Hikmah Dari Perjuangan Hidup Aan: `Ndak capek, saya mau cari uang untuk bapak`

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 26 Feb 2020

Hikmah Dari Perjuangan Hidup Aan: `Ndak capek, saya mau cari uang untuk bapak`

Aan menjemur batu bata - Image from regional.kompas.com

Malang nian nasib Aan, bocah 12 tahun yang banting tulang menghidupi keluarganya!

Prihatin, sepulang sekolah, Aan bekerja menjemur batu bata dengan upah 30 ribu. Hasilnya ia gunakan untuk menghidupi keluarga serta merawat ayah yang lumpuh dan nenek yang sudah pikun. 

Tak terbayang bagaimana susahnya perjuangan Aan, semoga menjadi anak yang sukses membanggakan orangtua.

Disaat temannya yang lain sibuk belajar dan bermain, berbeda halnya dengan Aan. Setiap hari dia bekerja sebagai pengrajin batu bata. Padahal dia baru berusia 12 tahun dan sedang duduk di bangku kelas V SD di Wanio Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan.

Namun, perjuangannya merawat Ayah yang lumpuh dan neneknya yang sudah renta dan juga penyandang disabilitas, itu membuat terenyuh siapapun yang melihatnya.

Baca juga : 

Setiap hari Aan Nur Pratama, adalah siswa yang paling duluan datang ke sekolah. Bahkan, sejak Lonceng SD Negeri 5 Wanio, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan berbunyi, Aan Nur Pratama paling pertama menyalami tangan gurunya dibanding teman-teman lainya.

Merawat Ayah yang Lumpuh dan Nenek yang Renta

Sepulang dari sekolah Aan langsung berlari menuju rumahnya dengan tas yang lusuh. Dia berlari cepat ke rumah, di tengah teriknya matahari namun tak menghalangi Aan segera pulang untuk merawat ayah dan neneknya. 

Itu semua dilakukan Aan, lantaran sang ibu meninggalkannya dengan Ayahnya ketika mengetahui bahwa Ayah Aan lumpuh. Bakri mengaku sedih, melihat sang anak harus menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga.

“Saya sedih pak, namun dia adalah anak berbakti. Tidak pernah sekalipun mengeluh,” ungkapnya.

Meski keringat belum kering, Aan langsung merawat Bahri, sang ayah yang lumpuh karena kecelakaan kerja, dan sang nenek yang sudah pikun. Keduanya hanya bisa terbaring di tempat masing-masing

"Saya sudah enam tahun menderita lumpuh akibat kecelakaan kerja. Saat itu saya tertimpa batu bata, dan divonis patah tulang belakang. Beruntung Aan bisa merawat saya dan neneknya yang sekarang sudah pikun," kata Bahri di rumahnya Desa Bapangi, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Selasa (25/02/2020).

Kerja sebagai Pengrajin Batu Bata

Aan merawat ayah dan neneknya, memastikan keduanya sudah makan. Setelah itu Aan pamit menuju tempatnya bekerja sebagai pengrajin batu bata. 

Aan bergegas menuju ke tempatnya bekerja, sebagai buruh batu bata. Jaraknya kurang lebih 500 meter dari rumahnya. Dia berjalan kaki. Pekerjaan ini telah dilakoninya sejak 5 tahun yang lalu. Dalam sehari, Aan mengaku bisa mendapatkan uang antara Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.

“Tidak capek. Karena selalu ingat bapak yang sakit. Saya mau cari uang untuk bapak, dan nenek, juga untuk beli obatnya,” kata bocah polos itu.

Ancu, bos batu bata tempat Aan bekerja, juga mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami bocah tersebut. 

“Harusnya kan usia dia sekarang belajar dan bermain. Saya salut, dia rajin dan pekerja keras. Bahkan kalau saya panggil makan, selalu menolak. Katanya mau makan sama ayahnya saja di rumah,” sebutnya.

Ancu berharap kehidupan Aan bisa diperhatikan oleh pemerintah. Agar bocah malang ini, bisa menjalani hidup lebih baik.

“Jangankan Aan sebagai buruh, kita pun juga menjalani kehidupan yang sulit. Bisnis batu bata sulit apalagi kalau musim hujan sperti ini,” tandasnya.

Bekerja mengeringkan batu bata setengah hari, sesekali Aan menyeka keringat demi diupah 30 ribu untuk biaya sekolah dan kebutuhan keluarga. Untuk makan, Aan mengandalkan pemberian dari pemilik usaha batu bata.

"Aan anaknya rajin dan telaten, dia mampu menjemur batu bata sebanyak 7.000 hingga 10.000 dalam setengah hari."

"Kadang jika Aan menjemur lebih dari biasanya terpaksa saya harus berhutang upah kepada Aan jika pesanan batu bata belum dibayar pelanggan," ungkap Ancu, Bos Aan.

Seharian sekolah, merawat ayah dan nenek, serta bekerja di pabrik batu bata, tentu membuatnya lelah, namun diacuhkannya dan semakin membuatnya semangat ketika mengingat harapan kesembuhan untuk Ayahnya serta cita-citanya.

Bercita-cita Jadi Tentara atau Polisi

Aan Bocah SD di Sulawesi Selatan, sembari sekolah dan mencari uang tetap dijalankan tanpa kenal lelah.

"Capek. Namun untuk biaya sekolah dan kebutuhan keluarga, sakit dan peluh terbiasa. Saya juga akan menabung demi mengejar cita-cita menjadi tentara dan polisi," lirih Aan sambil menyeka keringat.

Walau mendapatkan bantuan beras sejahtera, tapi keluarga Aan tidak pernah mendapatkan bantuan biaya perawatan dari Pemerintah Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Aan Ingatkan Kita untuk Berbakti kepada Orang Tua 

Pengorbanan Aan untuk bekerja, ingatkan kita untuk senantiasa berbakti kepada orang tua. Cintanya kepada orang tua membuatnya tidak peduli dengan lelah yang menghampirinya. 

Tidak peduli walau waktunya dihabiskan untuk bekerja dan tidak bisa bermain selayaknya teman-teman yang lain. Satu hal yang membuat semangatnya tak pernah padam adalah harapan kesembuhan ayahnya. 

Begitu pentingnya berbakti kepada orang tua, hingga perintah ini disebut setelah perintah tauhid, berikut kutipan ayatnya : 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36)

Sayangi orang tua Anda, karena ridhonya adalah kemudahan dalam setiap jalan yang Anda tempuh. Semoga Aan tumbuh menjadi anak yang kuat, cerdas, dan sabar dalam menghadapi segala ujian hidup yang menerpanya. 

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb