Makanan Ndeso Pembawa Kesuksesan

 24 Mar 2015  Unknown
Indonesia merupakan Negara yang sangat kaya. Terdiri dari ribuan pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke dengan potensi alam yang melimpah. Ingat tidak lagu yang dibawakan oleh Koes Plus yang berjudul Kolam Susu. Sepenggal liriknya berbunyi, ‘orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman’. Sepenggal lirik dari lagu tersebut menceritakan tentang betapa kayanya negeri kita ini, alamnya ramah dan tanahnya subur.

Namun, seiring perkembangan jaman. Negeri kita tercinta yang sangat luas ini, justru malah lebih sering mengimpor bahan makanan pokok seperti beras, tepung gandum, jagung, dan kedelai. Sungguh sangat disayangkan.

Makanan Ndeso Pembawa Kesuksesan

Keprihatinan seperti ini telah menggugah hati seseorang yng bernama Firmansyah. Menurutnya, sangat malu sekali jika Indonesia masih terus mengimpor bahan baku pangan. Katanya juga, saat ini Indonesia termasuk Negara penghasil singkong terbesar ketiga di dunia setelah Brazil.

Firmansyah terinspirasi mengangkat singkong menjadi makanan olahan karena saat ini pasar pangan dalam negeri sudah dibanjiri produk pangan impor. Menurutnya, sekarang bahan baku makanan semuanya gandum yang sulit dikembang biakkan di Indonesia dan terpaksa harus impor. Kenapa kita tidak memakai produk lokal saja.

Firmansyah yang lulusan Sarjana Hukum ini, awalnya tak langsung menceburkan diri ke ranah bisnis. Semenjak lulus kuliah 2004, ia masuk LSM bidang pembangunan komunitas (community development), dari situlah matanya terbelalak soal banyaknya kasus bermasalah TKI diluar negeri yang harusnya bisa dicegah jika ada lapangan kerja di dalam negeri.

Firmansyah kemudian memiliki inovasi bisnis dalam mengolah singkong. Menurut pria kelahiran Semarang, 5 Desember 1981 ini, mengolah makanan seperti singkong yang sudah terlanjur dipandang sebagai makanan 'ndeso' memang perlu upaya keras. Konsep makanan Tela ia kembangkan dengan membuat makanan singkong lebih modern dan menarik.

Makanan Ndeso Pembawa Kesuksesan

Keyakinan Firmansyah akhirnya terjawab. Singkong olahannya disulap menjadi makanan modern yang digemari banyak orang. Ia menyebutnya Tela Krezz. Sekarang ini ia memiliki ratusan mitra Tela Krezz dengan omset yang sangat menggiurkan. Ia juga sudah memiliki 60 karyawan langsung, belum termasuk yang outsourcing.

Firmansyah selalu memiliki semangat untuk terus berinovasi dalam mengembangkan pangan singkong tidak hanya sebatas Tela Krezz, ia juga membuat brownies dari bahan dasar singkong yang disebutnya Tela Cake. Tidak hanya itu, ia juga mengembangkan singkong menjadi berbagai jenis makanan, sperti kue Bika Ambon, Bakpia, Keripik Singkong dan lain-lain. Tela cake di sini hampir sama dengan brownies kukus pada umumnya. Tapi, Firmansyah enggan menyebutnya brownies. Menurutnya,  mindset orang tentang makanan wong ndeso ini akan berubah jadi modern jika ia berhasil mengubah makanan ndeso menjadi suatu produk yang dikemas secara modern. Jadi, yang terpenting adalah mengubah pandangan orang tentang singkong sebagai makanan ndeso.

Untuk urusan pemasaran, Firmansyah sengaja membuat konsep Tela Cake sebagai produk oleh-oleh khas Jogjakarta. Hal ini dilakukan untuk memperkuat citra Tela Cake sebagai oleh-oleh khas Jogja, meski ia pun memiliki rencana untuk menjangkau pasar ritel umum untuk memasarkan produk tersebut, namun dengan memberi merek yang berbeda.

Ia mengaku saat ini mampu menjual 1000-1500 paket Tela Cake. Harga satu paket Tela Cake dibandrol hingga Rp 28.000, tentunya sudah terbayang berapa omset dari Firmansyah dari hanya menjual brownies ala singkong tersebut. Ini belum dihitung dari produk Tela Krezz-nya yang lebih dahulu ia kembangkan.

Masih seputar pangan lokal, upaya Firmansyah tak cukup disitu. Pada tahun 2009 ia juga mengembangkan produk olahan cocoa atau kakao menjadi makanan coklat yang lezat dan menarik. Produk ini diberinya nama Cokro alias coklat roso yang juga berkonsep makanan oleh-oleh Jogjakarta. Kali ini, Firmansyah membentuk divisi khusus di Tela Corporation yang menjadi bendera resmi usahanya.

Keinginannya mengembangkan produk coklat, kurang lebih sama dengan kegusarannya terhadap produk tepung pangan impor. Menurutnya Indonesia, merupakan penghasil kakao yang diperhitungkan di dunia, namun minim memiliki produk olahan coklat. Jika pun ada, produk coklat olahan di pasar Indonesia berasal dari impor dan bermerek asing. Ia berharap coklat buatannya bisa menjadi pilihan pasar dan bisa mematahkan dominasi produk coklat asing di pasar Indonesia. Visinya adalah bagaimana melakukan pemberdayaan pangan lokal.

Sehingga kata dia, dengan pemberdayaan pangan lokal, maka mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal, misalnya jika singkong dikembangkan maka berapa banyak petani yang bisa hidup, berapa banyak kuli panggul yang bekerja, berapa banyak pekerja pemotong singkong yang terserap dan lain-lain.

Usaha yang digeluti Firmansyah sejak tahun 2006 ini kini sudah membuahkan hasil yang sangat fantastis. Berkat kegigihan, keuletan, dan inovasi-inovasi kreatifnya, kini ia mampu mengantongi ratusan juta perbulan. Omset dari usahanya bisa 10 miliar lebih dalam satu tahun.

Semoga kisah sukses Firmansyah di atas mampu menginspirasi sobat wajibbaca.com semua. Pandai-pandailah dalam menciptakan peluang, jangan hanya duduk menunggu peluang itu yang datang menghampiri kita. Semoga kita bisa menjadi salah satu orang sukses seperti Firmansyah yang juga mampu menginspirasi banyak orang.