Suamiku Selamat, Kau Telah Berhasil Membuat Wanita Halalmu Mundur Selangkah dari Hatimu, Naudzubillah!

 14 Dec 2018  Satya Aqila P.
Suamiku Selamat, Kau Telah Berhasil Membuat Wanita Halalmu Mundur Selangkah dari Hatimu, Naudzubillah!

Image via Rumahku Istanaku

Kisah nyata, tamparan bagi suami yang menyia-nyiakan wanita halalnya!

Ya, dulu ketika pacaran begitu dipuja-puja, ternyata saat menikah terlihat jelas, suami tidak punya sifat dewasa dan menuntut kesempurnaan.

Aku memilih menikah adalah untuk menghindari lebih banyak dosa yang akan aku lakukan, aku memilih menikah karena permintaan terakhir seorang bapak. Dan aku tak pernah memilih menikah hanya untuk mendengarkan kata kata yang kasar dari seorang imam dalam hidupku.

Yang lebih dari sekali diungkapkan jika “Komunikasi dengamu model apapun akan tidak enak” atau bahkan “Aku sudah tidak kuat lagi dengan rumah tangga kita”.

Jika engkau seorang imam yang amat sangat mengasihi makmummu seperti Rasul kepada istrinya, seperti pertama kau kenal dan kau puji-puji aku, maka kalimat yang meruntuhkan hati istrimu tak akan terlontar.

Apa yang kau lihat saat kita pacaran, kau puji-puji aku dulu? Itu seperti yang kau lihat wanita di sekitarmu yang menarik hatimu saat ini.

Berikan aku alasan agar aku masih bisa menghormatimu sebagai imamku?

Memang, Allah telah menuliskan siapa yang akan menjadi makmum dan imam dalam hidup kita, Allah juga telah menggariskan skenario hidup yang akan kita jalani hingga ajal menjemput.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, saat menamam biji buah, apakah kita mau bersabar merawat, menyirami, menyiangi, memberi pupuk hingga memanen buahnya.

Ataukah pasrah pada hujan, dan cuma berdoa: "Ya Allah, berilah kesuburan dan buah yang lebat pada tanamanku"

Karena itu Allah memberikan pedoman agama, bahkan orang sebusuk Fir'aun pun masih diberikan kesempatan berubah lebih baik.

Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)?” (QS.an-Nazi’at:18)

Baca Juga:

Harusnya kamu sudah tahu, tidak seperti itu ferguso.

Bukankah sudah jelas, Allah memberikan petunjuk dalam surah Ar Rad ayat 11.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra'd:11).

Jadi jika Allah memberikanmu, materi maka syukurilah, jika memberikanmu istri maka syukurilah, bimbinglah tulang rusukmu yang bengkok itu dengan kelembutan hati, sesabar petani menanti tumbuhnya biji, sabar menyirami, sabar menyiangi, memupuk, mengawasi tiap helai daun tanamanya dari hama, hingga tiba masanya Allah memberikan rezeki buah-buah yang lebat dan bergizi.

Iya buah...

Buah keluarga sakinah dimana rumah penuh kedamain, yang mawadah penuh cinta dan warohmah saling mengasihi serta menyanyangi hingga kelak ajal menjemput.

Tapi apa yang telah kau lakukan pada wanita halalmu ini. Tidakkah kau sadar, begitu kerasnya kau meluruskan tulang rusukmu yang bengkok ini sampai retak.

Imamku,

Terimakasih kau telah membuat wanita halalmu mundur selangkah dari hatimu.

Allah, nampaknya memperlihatkan siapa sejatinya dirimu dengan cara yang begitu jelas di mata dan begitu menyakitkan hati.

Sekuat dan setabah apapun hati seorang makmum yang engkau pilih, hatinya tetap hati wanita yang kodratnya lembut dan mudah patah, hanya satu kalimat tentang “materi dalam rumah tangga yang kamu ucapkan”.

Kau bicara masalah harta pada wanita yang belum 2 genap tahun kau halalkan tanpa nafkah?

Satu yang menjadi pertanyaanku menjelang akad, jika waktu itu kau tidak berani halalkan aku, lantas apa dengan pacaran tanpa arah yang jelas tidak menambah dosa zinamu?

Jika waktu itu kau tidak siap menjadi imamku, kenapa tidak bilang pada wanitamu yang terpaut 7 tahun lebih muda darimu, yang membutuhkan sosok dewasa, bukan sifat kekanak-kanakan bayi tua seperti dirimu.

Aku memang bukan keturunan ningrat, tapi Bapakku selalu menanamkan rasa bersyukur yang tinggi dalam setiap kondisi.

Bapak yang bersusah payah tak kenal terik matahari, kerja siang malam, mendidik putri kecilnya hingga mendapat gelar Sarjana Pendidikan.

Bapak Ibu yang rela makan lauk garam, asal anaknya bisa bayar kuliah, karena niat mereka cuma ingin mewariskan ilmu untuk anak-anaknya.

Sama dengan usia pernikahan kita beliau tak lagi ku dengar suaranya.

Tepat, sehari setelah aku halal menjadi wanitamu, Beliau dipanggil Yang Maha Kuasa, bagaimana aku bisa lupa didikan Bapak yang selalu mengajarkan rasa syukur.

Beruntung saat ini masih ada seorang kakak yang membuat tawa dan tangis kebahagiaan di masa kecilku dulu.

Yang masih setia hingga saat ini menyayangiku, mungkin beban pikiranya jauh lebih berat dari bayanganku, semenjak kepergian Bapak.

Yang aku sayangkan, betapa sepelenya kau anggap sakralnya ijab qobul di depan para saksi.

Bahkan kau tak menganggap sama sekali, pengorbanan keluarga yang ikhlas menyerahkan putri kecilnya ini, mempercayakan kamu sebagai imam.

Gadis kecil yang telah dirawat mereka lebih dari 20 tahun lamanya. 2 tahun seorang Ayah menyandang sakitnya, hingga sampai pada satu titik, seorang bapak yang sudah mendekati pintu surgaNya, meminta gadis kecilnya untuk menikah.

Tahukah engkau suamiku, aku menjatuhkan hati dan sisa hidupku bersamamu bukan karena rupa yang engkau miliki, bukan karena harta yang kau punya, tapi aku melihat betapa sayangnya engkau pada ibumu. Akupun berharap engkau menghargai kondisiku dan menyayangiku sebagai istrimu.

Memang belum genap 2 tahun, waktu itu seolah kau dipaksa menghalalkan aku dan akupun tak pernah mengungkit nafkah lahir yang tak kunjung engkau berikan. Aku tak pernah meminta jatah bulanan.

Kau pikir semudah itu jadi suami, tahukah kamu isi surah Al Baqarah ayat 233.

Para ibu (istri) hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara ma'ruf. Seorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.

Itu wajib suamiku, meski tidak berjuta- juta, 300 ribu juga dihitung nafkah, meskipun tak cukup buat makan. Karena Allah tak memaksa, tinggal niat mu saja.

Jangan-jangan kau tak pernah baca buku nikah kita.

Jangan-jangan kau tidak tahu Sighat Ta’lik ya? Waduh!!!!

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Sesudah akad nikah, saya :

………………………………………. bin ……………………………………. berjanji dengan sesungguh hati bahwa saya akan mempergauli istri saya yang bernama : ………………………….. binti ……………………………….. dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam.

Kepada istri saya tersebut saya menyatakan sighat ta’lik sebagai berikut :

Apabila saya :

1. Meninggalkan istri saya selama 2 (dua) tahun berturut-turut;

2. Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;

3. Menyakiti badan atau jasmani istri saya;

4. Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya selama 6 (enam) bulan atau lebih,

Dan karena perbuatan saya tersebut, istri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut kemudian istri saya membayar uang sebesar Rp. 10,000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai ‘iwadl (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya.

Kepada Pengadilan Agama saya memberikan kuasa untuk menerima uang ‘iwadl (pengganti) tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional setempat untuk keperluan ibadah sosial.

Mojokerto, ………………………. 2016

Suami,

(………………………)

WA AUFUU BIL ‘AHDI INNAL ‘AHDA KAANA MAS’UULAA

وَأَوْفُواْ بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً

“ Tepatilah janjimu, sesungguhnya janji itu kelak akan dituntut.”

Apa aku pernah menuntutmu suamiku?

Meskipun aku tak banyak membantu kondisi ekomoni keluarga kecil kita, tapi pernahkan kau menghitung jumlah rupiah seorang istri yang tak kau nafkahi untuk membantumu mengurangi beban tanggunganmu.

Jika engkau menemukan wanita lain yang seperti itu, bahkan jauh lebih bisa menerima kondisimu dari titik terendah saat ini, maka katakan kepadaku. Karena kamu berhasil membuat diriku satu langkah menjauh darimu, karena sepatah kalimatmu yang mengungkit sebuah materi.

Suamiku, aku menghormatimu jauh lebih dari semua orang yang kamu pimpin. Hanya aku memohon, jangan membuat luka di hati gadis kecil yang sudah kau Halalkan di depan seorang Ayah yang sekarat bertahan hidup hanya untuk mempercayakanku kepadamu. Aku hanya ingin tersenyum tanpa ada kalimat yang meruntuhkan hatiku.

Wahai suami, hargailah seorang wanita yang menyisakan sisa hidupnya untukmu. Menikah tak sebercanda itu, menikah itu tentang saling mengisi, menghargai, dan memahami kondisi satu sama lain.

Karena jika engkau telah menghalalkanya, maka dia “Istrimu” telah menjadi tanggung jawabmu hingga dosa yang istrimu lakukan, maka jika tak ingin rumahmu suram berikan kebahagiaan, bukan luka hanya karena harta.

Pesan buat para suami dari kisah diatas adalah, saat Anda menyukai seorang wanita Anda ingin menikahinya, lalu saat sudah menikah ada saja hal yang tak disukai, lalu ingin berpisah, karena melihat wanita lain tertarik seperti saat pacaran dulu dengan istrinya, kemudian menikahlah dengan wanita kedua tadi. 

Dan terjadilah pertengkaran lagi dalam rumah tangga, begitu akan terulang seterusnya, dengan berbagai masalah yang berbeda. Karena manusia diciptakan untuk diuji. Bukan menerima kesempurnaan pasangannya, tapi melengkapi kekuranganya.