Kapal Inggris Datang, Ekosistem Laut Raja Ampat Langsung Rusak

 13 Mar 2017  Unknown
Saat kapal pesiar Inggris, Caledonian Sky, berlayar di seitar perairan surut di Raja Ampat, membuat ekosistem dan terumbu karang menjadi rusak. Padahal terumbu karang merupakan “makhluk” terindah yang ada di laut tersebut.

Kapal Inggris Datang, Ekosistem Laut Raja Ampat Langsung Rusak

BACA JUGA: Gara-gara Lucu, Macan Koramil Ini Viral dan Jadi Bahan Candaan Netizen. Tapi Sekarang..

Dikutip dari kompas, peristiwa yang terjadi pada 2 Maret 2017 itu, terjadi saat kapal berbobot 4.290 ton usai mengantarkan 102 penumpangnya untuk melakukan pengamatan burung di Weigo. Ricardo Tapilatu, kepala pusat peneliti sumber daya laut Universitas Papua mengatakan bahwa kapal itu sudah dilengkapi GPS dan radar, namun tak diketahui bagaimana bisa erjebak.

"Boat dari Sorong dikerahkan untuk menarik kapal, sesuatu yang seharusnya terjadi karena bisa mengakibatkan kerusakan terumbu karang lebih besar. Harusnya mereka menunggu pasang naik," katanya.

Terumbu karang yang rusak diperkirakan mencapai 1.600 meter persegi. Keragaman 8 genus terumbu karang, diantaranya acropora, porites, montipora, dan stylophora berkurang. "Ini yang kita temukan dalam investigasi di lapangan. Saat ini kami tengah menyelesaikan laporannya dan akan mengirim rekomendasi kami ke kantor pemerintahan setempat minggu depan," kata Tapilatu.

Kapal Inggris Datang, Ekosistem Laut Raja Ampat Langsung Rusak

Menurut perhitungan Tapilatu, Noble Caledonia, perusahaan yang mengoperasikan kapal itu, setidaknya harus membayar 1,28 - 1,92 juta dollar AS. Perhitungannya, untuk satu meter persegi, nilai ganti ruginya ditaksir 800 - 1200 dollar AS.

"Jika perusahaan tidak bersedia, maka pemerintah daerah akan membawa kasus ini ke pengadilan," ungkap Tapilatu.

Ganti rugi tersebut akan digunakan untuk memperbaiki terumbu karang yang rusak dan prosesnya diperkirakan memakan waktu hingga satu decade. Tak hanya itu, uang tersebut juga akan dipakai untuk menambah buoy agar mampu mencegah kappal memasuki wilayah dangkal saat surut.

Andi Rosandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Laut di Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatakan, upaya konservasi di bawah kewenangan pemerintah daerah. Namun ia akan terus mengikuti perkembangan kasus ini.

KOMENTAR