Kronologi Kakek Samirin Dibui Karena Pungut Sisa Getah Rp 17 Ribu

Penulis Arief Prasetyo | Ditayangkan 20 Jan 2020

Kronologi Kakek Samirin Dibui Karena Pungut Sisa Getah Rp 17 Ribu

Image from facebook.com

Komedi negeri +62, adilkah seperti ini?

Mungut sisa karet dipenjara, sedangkan yang mungut uang rakyat dibiarkan diluar sana....


Berikut kronologi kasus yang terjadi di Sumatera Utara (Sumut) sebagai dirangkum detikcom, Jumat (17/1/2020): 17 Juli 2019

Kakek Samirin selesai menggembala lembu di Nagori Dolok Ulu, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun.

Setelah itu, kakek Samirin mengumpulkan sisa getah rembung/karet yang tersisa. Sisa getah itu, dia masukkan ke kantong kresek

Di saat yang sama, lewat petugas perkebunan yang sedang berpatroli. Samirin lalu dibawa ke kantor Security Perkebunan PT Bridgestone SRE Dolok Maringir. Kemudian menimbang getah dan hasilnya seberat 1,9 kg. Bila diuangkan seharga Rp 17.480. Bridgestone melaporkan kasus ini ke Polsek setempat.

Baca Juga:

Kasus kakek Samirin didaftarkan ke Pengadilan Negeri (PN) Simalungun. Duduk sebagai ketua majelis Roziyanti dengan anggota Novarina Manurung dan Aries Kata Ginting.

Kakek Samirin awalnya tidak ditahan oleh polisi. Namun jaksa tiba-tiba menahan kakek Samirin dengan alasan takut kabur.

Sidang perdana kakek Samirin digelar di PN Simalungun. Kakek Samirin didakwa melanggar Pasal 111 jo Pasal 107 UU Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.

Pasal 107:
Setiap Orang secara tidak sah yang:
a. mengerjakan, menggunakan, menduduki, dan/atau menguasai Lahan Perkebunan;
b. mengerjakan, menggunakan, menduduki, dan/atau menguasai Tanah masyarakat atau Tanah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dengan maksud untuk Usaha Perkebunan;
c. melakukan penebangan tanaman dalam kawasan Perkebunan; atau
d. memanen dan/atau memungut Hasil Perkebunan;

Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun atau denda paling banyak Rp 4 miliar.

Pasal 111
Setiap Orang yang menadah hasil Usaha Perkebunan yang diperoleh dari penjarahan dan/atau pencurian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyak Rp 7 miliar.

Jaksa menuntut kakek Samirin melanggar pasal 107 huruf d UU No 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan sebagaimana Dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Samirin selama 10 bulan penjara dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara dengan perintah terdakwa tetap ditahan.

PN Simalungun memutuskan, menyatakan Samirin terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana secara tidak sah memanen dan atau memungut hasil perkebunan sebagaimana dalam dakwaan alternatif Kedua.

Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 bulan dan 4 hari. Setelah divonis, Samirin bebas pada malam harinya. Ia kembali bertemu keluarganya.

Bridgestone menyatakan proses hukum yang dilakukan sesuai aturan yang berlaku.

"BSRE melaporkan insiden tersebut kepihak berwenang setempat untuk mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan hukum yang berlaku," kata GM Legal Bridgestone Indonesia.

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb