Arti Harfiah : Pengertian dan Penggunaan Kata Harfiah

 04 Oct 2019  Isfatu Fadhilatul

Arti Harfiah : Pengertian dan Penggunaan Kata Harfiah

Arti Harfiah - Image from www.vaureal.f

Suatu kata akan selalu memiliki dua makna, yakni makna secara harfiah dan makna secara istilah atau spesifik.

Arti Harfiah

Menurut KBBI, arti harfiah adalah arti kata sebagaimana aslinya/asalnya. Karena arti ini terdaftar pada kamus (leksikon) sebagai leksem, arti ini dapat pula disebut sebagai arti/makna leksikal atau arti yang paling mendasar. Arti atau makna harfiah biasanya dipertentangkan dengan arti/makna gramatikal.

Selain harfiah KBBI diatas, ada juga pengertian harfiah menurut ahli yaitu Soedjito (1986) yang menjelaskan bahwa makna harfiah ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah konstruksi.

Sementara itu, makna istilah merupakan kebalikan dari makna harfiah yaitu kata yang bersifat spesifik mengacu pada maksud tertentu dan arti tertentu yang tidak seumum makna harfiah. Makna secara istilah telah mengalami pembatasan dan pengkhususan (takhsis) dari asal kata nya secara bahasa tadi. Atau secara singkatnya istilah adalah kata atau ungkapan khusus.

Berikut artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang penggunaan kata harfiah beserta perbedaan harfiah dan istilah.

Perbedaan Harfiah dan Istilah

Seperti yang sudah kita bahas diatas, bahwa arti kata harfiah adalah makna yang sesungguhnya, sedangkan makna istilah adalah makna turunan atau ungkapan khusus.

Selain makna harfiah dan istilah, ada juga makna secara etimologi. Kata etimologi diambil dari bahasa Belanda etymologie yang berakar dari bahasa Yunani etymos (arti sebenarnya adalah sebuah kata) dan logos (ilmu). Jadi dapat kita simpulkan bahwa etimologi merupakan cabang ilmu yang menyelidiki asal-usul sebuah kata dan menyelidiki perubahan kata dalam bentuk serta makna. Contohnya adalah pada kata campus yang mana kata ini merupakan kata yang berasal dari Camp of University, nah jika kita mengartikan suatu kata seperti ini bisa dikatakan kita mengartikanya secara etimologi yakni secara asal-usul sebuah kata.

Pemaknaan suatu kata dengan menggunakan tiga makna diatas misalnya ada pada kata motor.
Ada orang yang berpendapat bahwa setiap motor pasti memiliki mesin. Namun ada orang lain lagi yang tidak setuju dengan pernyataan itu, ia meyakini bahwa tidak semua motor memiliki mesin.

Perdebatan ini muncul karena adanya perbedaan definisi. Orang yang satu mengatakan “setiap motor memiliki mesin” karena yang ia maksud adalah makna motor secara istilah yaitu kendaraan bermesin bernama motor. Sedangkan orang yang satu lagi mengatakan “belum tentu yang namanya motor memiliki mesin” karena ia mengambil makna umum secara harfiah, bahwa semua yang bergerak adalah motor dan tidak setiap yang bergerak harus memakai mesin.

Contoh lain adalah kata agama.
Kata “agama” berasal dari bahasa sansekerta yang secara harfiah berarti “a”= tidak, dan “gama” = kacau. Jadi “agama” secara etimologi artinya adalah “tidak kacau”. Maka semua yang tidak kacau secara bahasa bisa disebut sebagai agama.

Namun secara istilah, yang dimaksud dengan agama adalah “suatu cara peribadatan untuk menyembah Tuhan” atau "suatu kepercayaan kepada Pencipta-Nya". Maka secara istilah, tidak semua hal yang “tidak kacau” bisa disebut sebagai agama. Tentara yang berbaris teratur tidak disebut a-gama, susunan buku yang dijajar rapi juga tidak bisa disebut sebagai a-gama.

Baca Juga :

1. "Praktek atau Praktik" Mana yang Benar?
2. Mana yang Benar “Umat Islam” atau “Umat Muslim”?

Penggunaan Kata Harfiah

Jika kita hanya berpegang teguh pada makna harfiah saja, maka akan terjadi kesalah pahaman dan berakibat pada paham yang salah. Sebagai contoh seperti ini, dahulu di Bandung pernah ada aliran yang menamakan dirinya Lembaga Kerasulan (LK). Mereka meyakini bahwa setiap juru dakwah dapat disebut dengan rasul, karena makna rasul secara harfiah merupakan pembawa risalah. Sehingga setiap orang yang membawa risalah boleh disebut dengan rasul.

Tentu saja penerapan makna harfiah kata “rasul” sebagai pembawa risalah ini tidak bisa langsung diterapkan pada setiap orang yang membawa risalah karena konteksnya yang berbeda. Hal ini dikarenakan secara istilah, risalah adalah kitab Allah sehingga rasul adalah yang seseorang yang diangkat oleh Allah sebagai utusanNya untuk mengajarkan risalahNya.

Tentu saja ini hanya salah satu contoh saja. Oleh karena iu, kita tidak bisa hanya berpedoman pada kata harfiah saja, melainkan harus benar-benar mengkaji dulu dari makna istilahnya juga.
 
Sekian artikel tentang arti harfiah ini. Semoga dapat bermanfaat.