Bukan Virus Corona, Wabah Virus Lebih Mematikan ini yang Darurat di Indonesia

Penulis Arief Prasetyo | Ditayangkan 12 Feb 2020

Bukan Virus Corona, Wabah Virus Lebih Mematikan ini yang Darurat di Indonesia

DBD - Image from facebook.com

Lebih mematikan dari pada corona..

Bukan berarti masyarakat Indonesia aman-aman saja, dengan tidak masuknya penyebaran virus corona. Namun wabah inilah yang saat ini diam-diam mengintai dan sudah banyak menyerang masyarakat Indonesia, bahkan statusnya sudah KLB (Kejadian Luar Biasa)

Wabah Corona di Cina bikin heboh dunia. Pasalnya, virus dengan nama lengkap Novel Coronavirus (2019-nCoV) itu telah menginfeksi 43.106 orang hingga Selasa (11/2/2020) dengan korban meninggal dunia mencapai 1.018 orang. Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina itu juga telah menyebar ke berbagai belahan dunia, tapi tidak Indonesia.

Ini menarik karena faktanya lalu lintas dari Indonesia ke Cina relatif tinggi. Soal ini, WHO mengatakan Indonesia mampu mendeteksi Corona karena fasilitas yang memadai. Akan tetapi, bukan berarti masyarakat Indonesia aman-aman saja.

Alih-alih Corona, ternyata ada penyakit lain yang diam-diam mengintai: demam berdarah dengue (DBD). Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mencatat kasus DBD di sejumlah daerah di Indonesia meningkat.

Mengutip Antara, Senin (11/2/2020), ia menyebut peningkatan kasus DBD terjadi di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat; Kabupaten Lampung Tengah, Lampung; Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah; Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT); dan Kabupaten Belitung di Kepulauan Bangka Belitung.

Nadia mengatakan di Ciamis ada 37 kasus DBD, lalu Belitung sebanyak 150 kasus, dan Temanggung sebanyak 48 kasus. Untungnya, Nadia mengklaim, di tiga daerah itu DBD sudah bisa dikendalikan dinas kesehatan setempat.

Baca Juga:

Bukan Virus Corona, Wabah Virus Lebih Mematikan ini yang Darurat di Indonesia

DBD - Image from facebook.com

Jumlah penderita DBD juga tercatat cukup banyak di Pekanbaru, Riau. Dinas Kesehatan setempat mencatat 166 orang terjangkit DBD musim hujan, awal 2020. Jumlah tersebut merupakan hasil laporan dari 21 puskesmas yang tersebar di seantero kota.

Sedangkan untuk kasus di Kabupaten Lampung Tengah, Nadia tak menyebut jumlah pastinya. Akan tetapi, ia memastikan daerah tersebut mengalami peningkatan kejadian demam berdarah. Peningkatan paling tinggi terjadi di Kabupaten Sikka, NTT, sebanyak 218 kasus DBD. "Empat kali lebih banyak dari tahun sebelumnya. Saat ini masih dalam proses pengendalian," kata Nadia.

KLB Demam Berdarah di NTT

Catatan Kemenkes berbeda dengan Dinas Kesehatan NTT. Jika pusat menyebut 218, dinas setempat mendata 433 kasus. Tiga kabupaten, Sikka, Lembata, dan Alor, bahkan mengumumkan status kejadian luar biasa (KLB) DBD lantaran jumlah korban meninggal lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan NTT Dominikus Minggu Mere mengatakan jumlah penderita DBD di Lembata mencapai 107 kasus dan di Alor 98 kasus. Dominikus menyebut jumlah kasus DBD di seluruh daerah NTT sudah mencapai 1.096 kasus dengan korban meninggal sebanyak 13 orang. Jumlah itu lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 903 orang dan korban meninggal 12 orang.

Pemerintah Kota Kupang juga menetapkan status waspada demam berdarah. Dominikus mengatakan jumlah penderita DBD di Kupang mencapai 193 dan tiga anak meninggal dunia.

"Serangan DBD di Kupang belum sampai pada tahap status KLB DBD. Penyebaran penyakit DBD masih pada level waspada," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kupang, Sri Wahyuningsih.

Meski statusnya masih waspada, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof WZ Johannes sempat kewalahan dalam menampung pasien yang terjangkit DBD. "Sebanyak 34 pasien masih dirawat di rumah sakit WZ Johannes.

Sebelumnya kami sempat kewalahan menangani pasien DBD itu sendiri," kata Wakil Direktur Pelayanan RS WZ Johannes Kupang, Stevanus Dhe Soka. Stevanus mengatakan pada Januari kemarin, ruang perawatan anak sudah kelebihan kapasitas.

Pengelola RSUD terpaksa menambah 10 tempat tidur yang ditempatkan di setiap lorong ruang perawatan. Saat itu, anak yang terjangkit DBD mencapai 136 orang.

SHARE ARTIKEL