Kemulyaan Bagi Hamba Allah Yang Gemar Infak

Penulis Penulis | Ditayangkan 31 Jul 2016


Kemulyaan Bagi Hamba Yang Gemar Infak – Ibnu ‘Athiyyah dalam Tafsir Al Muharrar Al Wajiz mengungkapkan bahwa ayat ini menjelaskan kutamaan berinfak (memberi harta) di jalan Allah dan balasan pahala yang berlipat ganda bagi orang-orang yang ikhlas melakukannya. Allah SWT bersabda, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”. (QS Al Baqarah : 261)

Allah Ta’ala akan melipatgandakan balasannya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengibaratkan pahala orang orang yang berinfak sebagai sebuah pohon yang mempunyai tujuh ranting, di mana setiap ranting mempunyai seratus biji atau lebih. Adapun bentuk dari infak sendiri sangat beragam, termasuk yang wajib dan sunnah.

Pada ayat berikutnya, Allah Ta’ala memberikan penekanan bahwa keutamaan infak akan diraih selama tidak diikuti dengan mengungkit-ungkit (manna) dan merendahkan penerima (adza). “Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima) mereka memperoleh pahala, di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati”. (QS Al Baqarah : 262)

Baca Juga : Baca Dengan Teliti Lima Perkara yang Harus Diburu-buru Dalam Melaksanakannya

Bahkan Allah Ta’ala menegaskan bahwa perkataan yang baik (qaulum ma’ruf) seperti mendoakan, menyembunyikan rahasia orang, memberi dukungan dan memberi harapan lebih baik daripada infak atau sedekah yang diiringi ungkitan atau sikap yang merendahkan. Allah Ta’ala pun menyamakan kedudukan orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya dan merendahkan orang lain seperti orang yang berbuat riya (pamer) atau orang kafir yang semua pahala amalnya terhapus sehingga tidak dapat mendatangkan manfaat sedikit pun pada Hari Akhir.

Abu Bakar Al Jazairi dalam Aisarut Tafasir menjelaskan tentang qaulun ma’ruf khairun bahwa ucapan baik yang disampaikan kepada orang faqir sehingga menjadikan berlapang dada dalam menghadapi kehidupan lebih baik daripada harta yang diinfakkan akan tetapi disertai penghinaan yang semakin menyudutkan dan merendahkan mereka. (Tafsir Al Muharrar Al Wajiz, Ibnu ‘Athiyyah dan Aisarut Tafasir li Kalam Al ‘Aliy Al Kabir, Abu Bakar Al Jazairi)