Jenazah Nenek Hindun Tak Dishalatkan di Masjid, Ketua RW akan Pertemukan Keluarga dan Perangkat RT

Penulis Dzikir Pikir | Ditayangkan 12 Mar 2017

Jenazah Nenek Hindun Tak Dishalatkan di Masjid, Ketua RW akan Pertemukan Keluarga dan Perangkat RT

Pemberitaan soal nenek Hindun, 78, yang ditolak disholatkan di mushala karena memilih petahana, meresahkan warga dan Ketua RW setempat.

Ketua RW 05, Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Ishak  dan warga RT 03 yang turut membantu mengurus jenazah menyayangkan berita yang berkembang di media online dan televisi.

Karena banyaknya orang yang kurang peduli terhadap sesuatu, seperti berita yang beredar hanya dibaca sepotong saja. Padahal kebiasaan warga adalah menyalatkan jenazah di masjid/mushola, dan kekecewaan keluarga adalah menyayangkan jenazah almarhum nenek Hindun tak dishalatkan di masjid.

Sama seperti yang di dengar Ketua RW setempat dari media, yang hanya mendengar sepotong tanpa membaca dengan lengkap hingga menimbulkan kesalahpahaman.

“Apa yang disampaikan di media bahwa jenazah almarhum tidak dishalatkan atau ditolak warga itu tidak benar,” kata Ishak kepada beberapa wartawan di kediamannya, Jumat (11/3/2017) seperti dilansir Republika.

Kesalahan informasi tersebut, menurut Ishak, karena informasi yang sepotong-sepotong yang dipahami pembaca, beberapa hari setelah jenazah almarhumah dimakamkan.

Baca Juga: Begini Kronologi Jenazah Nenek Hindun Tak Dishalatkan di Masjid

“Padahal tidak lama setelah almarhum meninggal pada hari Selasa (7/3/2017), saat itu juga pengurus Musala Almukminun membantu proses pemandian dan pengafanan,” terangnya.

Lebih lanjut Ishak menjelaskan, nenek Hindun tidak dishalatkan di Mushala karena waktu yang tidak memungkinkan. Saat itu, lanjutnya, sudah sangat singkat jelang petang hari.

“Sedangkan keluarga almarhumah meminta agar jenazah dimakamkan hari itu juga,” ujarnya.

Ishak kembali menegaskan, pemberitaan yang beredar di Media soal nenek Hindun itu tidak benar. Apalagi, katanya, ketika urusan meninggal seperti dikait-kaitkan dengan pilihan di Pilkada DKI.

“Warga di sini ini paling ‘sergep’ kalau ngurusin tetangga yang meninggal, bahkan di RT 03 itu ada paguyuban bantuan sosial untuk keluarga yang meninggal, besarannya Rp 1,1 juta,” ujarnya.

Ishak menyampaikan pihaknya akan meluruskan persoalan ini. Bersama kelurahan ia akan berupaya mempertemukan warga, perangkat RT, pengurus musala dan pihak keluarga almarhum nenek Hindun. Bahkan ia berjanji akan terbuka mengundang media agar tidak ada lagi kesalahan pemberitaan seperti sebelumnya.

SHARE ARTIKEL