Bumi Pernah Kiamat Enam Kali, Benarkah Demikian?

Penulis Unknown | Ditayangkan 25 Jun 2015



Akhir-akhir ini sering kita dengar isu mengenai kiamat, sehingga banyak yang mengatakan bahwa ‘kiamat sudah dekat’. Tapi, yang dipahami oleh manusia setelah adanya penelitian, terungkap bahwa bumi pernah kiamat enam kali. Benarkah demikian?
Bumi Pernah Kiamat Enam Kali, Benarkah Demikian?

Kematian massal lima kali telah dialami oleh bumi kita tercinta selama 450 juta tahun ini dan kematian itu disebut juga sebagai 'kiamat.' Seorang ilmuwan juga menyatakan dalam sebuah publikasi di Geological Society of American Bulletin tentang adanya kejadian Capitanian 262 juta tahun yang lalu dan ini merupakan kematian massal. Namun, apa lagi yang bisa membuktikan bahwa bumi tempat kita berpijak ini telah mengalami 'kiamat' sesering itu?

Bumi Pernah Kiamat Enam Kali, Apa Buktinya?

Sebuah penelitian telah dilakukan oleh David Bond dari University of Hull dan tentu ia tidak sendirian, ada tim yang membantunya untuk melakukan riset ilmiah ini yang tepatnya di Spitsbergen. Spitsbergen sendiri adalah sebuah pulau yang dari pulau utama Norwegia yang memiliki jarak 890 kilometer. Dari tempat inilah segala bukti diupayakan untuk dikumpulkan mengenai “kiamat” keenam tersebut.

- Kapp Starosin Formation adalah hal pertama yang diteliti oleh Bond dan timnya. Lapisan batuan yang memiliki ketebalan hingga 400m tersebut ada ditemukan di area Spitsbergen dan dengan itulah kondisi 27 juta tahun masa Permian Tengah akhirnya tercerahkan alias tim Bond mendapatkan petunjuk sehingga peristiwa Capitanian dapat dianalisis lebih jauh.

- Bumi pernah kiamat enam kali dan peristiwa Capitanian menjadi salah satu yang perlu untuk dipelajari lebih dalam. Ada kesamaan yang ditunjukkan oleh data dari lapisan batuan yang diteliti oleh Bond dengan data tentang peristiwa Capitanian yang pengambilannya dari daerah tropis. Telah dikonfirmasi bahwa ada korelasi ditunjukkan oleh lapisan batuan itu dengan lapisan batuan di area tropis yang merupakan hasil dari analisis rasio isotop karbon dan stronsium berikut polaritas magnetik dan aneka macam logam.

- Analisis berlanjut karena Bond ingin membuktikan bahwa kepunahan massal itu menjadi dampak pada penurunan populasi satwa tertentu maka populasi moluska jenis bivalvia dan brachiopoda ditelitinya. Bumi kiamat enam kali dan memang peristiwa Capitania ditunjukkan oleh populasi brachiopoda yang menurun sampai 87 persen yang cukup besar.

- Disimpulkan oleh Bond dan timnya bahwa erupsi Emeishan Trapslah yang menyebabkan kepunahan massal yang lokasinya ada di provinsi Sichuan, Tiongkok. Ada banyak karbon dioksida yang dilepaskan dan kandungan oksigen dalam laut pun berkurang serta pengasamannya.

- Ada lagi Kiamat Permian Akhir di mana korbannya adalah 96 persen spesies musnah dan merupakan kematian massal berikutnya, 12 juta tahun setelah peristiwa Capitanian dan memang lebih dahsyat. Dengan jarak waktu yang agak dekat, maka Permian Akhir dan Capitanian sering dianggap satu.

Kiamat bumi karena Capitanian kadang juga dianggap sebagai kiamat regional karena bukti dan dampak yang ditemukan pun hanya sedikit dan tidak banyak penelitian yang menganalisis hal ini. Yang jelas mengenai Permian Akhir dan Capitanian, Bond telah yakin bahwa keduanya bukan satu melainkan terpisah dan bisa dikategorikan sebagai kematian massal global. Terlepas dari penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan oleh Bond, tentu selalu ada yang setuju dan ada pihak yang tidak dapat menerimanya sehingga hal ini tetaplah menjadi kontroversi.

Matthew Clapham yang berasal dari University of California menyatakan bahwa Capitanian seharusnya tidak dimasukkan ke dalam kategori kiamat global karena kematian massal bukanlah ditentukan oleh beberapa lusin spesies yang hilang di wilayah tertentu. Itulah yang dikutip oleh BBC tentang apa yang di pikiran Clapham soal hasil riset Bond di mana telah terungkap, bahwa bumi pernah kiamat enam kali.


SHARE ARTIKEL