Mengapa Istri Cenderung Susah ke "Puncak"? ini Jawabannya

Komentar


Iya kenapa sih, istriku susah ke "puncak"?

Sebelumnya yang belum cukup umur jangan membaca

Mungkin sebagian dari para suami pernah mengalami hal demikian, dimana sang isti cenderung susah sampai "puncak", ini juga bisa mempengaruhi hubungan loh. Para isti wajib tahu.

Dalam hubungan suami istri, jika suami secara teknis mudah dalam cara pengukurannya, tidak demikian dengan pihak istri.

Baca juga : Sakit Rindu yang Sangat Menggelora, Begini Cara Atasinya Agar Tak Terjerumus Pada Dosa

Ada banyak faktor non-teknis yang memengaruhinya.

Sulit ke puncak sering sekali terjadi pada istri.

Istri dengan gangguan s3ksual seperti ini tidak mampu merasakan kenikmatan hubungan yang semestinya dirasakan dalam berhubungan badan dengan suaminya, sehingga dia melakukannya hanya sebatas kewajiban saja sebagai seorang istri.

Tentunya ini bisa menjadi suatu hal yang merugikan salah satu pihak.

Sekali lagi, pikiran berperan sangat penting dalam gairah dan kemampuan mencapai pucak saat berjima.

Seorang istri harus benar-benar santai dan berada dalam momen bisa mencapai puncak kenikmatan sehingga istri tak akan pernah mencapai puncak jika fokus pada hal lain.

Jadi ketika sudah memasuki “jadwal”, hendaknya pihak istri merenungkan hal positif.

Beban kapan mencapai puncak

Ini adalah salah satu pembunuh terbesar bagi seorang istri di tempat tidur.

Alih-alih menikmati momen berdua bersama suami, istri juga tampaknya lebih banyak berpikir tentang waktu dan berapa lama yang dibutuhkan untuk mencapai puncak.

Jima bukan sekadar kewajiban dan kebutuhan.

Seperti ajaran Islam, jima juga menjadi rekreasi, istri menjadi pelipur hati suami, dan begitu pula sebaliknya.

Jadi para istri, berbahagialah dengan suami Anda!

Baca juga : Kisah Sedih Nasib Wanita yang Tak Dianggap Keluarga Karena Aturan Tak Membolehkan Punya Anak Wanita

Sekali lagi, pikiran berperan sangat penting dalam gairah dan kemampuan mencapai pucak saat berjima.

Seorang istri harus benar-benar santai dan berada dalam momen bisa mencapai puncak kenikmatan sehingga istri tak akan pernah mencapai puncak jika fokus pada hal lain.

Jadi ketika sudah memasuki “jadwal”, hendaknya pihak istri merenungkan hal positif.

Beban kapan mencapai puncak

Ini adalah salah satu pembunuh terbesar bagi seorang istri di tempat tidur.

Alih-alih menikmati momen berdua bersama suami, istri juga tampaknya lebih banyak berpikir tentang waktu dan berapa lama yang dibutuhkan untuk mencapai puncak.

Jima bukan sekadar kewajiban dan kebutuhan.

Seperti ajaran Islam, jima juga menjadi rekreasi, istri menjadi pelipur hati suami, dan begitu pula sebaliknya. Jadi para istri, berbahagialah dengan suami Anda!

Top