Mengharukan! Demi Sesuap Nasi, Pria Tua Ini Tiap Hari Angkut 100 Kg Tepung di Punggungnya

Penulis Unknown | Ditayangkan 16 Apr 2016

Setiap laki-laki memiliki kewajiban untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Untuk itu, pekerjaan apapun akan ia lakukan demi dapat memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami dan juga ayah bagi anak-anaknya.

Masing-masing orang pasti memiliki perjuangan sendiri dalam kehidupan, termasuk kakek Syed Abdul Ghani ini. Perjuangan dan semangat hidup pria tua ini patut diacungi jempol. Ramainya orang yang berlalu-lalang di pasar tak menyurutkan semangatnya untuk dapat mengais rezeki di usianya yang kini tak muda lagi.

Mengharukan! Demi Sesuap Nasi, Pria Tua Ini Tiap Hari Angkut 100 Kg Tepung di Punggungnya

Kakek asal Peshawar, Pakistan ini setiap harinya membawa sekarung tepung seberat 100 kilogram. Dilansir dari elitereaders, ia merupakan satu-satunya pencari nafkah bagi keluarganya, maka tak heran setiap hari ia rela membawa sekarung tepung di punggungnya. Meski ia hanya bisa membawa sekitar 3 dolar atau setara dengan Rp 40 ribu sehari, yang terpenting ia dapat menaruh makanan di meja rumahnya.

"Setelah menyelesaikan pekerjaan saya di sini, saya pergi ke pasar sayuran untuk membeli bawang dan kentang untuk memberi makan anak-anak saya," ucap Ghani.

Ghani memang telah melakukan pekerjaan sebagai tukang angkut bahan makanan selama 25 tahun terakhir. Setiap harinya ia harus berjalan sepanjang 1 km untuk bisa sampai ke toko roti di Peshawar. Selama perjalanannya, ia sering sekali menyempatkan untuk mengistirahatkan tubuh dan kakinya.

Itulah sebuah motivasi yang dicontohkan oleh kakek Syed Abdul Ghani yang pantang menyerah dan berputus asa dengan keadaannya meski usianya telah senja. Sungguh merupakan keadaan yang sangat berbalik dengan para anak muda yang justru lebih banyak mengeluh dan bermalas-malasan dalam menjalani pekerjaan dan kehidupannya. Semoga dengan membaca kisah kakek Ghani ini, dapat menularkan semangatnya kepada kita semua agar tidak mudah menyerah dan selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan ini, meski jalan yang ditempuh sangat sulit dan berbatu.

Sumber : Cerminan
SHARE ARTIKEL