Jadi Orangtua Single? Tak Perlu Merasa Bersalah Kepada Anak Karena "Sedang" Sendiri


Bagi sebagian orang, keluarga yang sempurna ialah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan anak-anak mereka. Menjadi bagian dari sebuah keluarga yang sempuran memang sangat diidamkan oleh semua orang. Akan tetapi, cobaan ataupun masalah kerap terjadi. Sehingga memaksa seseorang untuk menjadi bukan bagian dari keluarga lengkap. Mengenai keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, seringkali membuat para orang tua tunggal menjadi bimbang dengan kondisinya saat ini.

Baca juga : Kartu Identitas Anak, Sarana Pemantauan yang Mirip Seperti KTP, Ini Dia Penampakannya!

Walaupun telah berusaha sebaik mungkin, terkadang seorang orangtua tunggal khususnya ibu (single mother), tetap dihantui oleh rasa bersalah kepada buah hatinya. Alasannya banyak, mulai dari berkurangnya waktu untuk anak, keterbatasan finansial, hingga ketidakhadiran sosok ayah dalam rumah tangga. Ayah layaknya sebuah tiang penopang keluarga yang mampu mengatasi badai dari segala penjuru. Namun jika tiang tersebut tak ada, maka ibulah yang terpakasa harus menggantikannya.

Akan tetapi, psikolog dan pendiri Personal Growth, Ratih Ibrahim, menyarankan kepada para ibu tunggal untuk berhenti merasa bersalah. Ratih berkata bahwa rasa bersalah pada ibu tunggal biasanya berpulang pada alasan dan kemampuannya menjadi ibu tunggal.

“Apa kontribusi si ibu terhadap kondisi single mother-nya, dan kemampuan dia berfungsi optimal sebagai seorang single mother,” tulisnya.


Baca juga : Ini Dia Cara Atasi Si Kecil yang Galak, Jangan Sampai Kecolongan Karena Perlakuan Kasar Orang Lain!

Lebih dari itu, ternyata rasa bersalah juga dapat muncul dalam hati pasangan yang lengkap. Ratih menjelaskan, rasa bersalah kerap muncul ketika seseorang merasa tidak sempurna sebagai orangtua.

“Dasarnya adalah dorongan untuk mengupayakan yang terbaik bagi sang anak,” tulisnya.

Meskipun demikian, Ratih juga ingin memperingatkan beberapa orang yang berkarakteristik lebay untuk tidak membesar-besarkan rasa ketidaksempurnaan ini demi mendapatkan belas kasihan, perhatian, ataupun perlakuan istimewa dari orang lain.

“Daripada dihantui rasa bersalah, lalu menghambat fungsi dia sebagai ibu, bukankah akan lebih baik jika berusaha saja sekuat tenaga mengimbangi kondisi sebagai ibu tunggal untuk anak-anaknya?” ujar Ratih.
Top