dibully, temukan seseorang yang bisa membantu menghentikannya," tegas Greenwood.

Menurut psikolog Patricia Yuannita, M.Psi, sebenarnya kasus perundungan sudah ada dari era 1990-an. Semenjak itu, perundungan berkembang dengan pesat.

"Perundungan berkembang pesat karena perkembangan ekonomi dan teknologi. Keduanya memicu anak-anak dan remaja ini untuk bertahan di lingkungan," kata Yuan. 

Oleh sebab itu Bunda, perkaya pengetahuan anak mengenai bullying. Semakin cepat ia mengerti, semakin kuat benteng pertahanannya ketika menghadapi bullying. 

Pengawasan berkala juga penting untuk mencegah anak jadi korban bullying. Bunda bisa bertanya kepada anak setiap sepulang sekolah tentang aktivitasnya di sekolah. 

Ingat ya bun, dengarkan saja, jangan menghakimi, menentang atau menyalahkan perbuatannya. Agar anak tidak merasa ditolak dan tetap merasa dihargai serta disayangi. 

Selanjutnya jika anak salah dalam menyikapi bullying. Bunda bisa memberikan penjelasan tentang baik buruknya perilaku melalui sebuah cerita. 

Dari cerita tersebut bisa digunakan untuk memberikan penilaian salah atas perilaku anak, tetapi tidak menyerang personal si anak, namun tokoh yang ada di cerita.

Bicaralah hati-hati, agar anak tidak merasa sinis dan tetap mau mendengarkan.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb