Geger, Bocah 12 Tahun Sudah Jadi Seorang Ayah

Penulis Unknown | Ditayangkan 19 Aug 2015



Ternyata pedofilia tidak hanya dialami oleh laki-laki dewasa saja, tapi juga bisa dialami oleh perempuan dewasa. Seperti sebuah kejadian yang sempat heboh di Melbourne, Australia beberapa waktu lalu. Seorang perempuan dipenjara karena sudah melakukan hubungan seks dengan bocah laki-laki yang masih berumur 12 tahun.
Geger, Bocah 12 Tahun Sudah Jadi Seorang Ayah
Ilustrasi anak yang menjadi korban kekerasan seksual

Bocah laki-laki tersebut diketahui adalah teman anak dari sang pelaku. Awalnya perempuan tersebut sering mengantar anak dan temannya itu ke sekolah. Tapi, lama-lama ia menjadi suka dengan teman anaknya itu.

Mungkin jika yang diantar itu seumuran dengannya, hal tersebut masih dirasa wajar jika mereka bisa saling suka satu sama lain. Tapi, jika ibu-ibu tiba-tiba menjadi suka dengan bocah laki-laki teman anaknya sendiri, hal ini sangat susah dibayangkan dan tidak masuk akal.

Semenjak itulah, perempuan tersebut sering berhubungan seks hingga seminggu sekali dengan bocah yang masih berusia 12 tahun tersebut tanpa menggunakan kondom. Dan yang lebih sulit diterima oleh akal, perempuan tersebut kemudian hamil.

Ibu korban sempat menjenguk perempuan tersebut dan bayinya. Namun, ia tidak sadar bahwa bayi yang ia jenguk tersebut adalah cucunya sendiri. Hingga kemudian ia mengetahui fakta yang sebenarnya dan segera melaporkan ibu teman anaknya itu ke polisi.

Ibu korban sangat marah karena masa depan anaknya sudah dirusak. Ia juga mengatakan bahwa anaknya belum siap untuk menjadi seorang ayah.

Wow, parah banget ya. Sungguh peristiwa yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang ibu yang sudah memiliki anak tega menghancurkan masa depan seorang anak yang masih di bawah umur hanya untuk memuaskan nafsunya saja. Oleh sebab itu, bagi para orang tua sebaiknya berhati-hati dalam memberikan kepercayaan kepada orang lain dalam hal mengurus anak. Jangan sampai anak kita menjadi korban dari tindak kekerasan, baik kekerasan fisik, mental, dan terlebih kekerasan seksual.


SHARE ARTIKEL