Salah Kaprah Ajaran "Jangan Makan Sambil Ngomong, Nanti Makanannya Dihabiskan Setan"

Komentar

Gambar ilustrasi diolah via kompas.com

Sering mendengar larangan makan sambil berbicara?

Waktu kecil dulu mungkin banyak diantara kita, jika sedang makan maka dilarang berbicara oleh orang tua, katanya "nanti makanannya dimakan setan".

Benarkah makan sambil bicara/ berbincang tidak boleh?

Masih menjadi pertentangan memang tentang masalah makan sambil bicara boleh apa tidak.

Dari segi medis, dr. Zainal Adhim, Sp. THT KL, Ph.D menjelaskan jika itu memiliki hubungan dan alasan yang kuat.

"Secara ilmiah, jalan napas dam pencernaan makanan akan menjadi satu ketika ada di tenggorokan," kata dokter spesialis tenggorokan RS Pondok Indah-Pondok Indah dalam diskus "Waspadai Suara Serak", seperti dilansir dari republika.co.id.

Ketika makan sambil berbicara yang dikhawatirkan saluran tersebut akan bingung untuk memilih, mana yang makanan atau udara. Akan berbahaya jika makanan yang dikonsumsi masuk dalam untuk jalan pernapasan.

Hal yang bisa terjadi ketika makanan masuk jalan pernapasan akan menyumbat dan membuat sesak napas. Apalagi jika setelah terjadi sesak itu tidak ditindaklanjuti secara cepat, akan sangat berbahaya.

Tapi, dr. Zainal menjelaskan, mekanisme tubuh manusia diatur sedemikan rupa agar saling menjaga. Sehingga, sering kali saat makanan terpilih masuk saluran pernapasan akan disaring kembali sebelum masuk paru-paru.

Dengan begitu makanan akan diarahkan kembali ke saluran pencernaan untuk diolah.

Lantas bagaimana hukumnya makan sambil bicara/ berbincang menurut islam?

Sunnah Berbincang-Bincang Ketika Makan.

Sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta istrinya untuk diambilkan lauk. Namun kata mereka, ‘Kami tidak punya lauk apapun selain cuka.’

Beliau tetap minta diambilkan cuka, dan makan dengan lauk cuka dan mengatakan,

نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ ، نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ

Sebaik-baik lauk adalah cuka… sebaik-baik lauk adalah cuka… (HR. Muslim 2052)

An-Nawawi menjelaskan hadis di atas,

وَفِيهِ اِسْتِحْبَاب الْحَدِيث عَلَى الْأَكْل تَأْنِيسًا لِلْآكِلِينَ

Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk berbicara ketika makan, untuk membuat suasana akrab bagi orang-orang yang ikut makan. (Syarh Shahih Muslim, 7/14)

Baca Juga: "Bukan Kerasnya Tangan Ayah, Bukan Sakitnya Cubitan Ibu" Ini yang Menghancurkan Anakmu

Berdasarkan hadis ini, para ulama menganjurkan untuk berbicara ketika makan.

Terutama pembicaraan yang isinya pujian terhadap makanan dan pujian kepada Allah yang memberi makan

Ibnul Muflih menyebutkan keteragan Ishaq bin Ibrahim,

تعشيت مرة أنا وأبو عبد الله وقرابة له فجعلنا لا نتكلم وهو يأكل ويقول الحمد لله وبسم الله، ثم قال أكل وحمد خير من أكل وصمت ولم أجد عن أحمد خلاف هذه الرواية صريحا ولم أجدها في كلام أكثر الأصحاب، والظاهر أن أحمد – رحمه الله – اتبع الأثر في ذلك فإن من طريقته وعادته تحري الاتباع

“Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan,

“Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.” Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas. Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.” (Adab Syariyyah, 3/177).

Keterangan yang lain disampaikan Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar,

بابُ استحباب الكَلامِ على الطَّعام.  فيه حديث جابر الذي قدَّمناه في ” باب مدح الطعام “.قال الإِمام أبو حامد الغزالي في ” الإِحياء ” من آداب الطعام أن يتحدَّثوا في حال أكله بالمعروف، ويتحدّثوا بحكايات الصالحين في الأطعمة وغيرها

“Dianjurkan berbicara ketika makan. Berkenaan dengan ini terdapat sebuah hadits yang dibawakan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam sub “Bab memuji makanan”. Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab al-Ihya mengatakan bahwa termasuk etika makan ialah membicarakan hal-hal yang baik sambil makan, membicarakan kisah orang-orang yang shalih dalam makanan.” (al-Adzkar, hlm. 234)

Allahu a’lam.
Top