Kisah Tentang Sinan Si Bocah Cerdik yang Berhasil Menipu Khalifah Umar Bin Khattab. Simak Kisahnya Berikut ini!

Penulis Unknown | Ditayangkan 16 Mar 2016

Wanita itu memperhatikan suaminya yang berdiri memenuhi pintu, memandang sesuatu di kejauhan.

“Apa yang sedang Anda perhatikan, Ya Amiral Mu’minien?” tanya wanita itu sambil medekat.
Lelaki sederhana, yang tidak lain adalah Kepala negara Umar bin Khattab itu, menggeleng-gelengkan kepala, sebelum menjawab:

Kisah Tentang Sinan Si Bocah Cerdik yang Berhasil Menipu Khalifah Umar Bin Khattab. Simak Kisahnya Berikut ini!

“Anak-anak itu pada memunguti korma muda dari tanaman orang. Sekecil-kecil itu, mereka sudah belajar mencuri. Ah. Kemana saja orangtua-orangtua mereka. Kenapa mereka membiarkan saja?”

Wanita yang ternyata ibu utama Ummu Hakim itu, tersenyum. Lalu katanya: “Ah, mereka kan hanya memunguti buah-buah yang jatuh kena angin.”

Untuk pertama kali sang kepala negara menoleh kea rah istrinya. Tapi tak lama kembali memandang ke arah anak-anak di kejauhan. Katanya: “Siapa tahu; sebelumnya, mereka sudah melempari korma-korma itu. Lihat itu! Salah seorang dari mereka melemparkan batu ke pucuk korma.”

Dan tiba-tiba saja Amirul Mu’minien berteriak keras-keras: “Hai anak-anak! Hentikan melempari korma orang! Hentikan!”

Ummu Hakim tak dapat menahan ketawanya: “Mereka lari tunggang langgang, Amirul Mu’minien. Suara Anda menakutkan mereka.”

Tanpa mengalihkan pandangannya, Amirul Mu’minien berkata: “Tapi kulihat masih ada seorang anak yang tetap tenang-tenang saja memunguti korma.”

“Mungkin anak itu tuli;” kata Ummu Hakim masih tersenyum, “dia tidak mendengar sesuatu.”
“Tidak!” Sanggah kepala negara, “Dia itu justru merasa kebetulan; kawan-kawannya pergi dan dia dapat mengantongi korma sebanyak-banyaknya.”

Ummu Hakim kembali pecah tawanya: “Ya, seolah-olah Anda telah membantunya mengusir kawan-kawannya, agar dia dapat memiliki korma-korma itu sendirian.”

Sahabat Umar menahan senyumnya, kemudian memanggil-manggil: “Hai buyung! Buyung, kemari!”
“Ah, benar saja. Dia tuli.” Komentar istrinya.

“Tidak;” ujar Amirul Mu’minien, “Dia hanya pura-pura tuli dan masa bodoh.”
Kemudian kembali kepala negara yang namanya menggetarkan dunia itu, berteriak keras-keras: “Hai buyung pemungut korma! Hai Pemungut korma!”

Dari kejauhan terdengar sang bocah menjawab: ”Ya, Amirul Mu’minien!”
“Kemari kau!”

“Baik, Amiral Mu’minien! Sebentar!”

Amirul Mu’minien menggeleng-gelengkan: “Sialan itu anak. Dia baru memperhatikan panggilanku, setelah kantongnya penuh.”

“Tapi dia benar-benar anak berani;” komentar Ummu Hakim, “Kalau aku jadi dia, tentu aku sudah lari terbirit-birit.”

“Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Tunggu sampai dia menghadap kemari.”

“Apakah Amirul Mu’minien masih punya dugaan dia akan berlari setelah setengah jalan?”

“Anak kancil seperti itu apa yang tak mungkin dilakukan olehnya.”

“Tidak, Amiral Mu’minien. Dia benar-benar datang menghadap.”

“Ya,” kata Amirul Mu’minien gembira, “Aku benar-benar senang dia berani datang.”

“Assalamu’alaikum, Ya Amiral Mu’minien!” kata si bocah, begitu sampai di depan Kepala negara yang mengawasinya dengan pandangan angker.

“Aku tidak akan menjawab salam anak yang mencuri milik orang.”

“Ya Amiral Mu’minien; demi Allah saya tidak mencuri milik siapapun. Ini, korma-korma yang jatuh tertiup angin.”

“Coba kulihat. Saya tahu mana korma yang jatuh akibat angin dan mana yang jatuh kena lemparan batu.”

Dengan cepat si bocah mengeluarkan korma-korma yang ada padanya, sementara Amirul Mu’minien membolak-baliknya. Meneliti.

Tak lama kemudian, tiba-tiba si bocah nyeletuk bertanya:

“Bagaimana, Amiral Mu’minien?”

Amirul Mu’minien tersenyum cerah: “Kau benar. Ini korma-korma yang dijatuhkan angin.”
Begitu mendengar pernyataan Kepala negaranya itu, dengan spontan sang bocah mengulangi salamnya: “Assalamu’alaikum, Ya Amiral Mu’minien.”

Amirul Mu’minien dan Ummu Hakim saling memandang, kemudian pecahlah tawa keduanya dan menjawab “Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.”

“Siapa namamu, anakku?”

“Nama saya Sinan, Ya Amiral Mu’minien”

“Anak siapa kau, Sinan?”

Tiba-tiba, mendengar pertanyaan Amirul Mu’minien ini, wajah Sinan berubah muram. Katanya kemudian: “Tolong, Amiral Mu’minien, jangan adukan pada ayah. Ayah saya sangat keras.”
Kembali Amirul Mu’minien tersenyum: “Jangan kuatir, aku tidak akan melaporkan kepada ayahmu.”

“Amirul Mu’minien tidak akan mengingkari janji?”

“Percayalah. Aku tidak pernah mengingkari janji.”

“Ayah saya bernama Salamah Al Hudzly.”

Amirul Mu’minien mengernyitkan dahi sebentar, sebelum berkata: “Hai, tahukah kau? Kau adalah anak yang dilahirkan pada waktu perang Hunein.”

“Ya; aku tahu, Amiral Mu’minien.” kata Sinan tenang.

“Hai, kau juga tahu itu?” tanya Amirul Mu’minien heran.

“Ya, Amiral Mu’minien. Ketika itu, ayah sedang berjuang bersama Rasulullah di Hunein, ketika
orang menyampaikan berita gembira tentang kelahiran saya. Tapi ayah malah berkata: “Demi Allah; sinan (senjata) yang kupergunakan membela Rasulullah ini, jauh lebih kusenangi, daripada berita gembira kalian.” Nah, ketika itulah Rasulullah memberi nama saya: Sinan.”

“Wah, wah; bukan main, Sinan! Demi Allah kau adalah anak yang berani dan lurus.” puji Amirul Mu’minien dengan tulus.

Tapi ucapan Sinan kemudian cukup mengejutkan Amirul Mu’minien dan Ummu Hakim. Sinan berkata sungguh-sungguh: “Tapi, Amiral Mu’minien, saya tidak suka berkelahi dengan anak-anak.”
“Itulah bagus.” sahut Amirul Mu’minien, “Kalau kau berkelahi dengan mereka, mereka akan menyobekkan bajumu atau melukaimu.”

Sinan manggut-manggut, sebelum bertanya: “Amiral Mu’minien; Anda tahu anak-anak yang bersama-sama saya tadi?”

“Ya. Kenapa mereka?”

“Demi Allah; kalau saya pulang dari sini ini nanti, mereka tentu akan menyerang saya dan merebut
korma-korma saya.”

“Tapi; bukankah mereka juga sudah mendapat korma seperti kau?”
Sinan menggeleng-gelengkan kepalanya; “Tidak, Amiral Mu’minien, saya lebih dulu datang dan mereka berlari ketika mendengar suara Amiril Mu’minien. Tinggal saya sendirian yang memunguti.”
Sahabat Umar dan Ummu Hakim ketawa. Dan Ummu Hakimlah yang kemudian bertanya: “Tapi kenapa mereka pada takut mendengar suara Amiril Mu’minien, dan kau tidak?”

Jawaban Sinan kemudian, benar-benar membuat Amirul Mu’minien dan Ummu Hakim terpesona. Sinan menjawab tegas: “Mereka takut, karena mereka punya niat mencuri. Sedang saya tidak.”
Oleh kagumnya terhadap kebijakan si bocah, Amirul Mu’minien pun berseloka, katanya:

“Selubung adalah penutup keburukan-keburukan saja
Pada kebaikan kau tak kan menjumpai selubung apapun juga.”

“Apakah kau ingin aku mengantarmu, buyung?” tanya Amirul Mu’minien kemudian.

“Benar, Amiral Mu’minien,” jawab Sinan cepat, “saya akan sangat berterimakasih.”

“Suruhlah Aslam** mengantarkannya, Amiral Mu’minien.” Usul Ummu Hakim.

Sinan cepat-cepat berkata: “Jangan, Amiral Mu’minien. Bapak Aslam tidak cukup. Anak-anak itu menghadangku sekarang ini. Dan mereka hanya takut kepada Anda.”

Amirul Mu’minien ketawa. “Rupamu, Nan!” kata beliau sambil menjewer telinga anak cerdik itu penuh kasih sayang.

Tapi Ummu Hakim yang kemudian berkata serius: “Jangan-jangan Abdullah bin Abbas datang sebentar ini, Amiral Mu’minien.”

Amirul Mu’minien yang sudah bergerak sambil menggandeng Sinan bin Salamah, masih sempat menyahut: “Kalau Bin Abbas datang, katakan suruh menunggu sebentar. Saya akan kembali segera.”
Ummu Hakim hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, sambil mengawasi mereka yang pergi. Tapi senyumnya mekar juga, ketika tiba-tiba si Sinan berhenti membalik dan berkata: “Amirul Mu’minien tidak akan pergi terlalu lama. Rumah kami dekat ini.”

Benar saja tak lama kemudian Abdullah bin Abbas datang.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussalam. Silahkan duduk, Ibn Abbas!” kata Ummu Hakim menyambut misan Nabi itu,

“Amirul Mu’minien sebentar lagi juga datang.”

“Ah, mungkin aku terlampau pagi datang.” gumam Ibn Abbas.

“Tidak;” sahut Ummu Hakim, “Beliau sudah menunggumu dari tadi. Tapi kemudian ada sedikit urusan dan beliau keluar sebentar.”

Ummu Hakim berhenti sejenak, kemudian melanjutkan: “Anu; seorang anak kampung, takut diserang kawan-kawannya yang akan merebut korma-kormanya. Amirul Mu’minien keluar mengantarkannya.”

Abdullah bin Abbas manggut-manggut. Katanya kemudian: “Tindakan yang semacam itu, bukanlah hal baru bagi Amiril Mu’minien.”

Sejurus kemudian, Amirul Mu’minien benar-benar telah kembali. Begitu masuk dan melihat Ibnu Abbas, buru-buru beliau menyambut:

“Marhaban. Selamat datang , Putera paman Rasulullah!”
Lalu katanya kepada Ummu Hakim: “Kau tahu ulah anak tadi, Ummu Hakim?”

“Mengapa dia?” tanya Ummu Hakim ingin tahu.

“Dia telah menipuku.” kata Amirul Mu’minien sambil tersenyum; “Dia sama sekali tidak takut pada teman-temannya. Dan sebenarnya tidak memerlukan pengantar.”

Amirul Mu’minien menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar, kemudian melanjutkan: “Begitu sampai rumahnya, langsung dia menemui teman-temannya dan membagi-bagikan korma. Saya masih mendengar, ketika dia berkata bangga kepada kawan-kawannya itu: “Hai kawan-kawan; siapa diantara kalian seperti aku? Rasulullah sendiri yang menamaiku. Dan barusan; tak lebih dan tak kurang, Amirul Mu’minien mengantarku sampai rumah!!”

Amirul Mu’minien masih tertawa sejenak, sebelum kemudian membicarakan soal-soal negara dan ummat dengan Abdullah bin Abbas.

Yah itulah tadi kisah tentang cerdiknya seorang anak yang berhasil menipu khalifah umar bin khattab.

*Dipetik-sadur dari Malhamah Umar-nya Ali Ahmad Baktrier (Ali Ahmad Baktsier 1910-1969 adalah sastrawan kenamaan Mesir kelahiran Surabaya)
** Aslam adalah ‘pembantu setia’ Amirul Mu’minien Umar Ibn Khattab

Sumber: Catatan Gus Mus

SHARE ARTIKEL