Bikin Merinding, Begini Pesan Wabah Virus Kepada Manusia

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 14 May 2020

Satu kesalahan yang membuat wabah semakin ganas.

Sering kita lakukan tanpa sadar, padahal perbuatan seperti ini bisa menyebabkan virus semakin menyebar. Perbuatan seperti apakah itu?

Wabah corona membuat orang menyikapinya dengan berbagai macam sikap, ada yang santai saja, bersabar, waspada dan ada pula yang panik.

Namun ternyata saat menghadapi wabah seperti saat ini, jauhilah sifat panik, karena itu menimbulkan dampak yang kurang baik.

Lalu seperti apakah dampak dari kepanikan itu? dan bagaimana seharusnya kita menghadapi wabah ini?

Panik membuat banyak korban jiwa

Wabah tidak hanya terjadi satu kali, sebelum virus corona beberapa wabah pernah terjadi dan merenggut nyawa.

Dalam menangani wabah ini kita perlu cermati kisah dialog antara seorang waliyullah dan segerombolan wabah tho'un yang diabadikan dalam kitab hilyat Al-Auliya’ fi Thabaqat al-Ashfiya’ karya Abu nu'aim al-asfahani.

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang wali. Ia dianugerahi kelebihan, salah satunya bisa melihat dan berbicara dengan sesuatu yang tak tampak oleh mata manusia biasa.

Orang saleh itu kemudian bertemu dengan rombongan wabah penyakit yang sedang menuju suatu tempat.

Sang wali pun bertanya kepada mereka, "Kalian wabah penyakit akan ke mana?"

"Kami sedang bergerak menuju Damaskus. Kami akan memberikan ujian dan cobaan kepada umat manusia di kota itu dengan cara menjangkiti mereka," jawab si wabah.

"Akan berapa lama kalian di sana?" tanya wali itu.

"Dua tahun."

"Berapa banyak yang akan sakit dan meninggal?"

"Seribu orang," jawab si wabah sambil berlalu meninggalkannya.

Beberapa waktu kemudian, tersiarlah kabar. Penduduk Damaskus panik lantaran kedatangan wabah.

Di antara mereka, ada yang terpapar dan ada yang jatuh sakit. Tak sedikit pula yang meninggal dunia.

Dua tahun kemudian, waliyullah itu kembali berjumpa dengan gerombolan thoun yang sama. Ia pun menanyakan tentang bagaimana sebaran penyakit yang mereka tularkan di Kota Damaskus.

Selain itu, ia juga hendak meminta penjelasan, berapa dari penduduk kota tersebut yang sakit dan meninggal dunia.

Para wabah pun menjawab, jumlah orang yang meninggal karena penyakit sebanyak 50.000 ribu orang.

Sang wali pun tercengang. Ia merasa heran lantaran jumlah korban jiwa ternyata jauh lebih banyak daripada keterangan awal yang mereka sampaikan sebelumnya, yakni seribu orang.

"Ya benar," kata wabah, "Jumlah yang meninggal karena penyakit itu seribu orang. Namun, puluhan ribu orang lainnya itu wafat karena ketakutan melihat penyakit. Mereka takut berlebihan saat melihat orang sakit, orang mati, sehingga hati mereka jatuh pada kepanikan. Akhirnya, mereka pun meninggal dunia," kata wabah menjelaskan nasib 49 ribu orang yang gugur di Damaskus.

Baca Juga: Kapan Wabah Akan Berhenti? Ini Perhitungan Sesuai Sabda Nabi

Hindari panik, jadilah tenang dan sabar

Sakit yang dialami sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh penyakit, namun hal itu bisa datang dari kondisi mental kita.

Inilah teori yang dikemukakan oleh salah seorang ulama terkenal dan ahli di bidang kesehatan, yakni Abu ‘Ali Al Husayn Abdullah Ibnu Sina atau yang dikenal dengan nama Ibnu Sina.

Beliau digelari sebagai bapak kedokteran, di Barat dikenal dengan nama Avicenna. 

Teori yang dikemukakan oleh Ibnu Sina setidaknya memberikan keseimbangan pada teori yang sudah lama berkembang, dan yang dimaksud adalah "di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat"

Atau dalam bahasa Arab teori itu berbunyi:

العقل السليم في الجسم السليم 

Artinya: “Akal yang sehat terdapat dalam badan yang sehat.”

Dalam menghadapi pandemi seperti saat ini, banyak orang yang cemas bahkan panik, padahal hal itu bisa menyebabkan daya tahan tubuh lemah dan rentan terkena penyakit 

Oleh karena itu, Ibnu Sina memberikan tips agar tetap sehat jasmani dan rohani ditengah pandemi virus corona.

Hal ini sesuai dengan apa yang ada di dalam Kitab berjudul ‘Isy Allahzah (Athlas lin Nashri wal Intaji) wal I’lamiy

Pertama, الوهم نصف الداء (Kepanikan adalah separuh penyakit)

Rasa panik timbul akibat kurangnya edukasi dalam menyaring sebuah informasi.

Di saat krisis seperti ini, karena adanya ancaman pandemi virus corona yang mewabah ke seluruh penjuru dunia, maka banyak informasi yang tidak relevan sehingga menimbulkan kepanikan.

Oleh karena itu, harus menjaga diri agar tidak panik, hal itu perlu dilakukan dengan berbagai pendekatan seperti pendekatan teologis dan pendekatan ilmiah rasional.

Agama Islam mengajarkan bahwa dalam menghadapi ini antara Aqidah dan Syariah harus bersinergi, supaya kita mampu menghadapi wabah ini dengan rasa tidak panik.

Berpikir positif, dan selalu yakin bahwa Allah subhanahu wata’ala melindungi kita.

Baca Juga: MUI: Shalat Idul Fitri Boleh Dilakukan di Rumah, ini Ketentuannya

Kedua, والاطمئنان نصف الدواء (Ketenangan adalah separuh obat)

Ibnu Sina menegaskan bahwa perlunya orang memiliki ketenangan jiwa, baik dalam keadaan sakit maupun sehat.

Dalam keadaan sehat orang yang memiliki ketenangan jiwa-lah, yang membawanya terhindar dari berbagai penyakit jasmani maupun rohani. Sebab ketenangan merupakan sebuah benteng, sehingga memiliki imunitas yang kuat.

Al-Quran mengingatkan salah satu kunci ketenangan adalah berdzikir kepada Allah. Berdzikir akan menghasilkan ketenangan batin yang kokoh.

Ketiga, والصبر أول خطوات الشفاء (Kesabaran adalah awal dari kesembuhan)

Kesabaran itu ibaratkan jamu, rasanya memang pahit tetapi berkhasiat bagi kesehatan. Begitu juga dengan buah hasil dari kesabaran adalah manis.

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan dalam pepatah Arab yang berbunyi:

 الصبر كالدواء المر مذاقه سيء ولكن نتائجه جميلة 

Artinya: “Sabar itu seperti obat pahit yang tidak enak rasanya, tetapi hasilnya indah.” 

Jadi inga ya, dalam menghadapi wabah virus corona ini, kita harus dipenuhi kesabaran. Jangan sampai rasa panik membuat kita celaka.

Wallahualam bishawab.