MasyaAllah, Fakta-fakta Menakjubkan Ibu di Cilacap Lahirkan Bayi Raksasa

Komentar

Bayi raksasa (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Melahirkan bayi yang berukuran normal saja rasa sakitnya sudah sangat luar biasa menyiksa.

Bagaimana dengan melahirkan bayi dengan ukuran yang tidak normal besarnya?

Berikut fakta-fakta wanita Cilacap yang lahirkan bayi super besar! MasyaAllah...

Anis Murwati (29) masih tergolek lemah dirumah sakit setelah berhasil melahirkan buah hatinya yang tergolong jumbo.

Bobot bayi yang dilahirkannya luar biasa untuk ukuran Indonesia, bahkan dunia. Bayi dengan bobot hampir 6 kilogram, disebut sebagai giant baby atau bayi raksasa.

Panjang bayi perempuan ini sebenarnya normal saja. Namun, bobotnya saat lahir memang lebih pantas disandang oleh bayi berusia dua bulan atau lebih. Bayi perempuan cantik ini lahir di atas ambang normal bayi-bayi di Indonesia.

Berikut fakta-faktanya!


Ibu dan sang bayi raksasa (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)


1. Bayi sebesar ini dilahirkan dengan persalinan normal

Bayi jumbo ini lahir di Rumah Sakit Umum Duta Mulya, Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah sekitar pukul 12.20 WIB.

Yang luar biasa, bayi sebesar ini dilahirkan dengan persalinan normal.

Padahal, untuk ukuran perempuan Indonesia, Anis bertubuh sedang, tak berkategori tinggi, pun tak termasuk mungil. Tingginya sekitar 155 sentimeter.

"Alhamdulillah," ucap Anis. Matanya, berbinar semringah.

2. Anis tak menyangka akan melahirkan bayi jumbo

Anis bercerita, sebelumnya, ia pun tak menyangka. Pasalnya, Tiara, kakak si jabang bayi yang belum diberi nama ini lahir dengan bobot normal, meski juga bisa dikatakan besar, yakni empat kilogram.

Sang kakak kini sudah berusia 3,4 tahun. Tiara pun tumbuh normal, sebagaimana lazimnya anak seusianya.

3. Terakhir memeriksakan kandungan, bobot bayi diperkirakan empat kilogram

Saat terakhir memeriksakan kandungan ke bidan di desanya, Cibungur Kecamatan Wanareja, diperkirakan bayi yang dikandungnya sudah berbobot empat kilogram. Saat itu, kandungan sudah berusia delapan bulan.

"Saya disarankan untuk langsung bersalin di klinik atau rumah sakit kalau mau melahirkan. Karena katanya bayi saya besar," dia menerangkan.

4. Sudah tersa aneh sejak usia kehamilan tujuh bulan

Kondisi ini sebenarnya sudah dirasakan Anis sejak usia kehamilan tujuh bulan.

Perutnya membesar luar biasa. Dia pun merasa kehamilan kali ini lebih berat dibanding kehamilan sebelumnya.

Sejak usia delapan bulan, Anis mengaku nyaris tak bisa beraktivitas lantaran beratnya kandungan.

Namun, ia memaksakan diri untuk setidaknya berolahraga pada pagi hari dengan menyapu halaman atau sekadar jalan-jalan santai.

"Saya ingin melahirkan normal," ujar Anis, seperti dikutip dari liputan6.com.


5. Kontraksi yang panjang

Minggu subuh, Anis merasakan kontraksi pertama. Sebagaimana lazimnya persalinan normal, biasanya antara bukaan pertama dengan waktu kelahiran berjangka cukup panjang, biasa berjam-jam bahkan lebih dari sehari. Karenanya, ia masih berusaha beraktivitas seperti biasa.

Sekitar pukul 10.00 WIB, durasi kontraksi semakin panjang dan intensitasnya meningkat. Ia merasa waktu persalinannya telah tiba.

Maka, Anis dan suaminya, Asep Hardianto berkemas dan langsung berangkat ke rumah sakit.

6. Upaya tim Medis bantu persalinan bayi jumbo

Sekitar pukul 11.40 WIB, ia tiba di rumah sakit. Usai pemeriksaan awal, Anis pun langsung masuk kamar bersalin.

"Waktu masuk ternyata sudah bukaan delapan. Bayinya sudah kelihatan, dan besar sekali," ucap Direktur RSU Duta Mulya Majenang, Tatang Mulyana.

Petugas medis dan dokter yang bertugas pun berpikir keras. Sebab, persalinan bayi jumbo memang berisiko tinggi.

Salah satunya, dystocia bahu, sebuah kondisi di mana kepala bayi sudah keluar, tetapi bagian bahu si bayi macet lantaran lebar di atas rata-rata.

7. Tim hanya memiliki sedikit waktu untuk mengobservasi

Menurut Tatang, dengan bobot di atas rata-rata, paling aman bayi dilahirkan melalui operasi sesar. Namun, semuanya sudah terlambat. Petugas medis dan dokter berkejaran dengan waktu.

Sebab, risiko saat ketuban pecah pun besar. Bayi mesti secepatnya keluar dari rahim ibunya.

"Waktu itu saya berpikir, sesar tidak, sesar tidak. Tapi bayinya sudah mau lahir. Tidak ada waktu. Ya sudah, kita berusaha yang terbaik dengan persalinan normal," ucapnya.

Akhirnya, setelah berjuang nyaris satu jam di antara hidup dan mati, sang ibu dan bayinya berhasil melewati proses persalinan normal dengan gemilang. Dokter dan tenaga medis pun lega. Mereka tinggal merawat ibu dan bayi pasca-kelahiran.

"Alhmadulillah, lahir dengan selamat. Ibu sehat, bayinya sehat," Tatang menandaskan.

Perlu bunda ketahui, inilah penyebab dan gejala bayi jumbo.

Macrosomia adalah kondisi dimana bayi terlahir dengan bobot lebih besar dari bayi pada umumnya.

Baca Juga:
Jika lazimnya seorang bayi dilahirkan dengan berat 3-5 kilogram, bayi-bayi dengan macrosomia berbobot di atasnya, hingga mencapai 10 kilogram untuk rekor bayi terbesar.

Namun ada penyebap dan beberapa gejala umum yang lazim terjadi pada kasus macrosomia, di antaranya:
  • Terdapat riwayat penderita diabetes dalam keluarga bayi, terlebih jika diidap langsung oleh sang ibu.
  • Berat badan melonjak drastis selama masa kehamilan
  • Faktor etnis (ras Hispanic lebih beresiko)
  • Faktor gender (macrosomia lebih banyak dialami bayi laki-laki)
  • Ibu pernah melahirkan bayi berukuran besar sebelumnya.
  • Bayi lahir terlambat, biasanya di atas 40 minggu
  • Faktor genetis dari orang tua yang memiliki tubuh tinggi atau obesitas
  • Konsumsi antibiotik, seperti amoxicillin atau pivampicillin selama masa kehamilan.

Pakar kandungan Edward Kulich, M.D, dari Pregnancy Corner menyebutkan, proses kelahiran bayi dengan macrosomia sebaiknya dilakukan lewat operasi Caesar, seperti dikutip dari ibudanbalita.com.

Kulich menambahkan, meski macrosomia bukanlah kondisi yang mengancam nyawa bayi maupun ibu, namun bahaya jika bayi dilahirkan secara normal.

Bobot bayi yang besar dapat menyebabkan robekan panjang di area perineum ibu dan menimbulkan resiko infeksi.

Oleh karena itu penting bagi ibu hamil rutin memeriksakan kehamilannya, serta melakukan USG agar dapat mengetahui langkah medis selanjutnya dalam persalinan.
Top