Biografi Maria Walanda Maramis Pahlawan Wanita Indonesia

 27 Jul 2019  Taufiq Firmansah
Biografi Maria Walanda Maramis Pahlawan Wanita Indonesia

Maria Walanda Maramis - Image from : kamikamu.com

Mungkin banyak dari kita yang masih tidak tahu siapa itu Maria Walanda Maramis.

Maria Walanda Maramis berasal dari keluarga yang sederhana, ia juga mendapat diskriminasi karena terlahir sebagai perempuan.

Tetapi Maria Walanda Maramis justru berjuang untuk membebaskan kaumnya dari keterbelakangan pendidikan dan Maria Walanda Maramis mendirikan sekolah untuk kaum perempuan.

Maria lahir 1 Desember 1872 di Kema Sulawesi Utara, ia hanya menyelesaikan pendidikannya sampai tiga tahun di Sekolah Rakyat atau Sekolah Pribumi.

Maria memiliki nama lahir Maria Josephine Catherine Maramis. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara anak pasangan Maramis dan Sarah Rotinsulu.

Kali ini wajib baca akan memberitahu bagaimana perjalanan lewat Maria Walanda Maramis biografi singkatnya ini.

Bersama ketiga saudaranya itu ia dibesarkan oleh seorang pamannya setelah kedua orangtuanya meninggal dalam selang waktu berdekatan.

Sejak berusia 6 tahun, Maria menjadi yatim piatu sehingga harus terpaksa di asuh oleh pamannya yang tinggal di Maumbi, Minahasa Utara.

Maria sudah pandai membaca dan menulis serta sangat ingin mengetahui berbagai macam ilmu pengetahuan. Tetapi ia hanya menempuh studi sampai tingkat sekolah dasar.

Kaum perempuan di Minahasa juga di banyak daerah di Indonesia lainnya, saat itu memang belum memperbole keleluasaan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

Mereka diwajibkan tinggal di rumah, melakukan berbagai pekerjaan perempuan sambil menunggu datangnya lamaran pria pilihan orangtua.

Dan pada tahun 1890, Maria menikah dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda, seorang guru dasar di Manado. Karena itulah ia kemudian dikenal dengan nama Maria Walanda Maramis.

Maria mengikuti suaminya yang menetap di Manado. Ia semakin rajin membaca dan menulis, serta mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai surat kabar Maria kerap mengulas tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Berdasarkan pengalaman pribadi yang dialaminya.

Pada tanggal 8 Juli 1917, Maria dan beberapa rekannya mendirikan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) yang menjadi wadah untuk memperjuangkan kaum perempuan di Minahasa.

Organisasi ini berkembang pesat, bahkan mampu mendirikan sekolah khusus perempuan yang dinamakan HuishoudSchool Pikat. Selain itu, maria juga membuka Sekolah Kejuruan Putri, lengkap dengan asramanya.

Dukungan sang suami juga didapat Maria untuk memperjuangkan upaya memajukan kaum perempuan. Pada tahun 1919, Minahasa Raad (semacam badan perwakilan rakyat daerah) dibentuk. Pada awalnya hanya kaum pria saja yang mempunyai hak suara untuk memilih wakil-wakil rakyat.

Tetapi Maria berjuang agar kaum wanita juga memiliki hak memberikan suara terkait pemilihan calon anggota dewan.

Upaya Maria pun membawakan hasil pada 1921. Sejak saat itu, perempuan berhak memberikan suaranya dalam pemilihan anggota Minahasa Raad.

Bahkan, tidak hanya di tingkat Minahasa Raad aja, melainkan kaum wanita juga dapat dipilih untuk menjadi anggota di badan-badan perwakilan rakyat lainnya seperti Locale Raad dan GemeenteRaad

Kemudian pada 22 April 1924 Maria wafat dalam usia 51 tahun. Untuk mengenang jasa besarnya bagi kemajuan kaum perempuan di Minahasa. Maka dari itu dibangunlah monumen di Kecamatan Wenang, dekat kota Manado. Setiap tanggal 1 Desember hari kelahiran Maria, oleh masyarakat Minahasa diperingati sebagai Hari Ibu Maria Walanda Maramis.

Di tahun 1969, Maria Walanda Maramis dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia.

BACA JUGA : 

Itulah penjelasan singkat mengenai biografi Maria Walanda Maramis, sang pejuang kaum perempuan sehingga kaum perempuan mendapatkan martabat dan jabatan yang sama dengan kaum laki-laki dalam dunia pendidikan maupun yang lainnya.